Film dokumenter berdurasi 56 menit ini mengisahkan perjalanan guru bernama Derrick Evans dari Boston. Suatu kali, ia harus pulang ke kampung halaman di Mississippi guna mengurusi permasalahan makam leluhurnya yang terancam digusur.
Yang menyenangkan, moviegoer di Indonesia berkesempatan menonton film ini di acara bertajuk American Film Showcase (AFS). Acara tahunan yang diselenggarakan oleh Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta ini berlangsung pada 16-25 April 2015.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menonton Come Hell or High Water, kita bisa merasakan perjuangan Mahan menggarap film selama 12 tahun dan merangkumnya dalam film dokumenter berdurasi satu jam. Gaya penuturan film ini tak ubahnya ulasan National Geographic.
[Gambas:Youtube]
Selain menggambarkan peliknya konflik yang dialami Evans melawan penguasa kota yang serakah, film yang tuntas diproduksi pada 2013 ini, juga menyoroti perjuangan Evans dan penduduk Mississippi bertahan serta bangkit dari amukan Badai Katrina yang terjadi beberapa tahun silam.
Mahan membuat alur yang cukup mudah dipahami penonton yang tidak biasa menikmati film dokumenter. Agar penonton lebih mudah memahami persoalan yang menjadi inti cerita film ini, ia menambahkan narasi dan pernyataan dari berbagai pihak.
"Tadinya saya ingin menuntaskan film ini saat terjadinya Badai Katrina, namun pada akhirnya saya merasa hal tersebut masih dapat saya teruskan," kata Mahan kepada CNN Indonesia di Kedubes AS, pada hari ini (15/4). "Saya mencoba konsisten pada cerita yang ingin saya sampaikan, itu yang membuat saya bertahan."
Sutradara nomine Outstanding Directorial Achievement dari Directors Guild of America ini membuat penonton seolah menyimak album kenangan, meskipun kadang berisikan isak tangis dan kengerian dari amukan Badai Katrina.
Satu hal yang perlu dipelajari dari sineas di Indonesia dari Mahan adalah kelihaian wanita ini merekam emosi putus asa dari para pemeran tanpa berlebihan. Film ini terbilang berkualitas dan patut menjadi contoh dari para film maker.
Mahan memang sanggup membuat film yang bagus, namun ia pun butuh usaha lebih untuk membuat penonton Indonesia betah menonton dan menyimak narasi dokumenter yang ia sajikan. Inilah tantangan semua sineas: bikin film yang tidak bikin jenuh.
Dari kiri ke kanan: Sutradara film Leah Mahan; Duta Besar AS untuk Indonesia Robert O Blake Jr; Sutradara nomine Oscars Irene Taylor-Brodsky, ketika pembukaan American Film Showcase 2015 di US Embassy Residence Jakarta Pusat (15/4). (CNNIndonesia/Endro Priherdityo) |
(vga/vga)
Dari kiri ke kanan: Sutradara film Leah Mahan; Duta Besar AS untuk Indonesia Robert O Blake Jr; Sutradara nomine Oscars Irene Taylor-Brodsky, ketika pembukaan American Film Showcase 2015 di US Embassy Residence Jakarta Pusat (15/4). (CNNIndonesia/Endro Priherdityo)