Selain Paris sendiri merupakan eksportir film terbesar ke-dua setelah Amerika Serikat, ia juga menjadi destinasi terlaris untuk produksi film asing. Coba hitung berapa banyak film yang berlatarkan Eiffel. Serial televisi Indonesia pun sampai jauh-jauh datang ke sana.
Olga Lydia, salah satu selebriti Indonesia yang beberapa waktu lalu ke Paris sebagai perwakilan sinema dalam Cannes Film Festival, menyadari itu. "Bisa dibayangkan berapa dana yang harus dikeluarkan bila pasang iklan di channel televisi dunia, bahkan untuk 30 detik saja," tulisnya dalam laporan dari Cannes.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Satu hal yang sering kita lewatkan adalah betapa erat hubungan antara film dan pariwisata," tutur Olga. Sebagai perwakilan Indonesia di Cannes, ia dan tim melakukan pendekatan dengan banyak negara asing.
"Asal, kurang lebih 60 menit menampilkan negara mereka," ujar Olga menambahkan.
Indonesia punya sumber daya yang nyaris tak terhingga untuk dipamerkan. Seharusnya, kita juga bisa melakukan itu. Selain itu, menurut Olga, kekuatan Indonesia juga ada pada keramahan dan variasi kuliner Nusantara.
Rendang yang disajikan setelah pemutaran film Tabula Rasa pada hari ke-dua Cannes Film Festival misalnya, sangat diminati. Dua ratus porsi ludes. Orang asing juga menyukai kopi khas Indonesia yang sengaja dibawa untuk mengiringi perjalanan film Filosofi Kopi.
"Kadang setelah meeting dengan beberapa produser mereka mampir (ke booth Indonesian Cinema) beberapa kali sekadar duduk ngobrol dan minum kopi," Olga bercerita. Bahkan, tak sedikit yang meminta untuk membawanya pulang.
"Jadi booth Indonesia lumayan populer. Karena ramah, dan ada kopi yang enak," kata Olga.
Olga yakin film dapat menjadi soft power Indonesia untuk menarik minat asing, baik itu turis maupun siswa. Perancis, Amerika Serikat, dan Korea Selatan telah menerapkannya. Budaya mereka telah meresap ke generasi Indonesia.
"Saya percaya, film adalah ujung tombak untuk maju dan menawarkan Indonesian Pop pada dunia!" ujar Olga menegaskan dengan yakin. Kalau memang mau begitu, film Indonesia seharusnya memakai latar negeri sendiri, lalu memperjuangkan filmnya ke festival asing.
Artinya, kita perlu lebih banyak film seperti Laskar Pelangi, Denias Senandung di Atas Awan, Mirror Never Lies, Pendekar Tongkat Emas, atau Java Heat.
(rsa/rsa)