Mengenang 40 Tahun Bencana Perairan 'Jaws'

Vega Probo, CNN Indonesia | Minggu, 21/06/2015 09:17 WIB
Mengenang 40 Tahun Bencana Perairan 'Jaws' Poster film Jaws yang legendaris. (CNNIndonesia Internet/Dok. Universal Pictures)
Jakarta, CNN Indonesia -- Jauh sebelum kecanggihan computer-generated digunakan kalangan sineas, film Jaws dengan segala kesederhanaan cara pembuatannya sanggup membuat seisi bioskop menjerit ketakutan.

Jeritan tak hanya menggema dari satu bioskop saja, melainkan lebih 400 bioskop yang memutarnya di Amerika Serikat. Dalam tempo sebulan, jumlah yang menayangkan film ini bertambah menjadi 500 bioskop.

Jaws, yang dirilis pada Juni 1975, ditabalkan sebagai film musim panas pertama yang mencapai sukses blockbuster, dengan pendapatan US$100 juta di dua bulan pertama penayangannya.  


Jaws diadaptasi dari buku karya Peter Benchley dan disutradarai Steven Spielberg. Dalam ulasannya, kemarin (20/6), CNN menyebut Jaws sebagai film yang sukses menampilkan “bencana perairan.”

Sukses Jaws terbilang “mengherankan” mengingat penggarapannya sarat masalah. Syuting yang semula dijadwalkan 55 hari pun molor  menjadi 159 hari. Bujet meleset dari perkiraan awal, US$7 juta.

Tambah lagi, hiu mekanik rusak saat syuting dan tenggelam di dasar laut. Naskah filmnya juga kedodoran, dan masih ditulis oleh Carl Gottlieb saat syuting berlangsung.

Segala problem ini tentu saja membuat Spielberg, yang ketika itu masih muda, ketar-ketir takut dipecat. Namun akhirnya kerja keras segenap kru membuahkan hasil: Jaws sukses besar-besaran!

Jaws tak hanya sukses menangguk keuntungan, elemen horor film ini juga berhasil membenamkan ketakutan di benak para penonton. Takut berenang di pesisir, juga di kolam renang.

Padahal bila ditonton saat ini, wujud si hiu mekanik terbilang culun. Sekalipun tak tersentuh komputer, untuk ukuran era 1975, wujud si hiu palsu sangat menakutkan.

Pada Juni, Hollywood merayakan 40 tahun Jaws. Film ini dianggap pioner yang menginspirasi pembuatan film serupa termasuk dokumenter, dari Sharknado sampai Shark Week di Discovery Channel.

[Gambas:Youtube]

Bukan Lautan, Hanya Kolam Susu

Judul di atas bukan sepenggal lirik lagu lawas grup band Koes Plus, melainkan kejadian nyata saat syuting Jaws, karena Spielberg ingin menampilkan visual yang lebih menakutkan.

Syuting diulang di kolam renang milik editor film Verna Fields di Encino, California. Supaya air kolam tampak agak keruh seperti air laut, kru memasukkan segalon susu ke kolam renang.

Sekalipun menggunakan banyak trik, Spielberg ingin filmnya tampak natural. Saat syuting potongan tangan di pantai, ia menggunakan tangan kru, sementara badannya dikubur di pasir.

Hiu yang dipajang di dek pelabuhan dalam film itu pun asli. Diterbangkan dari dari Florida ke Massachissetts menggunakan pesawat pribadi. Semula masih segar, lama-lama membusuk.

Sedangkan hiu yang bergerak di air tak lain hiu mekanik yang digerakkan oleh penyelam scuba. Hiu mekanik ini diberi nama Bruce, diambil dari nama pengacara Spielberg: Bruce Raymer.

Syuting Jaws dimulai, pada Mei 1974. Tampak di film, pepohonan meranggas. Cuaca pun tak bersahabat. Sekitar 400 figuran terpaksa dipulangkan gara-gara cuaca buruk.

Saat cuaca membaik, syuting dimulai lagi, namun hanya 150 figuran yang kembali ke lokasi. Tak kehilangan akal, Spielberg tetap melanjutkan syuting film, yang kelak meraih kesuksesan.

Spielberg pun Menyusup dalam Bioskop

Begitu film Jaws diputar di bioskop, pada Juni 1975, bukan hanya pencinta film yang berbondong-bondong menyesaki kursi di depan layar lebar, melainkan juga sang sineas, Spielberg.

Just to watch the sold-out audience visibly rise out of their seats with a collective shriek,” kilah Spielberg yang menyusup dalam bioskop bersama sang penulis naskah film, Gottlieb.

Melihat reaksi penonton menjerit-jerit ketakutan sepanjang Jaws diputar, Spielberg pun merasa puas. Kepuasan yang berbuntut tiga sekuel, plus film-film “pengekor” lainnya yang tak terhitung.

Jaws menginspirasi banyak sineas untuk menggarap film tentang serangan hewan buas. Salah satunya, Deep Blue Sea (1999) yang dibintangi LL Cool J dan digarap memakai computer-generated.

"In the end, that worked to our advantage. We couldn't use the shark, so we had to rely on people's imaginations. That delivered what I think is one of the best openings ever in a movie.”

Demikian dikatakan produser Richard Zanuck kepada People, pada 2000. "The thought of the shark … created more terror in the imagination than the appearance of the shark would."

Jaws tersimak semakin menakutkan dengan score yang dibuat oleh John Williams. Padahal yang ditampilkan di film hanya hiu mekanik. Hiu aslinya, dikatakan Zanuck, hanya “bekerja sampingan.”

(vga/vga)