Sutradara Film 'Epen Cupen' Tampilkan Bakat Insan Papua

Ardita Mustafa, CNN Indonesia | Kamis, 14/05/2015 17:40 WIB
Sutradara Film 'Epen Cupen' Tampilkan Bakat Insan Papua Adegan film Epen Cupen yang mengocok perut. (CNNIndonesia Free Watermark/Dok. Rapi Films)
Jakarta, CNN Indonesia -- Dulu orang bisa tertawa hanya dengan menyaksikan film bisu berwarna hitam-putih Charlie Caplin. Kini, orang juga bisa tertawa hanya dengan melihat gambar-gambar di meme.

Format komedi sudah sangat berkembang. Apalagi semenjak Indonesia dilanda gelombang reformasi, semua hal rasanya bisa dijadikan bahan tertawaan.

Di tengah hiruk pikuk dunia hiburan yang berbasis di Pulau Jawa, sutradara Irham Acho Bahtiar, berhasil mendaki gunung dan melewati lembah untuk memberitahu kepada 250 juta penduduk Indonesia bahwa insan Papua juga pantas untuk tampil di atas panggung seni.


Tahun ini, alumnus Jurusan Sinematografi di Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta tahun 1994 itu membuktikannya lewat film berjudul Epen Cupen yang telah tayang di bioskop sejak kemarin (13/5).

Epen Cupen mengisahkan pertemuan pemuda asal Papua (diperankan oleh Celo) dengan pemuda asal Medan (diperankan oleh Babe Cabita) yang mengalami petualangan di Jakarta.

Di film ini, Acho memang mati-matian mempromosikan kota asalnya. Ia mengaku, lawakan Papua sama menghiburnya dengan lawakan ala Pulau Jawa.

Acho menyebut, kalau beberapa tahun terakhir ini di Jakarta sedang populer format komedi bernama stand-up comedy, di Papua sudah lebih dulu ada format komedi bernama mop papua.

Dikutip dari tulisan Acho di laman blog-nya, mop Papua adalah budaya turun temurun yang dituturkan atau dituliskan untuk bahan hiburan yang lucu.

Konon, mop diperkenalkan ke Indonesia oleh bangsa Belanda saat zaman penjajahan. Lama kelamaan kebiasaan ini membudaya, khususnya di Papua.

Berbeda dengan stand-up comedy yang membicarakan banyak tema, mop berisi kisah-kisah pribadi. Biasa digelar dalam sebuah acara api unggun, mop akan terasa lebih lucu apabila yang menuturkannya juga lucu.

Budaya mop inilah yang menjadi ramuan rahasia Acho dalam mengemas film Epen Cupen. Sebelum merilis film ini, mop sudah ia modernisasi menjadi serial di YouTube, pada 2010, yang sampai saat ini telah ditonton oleh jutaan orang.

"Saya ingin sekali mengangkat keunikan Papua. Di sana banyak bakat-bakat baru yang nyatanya mampu mewarnai dunia hiburan Indonesia, yang saat ini sedang mengalami kejenuhan," kata Acho kepada CNN Indonesia, pada Selasa (13/5).

Nasionalisasi Film

Diproduksi selama satu bulan di Merauke dan Jakarta, film Epen Cupen ternyata tidak 100 persen sama dengan serial Youtube-nya, meski sama-sama lucu.

Acho mengatakan, kalau ia memang menerima "sedikit" tuntutan untuk menasionalkan filmnya.

"Banyak yang menyayangkan kalau filmnya tidak 100 persen tentang Papua. Tapi saya diberitahu kalau mau sukses se-nasional filmnya memang harus ada adegan Jakarta-nya. Mungkin agar bahasa film-nya universal," ujar Acho

"Dilematis sih, tapi saya harus kompromi juga dengan pasar. Kalau film ini laku dan dibuatkan sekuelnya, saya berjanji untuk membuatnya 100 persen Papua," lanjutnya sambil tersenyum.

Sama seperti Celo dan Babe yang mengalami banyak kesulitan selama syuting, Acho pun juga demikian.

Selain menjadi sutradara dan penulis naskah, Acho juga menjadi kuncen agar proses produksi film Epen Cupen berlangsung dengan baik.

"Saya berani mengangkat cerita tentang Papua karena saya paham mengenai kultur di sana. Contohnya, komedi Papua tuh lebih banyak menggunakan mimik wajah," kata Acho.

"Saya tahu di mana letak lucunya jika unsur Papua ini dan itu dimasukkan. Saya juga kebagian tugas untuk menertibkan penonton dadakan saat syuting di Merauke berlangsung," lanjutnya.

Menjaga mood Celo pun merupakan salah satu kewajiban Acho. Bagi Acho, Celo memiliki pribadi yang sangat Papua: bersemangat dan keras.

"Keras di sini bukan berarti suka marah-marah. Celo itu idealis. Dia kalau enggak diajak ngomong, ya enggak ngomong. Mungkin belum terbiasa bergaul ala Jakarta. Tapi dia banyak teman baru selama syuting, dan sedikit demi sedikit mulai bisa membaur," ujar Acho.

Ditanya apa ramuan lain yang membuat film Epen Cupen layak tonton, Acho tampak kehabisan jawaban dan mengatakan kalau semua yang ia hasilkan merupakan keberuntungan.

"Bagi saya pribadi, membuat film lucu tidak perlu berlebihan. Banyak adegan di film Epen Cupen yang saya potong, karena rasanya akan terlalu sering membuat penonton tertawa hingga bosan," kata Acho menutup pembicaraan.

(ard/vga)