Kesempatan langka sebagai tamu kehormatan di pameran akbar itu dimiliki Indonesia pada 13-18 Oktober mendatang. Namun acara ini bukan sekadar pameran buku, tapi juga sebuah ajang untuk pameran peradaban.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Apa yang kita harapkan dari Indonesia adalah keterbukaan, 120 negara akan mengikuti ajang ini, kami ingin melihat apa yang berbeda dari Indonesia, apa yang terjadi di Indonesia saat ini, apa yang akan terjadi di Indonesia di masa depan.” Ini bukan sekedar ajang menampilkan budaya tapi juga untuk saling bertukar budaya, katanya.
Pertunjukan kebudayaan Indonesia tidak hanya ditampilkan pada puncak acara Oktober mendatang. Sejak Maret banyak festival di Jerman yang akan diikuti oleh Indonesia.
“Agustus nanti ada festival di tepi Sungai Main, itu adalah festival terbesar di Eropa, tiga juta orang akan hadir di sana. Ruangan sebesar 800 meter sudah ada untuk Indonesia yang akan kita isi,” ucap sastrawan kenamaan Indonesia itu.
Selain itu, selaku ketua panitia Goenawan berkata jika mereka merencanakan sejumlah kegiatan lain. Seperti pameran naskah kuno, arsitektur, fotografi, festival film, pertunjukan seni tradisi dan kontemporer, serta acara seminar tentang perkembangan peradaban Indonesia.
“Kami juga akan memamerkan karya instalasi bambu dari Joko Dwi Avianto, fotografi oleh Oscar Matuloh, tarian oleh Eko Supriyanto, serta karya mural,” ucap Goenawan.
Saking pentingnya Pameran Buku Frankfurt ini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengalirkan anggaran besar untuk acara ini. “Anggaran sebesar 10 juta Euro dari Diknas,” kata Ainun Na'im Sekjen Kemendikbud.
Jumlah anggaran tersebut atau dikonversikan ke dalam rupiah adalah sekitar Rp 146 miliar. Selain pemerintah, banyak pula pihak swasta yang turut membantu. “Ada yang menarik pada Festival Buku Frankfurt 2014. Biasanya penerbit kita yang membeli copyright, tapi kemarin sudah mulai dibeli oleh penerbit internasional,” kata Ainun.
(win/vga)