Film Dokumenter yang Digarap 12 Tahun Diputar di Indonesia

Endro Priherdityo , CNN Indonesia | Kamis, 16/04/2015 16:55 WIB
Film Dokumenter yang Digarap 12 Tahun Diputar di Indonesia Come Hell or High Water: The Battle for Turkey Creek, film dokumenter karya Leah Mahan. (Dok. www.leahmahan.com)
Jakarta, CNN Indonesia -- Boyhood bukan satu-satunya film yang digarap selama 12 tahun. Richard Linklater punya “pesaing” yaitu Leah Mahan, sutradara film berjudul panjang, Come Hell or High Water: The Battle for Turkey Creek, yang juga dibuat selama 12 tahun.

Film dokumenter berdurasi 56 menit ini mengisahkan perjalanan guru bernama Derrick Evans dari Boston. Suatu kali, ia harus pulang ke kampung halaman di Mississippi guna mengurusi permasalahan makam leluhurnya yang terancam digusur.

Yang menyenangkan, moviegoer di Indonesia berkesempatan menonton film ini di acara bertajuk American Film Showcase (AFS). Acara tahunan yang diselenggarakan oleh Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta ini berlangsung pada 16-25 April 2015.

AFS digelar di sejumlah lokasi. Di Jakarta, AFS diadakan di @America, Pasific Place lantai 3, Jalan Jenderal Sudirman. Selain itu, AFS juga dilaksanakan di kota lain, Bandung, Kendari, Medan, Aceh, dan Padang. Tanpa dipungut biaya.

Menonton Come Hell or High Water, kita bisa merasakan perjuangan Mahan menggarap film selama 12 tahun dan merangkumnya dalam film dokumenter berdurasi satu jam. Gaya penuturan film ini tak ubahnya ulasan National Geographic.

[Gambas:Youtube]

Come Hell or High Water menuturkan lapis demi lapis permasalahan yang dialami Evans di kampung halamannya. Bukan hanya ancaman penggusuran akibat pembangunan kota Gulfport, tetapi juga ancaman politis dari para korporat dan pemerintah setempat seiring berbagai bencana alam akibat ulah manusia.

Selain menggambarkan peliknya konflik yang dialami Evans melawan penguasa kota yang serakah, film yang tuntas diproduksi pada 2013 ini, juga menyoroti perjuangan Evans dan penduduk Mississippi bertahan serta bangkit dari amukan Badai Katrina yang terjadi beberapa tahun silam.

Mahan membuat alur yang cukup mudah dipahami penonton yang tidak biasa menikmati film dokumenter. Agar penonton lebih mudah memahami persoalan yang menjadi inti cerita film ini, ia menambahkan narasi dan pernyataan dari berbagai pihak.

Memang bukan hal mudah menggambarkan 12 tahun masa produksi film ini menjadi tayangan berdurasi kurang dari satu jam. Namun segala perkembangan yang terjadi dalam 12 tahun direkam oleh Mahan secara lembut, alami, dan tidak terkesan dipaksakan.

"Tadinya saya ingin menuntaskan film ini saat terjadinya Badai Katrina, namun pada akhirnya saya merasa hal tersebut masih dapat saya teruskan," kata Mahan kepada CNN Indonesia di Kedubes AS, pada hari ini (15/4). "Saya mencoba konsisten pada cerita yang ingin saya sampaikan, itu yang membuat saya bertahan."

Sutradara nomine Outstanding Directorial Achievement dari Directors Guild of America ini membuat penonton seolah menyimak album kenangan, meskipun kadang berisikan isak tangis dan kengerian dari amukan Badai Katrina.

Satu hal yang perlu dipelajari dari sineas di Indonesia dari Mahan adalah kelihaian wanita ini merekam emosi putus asa dari para pemeran tanpa berlebihan. Film ini terbilang berkualitas dan patut menjadi contoh dari para film maker.

Mahan memang sanggup membuat film yang bagus, namun ia pun butuh usaha lebih untuk membuat penonton Indonesia betah menonton dan menyimak narasi dokumenter yang ia sajikan. Inilah tantangan semua sineas: bikin film yang tidak bikin jenuh.

Dari kiri ke kanan: Sutradara film Leah Mahan; Duta Besar AS untuk Indonesia Robert O Blake Jr; Sutradara nomine Oscars Irene Taylor-Brodsky, ketika pembukaan American Film Showcase 2015 di US Embassy Residence Jakarta Pusat (15/4). (CNNIndonesia/Endro Priherdityo)