Liukan Indah Balet dalam Corak Tradisional Indonesia

Rizky Sekar Afrisia, CNN Indonesia | Minggu, 14/06/2015 11:42 WIB
Pertunjukan tari balet Burung Belatik disajikan di Tugu Kunstkring, Jakarta, dalam corak tradisional, dari lagu, musik sampai busananya. Untuk pertama kalinya tari balet fenomenal Suzie Wong dipentaskan di Jakarta, di Tugu Kunstkring (13/6). (CNNIndonesia/Rizky Sekar Afrisia)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sekitar 1920-an, Kunstkring merupakan pusat seni. Ada sebuah galeri yang didirikan kolonial Belanda, yang kini bernama Tugu Kunstkring, sering mengundang seniman-seniman asing. Pelukis Van Gogh misalnya, pernah menginjakkan kaki di sana. Begitu pula balerina Anna Pavlova.

Pada Sabtu (13/6), Kunstkring menyegarkan kembali memoar seni itu melalui pertunjukan balet. Dihadiri secara terbatas, bersama Ballet.id dan disponsori Qatar Airways, galeri seni itu menghadirkan liukan indah balerina Indonesia dalam tiga babak.

Pertama, tari The Nutcracker yang dipentaskan oleh penari Michael Halim dan Resti Oktaviani. Mereka melakukan gerakan The Nutcracker persis seperti yang pernah dilakukan pebalet Inggris, Margot Fonteyn. Itu merupakan salah satu tarian balet paling terkenal dan fenomenal.
The Nutcracker pertama kali dipentaskan, pada 1892. Tarian itu merupakan adaptasi dari cerita E.T.A. Hoffman yang berjudul The Nutcracker and the Mouse King. Pertama dipentaskan, tarian itu tidak sukses. Baru pada 1960-an ia menjadi fenomena dan membuat tiket pertunjukan balet ludes terjual.


Dua penari Indonesia, Michael dan Resti bisa mementaskannya dengan sama persis. Gerakannya indah, meski jika dilihat jelas beberapa kali mereka tampak gemetar.

Babak tari ke-dua adalah balet Indonesia. Kalau selama ini tarian itu identik dengan angsa atau peri dan digadang-gadang dibawa oleh barat, Indonesia ternyata punya tariannya sendiri. Dahulu, ada pentas Burung Belatik. Itu merupakan kolaborasi pencipta lagu anak Ibu Soed dan balerina Indonesia Farida Oetoyo.
Seluruhnya tradisional. Mulai dari lagu, musik, busana, tarian, sampai ceritanya. Itulah yang kemudian dipentaskan ulang di Kunstkring. Tiga balerina Indonesia dari Ballet Sumber Cipta menyuguhkan penampilan khas Indonesia dengan busana bercorak tradisional, usai berlatih dua bulan. Tarian mereka diiringi lagu Bunga Tanjung yang diciptakan Ibu Soed.

Tarian paling fenomenal diletakkan pada babak ke-tiga. The World of Suzie Wong. Berbeda dengan dua tarian sebelumnya, The World of Suzie Wong lebih kental akan drama. Tarian itu terlihat jelas mengisahkan Suzie Wong, seorang wanita Tiongkok yang dilecehkan secara seksual oleh dua pria hidung belang.

Namun alih-alih menampilkan adegan pelecehan secara gamblang, itu dilambangkan melalui tarian. Suzie Wong yang diperankan Mariska Febriani dari Ballet.id disentuh, diangkat, juga dibopong untuk menyimbolkan ketidakberdayaannya.
Usai pentas, kepada CNN Indonesia, Mariska mengaku berlatih hanya selama sekitar tiga bulan. Sebelumnya ia tak pernah mendengar tarian Suzie Wong, yang diadaptasi dari sebuah film. Apalagi ini baru kali pertama tarian itu dipentaskan di Indonesia.

Mariska mengaku agak sulit, karena hanya menemukan sepotong adegan pementasan Suzie Wong. Adegan itu yang akhirnya direkonstruksi.

"Saya akhirnya baca bukunya, mendalami Suzie Wong itu seperti apa," tuturnya. Ia pun akhirnya bisa menyuguhkan gerak tubuh dan mimik yang apik dan pas. "Saya harus tahu bahwa dia memang di-abuse," ucap Mariska yang telah belajar balet selama sekitar 20 tahun itu.

Pertunjukan tari balet di Tugu Kunstkring, Jakarta (13/6). (CNNIndonesia/Rizky Sekar Afrisia)
Uniknya, pelatih tari The World of Suzie Wong tidak hadir langsung secara fisik di Jakarta. Stephen Jefferies, koreografer dari London dan Chris Babida musisi Hong Kong hanya melatih via Skype.

"Awalnya kami latihan dulu, kalau ada yang kurang paham atau keliru baru dikonsultasikan dan dibetulkan via Skype," ujar Mariska bercerita.

Meski begitu, tariannya sampai nyaris sempurna. "Bagus sekali!" puji Jefferies yang menonton latihan lewat Skype. Apa kunci Mariska memerankan tarian fenomenal yang tidak sederhana itu? Kepercayaan. "Kalau sudah diangkat saya pasrah aja. Kalau enggak nanti malah sakit dan bikin berat ke penari prianya."

(rsa/vga)