Kiprah Animator Indonesia di Kancah Dunia

Nadi Tirta Pradesha, CNN Indonesia | Selasa, 23/06/2015 21:40 WIB
Kiprah Animator Indonesia di Kancah Dunia Ilustrasi: Karya animator Indonesia. (CNNIndonesia Free Watermark/Dok. XXI Short Film Festival)
Jakarta, CNN Indonesia -- “Animator Indonesia sudah mampu tampil di skala global.” Kalimat bernada optimis ini dilontarkan oleh Managing Editor Enspire Studio Andre Surya dalam acara jumpa pers di Gedung Utama Kementerian Perdagangan, Jakarta Pusat, kemarin (22/6).

Kemampuan itu dibuktikan lewat kerja sama yang dijalin studionya dengan developer game raksasa Square Enix. Dalam konteks yang lebih luas, animator Indonesia juga siap unjuk gigi di ajang Baros International Animation Festival (BIAF) 2015.

Festival animasi bertaraf internasional kali ke-tiga ini akan digelar di Kota Cimahi, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Tepatnya, Gedung Baros Information Technology Creative dan The Egde Super Block Valore Hotel, pada 7-10 Oktober mendatang.


Menurut Wali Kota Cimahi Atty Suhart Tochija, BIAF ingin memberikan dampak besar bagi para animator yang hadir. Nantinya, menurut Atty, para animator tak hanya bisa berkiprah di kancah animasi nasional, melainkan lebih luas lagi.

"Harapan kita bersama, khususnya Cimahi, ingin memberikan dampak besar pada animator-animator Indonesia, yang nantinya bisa berkiprah di kancah global. Ini merupakan bentuk niatan pemberdayaan daerah," ucap Atty.

Didukung Kementerian Perdagangan (Kemendag), pelaksanaan BIAF 2015 berandil meningkatkan potensi pasar, juga pertumbuhan pasar industri media serta hiburan. Terlebih saat ini ada BIAF 2015, plus puluhan saluran televisi.

Melihat potensi animator kita, Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag Nus Nuzulia Ishak menyatakan harapannya untuk  menggarap potensi ekspor, antara lain dengan mengakses pasar global melalui hubungan dan kerja sama bilateral.

“Jangan sampai potensi pasar Indonesia yang besar ini terlewatkan,” kata Sekretaris Utama Harry Waluyo mewakili Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf). Menurutnya, pengembangan industri animasi harus tepat pasar.

Investasi pada small device, seperti telepon selular, dikatakan Harry, bakal lebih menguntungkan bagi industri informasi karena tidak memerlukan modal sebesar film layar lebar atau televisi.

"Potensi pasar pengguna digital device itu lebih tinggi dari penduduk Indonesia, 112 persen,” kata Harry. “Itu kan, pasar yang luar biasa: setiap orang punya lebih dari satu device. Menurut saya, kalau enggak dimanfaatkan itu sayang sekali.”


Sejauh ini, kontribusi animasi ke ekonomi kreatif masih terbilang kecil—di bawah dua persen—dibandingkan dengan fesyen, kuliner, kerajinan tangan. Untuk bisa dikembangkan, animasi butuh upaya luar biasa dan ketepatan pasar.  

“Kalau enggak, nanti enggak growing dia. Kayak nebar garam di laut, hasilnya enggak akan maksimal," jelas Harry. “Betul-betul effort-nya harus luar biasa dan pasarnya enggak boleh salah.”

Diakui Andre Surya, kepercayaan masyarakat Indonesia terhadap produk animasi lokal masih rendah. Hal ini diperparah dengan kesulitan yang dialami industri animasi lokal saat ini, yaitu modal.

"Kendalanya bujet,” kata Andre Surya, “karena market Indonesia itu masih terlalu kecil dan kepercayaan masyarakat Indonesia untuk nonton produk Indonesia juga. Otomatis dampaknya kalau bikin film animasi investor belum percaya.”

Namun Andre Surya tak berkecil hati. Ia yakin, animator lokal mampu bersaing di kancah dunia, asalkan mau bikin karya bagus, sekalipun harus menyiapkan bujet tinggi. Terbukti Square Enix pun tertarik menjalin kerja sama.

(vga/vga)