Bukan hanya Terminator: Genisys, Indonesia juga pernah memutar Avengers: Age of Ultron lebih dulu. Saat itu, pertimbangan utamanya adalah pasar. Marvel Studios dan Disney melihat penggemar pahlawan seperti Captain America dan Iron Man di Indonesia membeludak.
Melihat data Motion Picture Association of America (MPAA), penonton film di Asia tahun ke tahun memang naik. Pada 2014, penonton Asia bahkan melebihi Amerika Serikat dan Kanada.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Indonesia berada di peringkat ke-20, setelah Brazil, Italia, Spanyol, Belanda, Turki, Venezuela, Argentina, Swedia, dan Taiwan. Kita menyumbang penonton senilai US$ 200 juta atau setara dengan Rp 2,6 triliun pada tahun lalu.
Namun, Ketua Badan Perfilman Indonesia (BPI) Kemala Atmojo justru pesimistis. Dihubungi CNN Indonesia, Kamis (25/6) sore ia berkata pasar kita tidak terlalu berpengaruh untuk film Hollywood. "Satu persen saja enggak sampai, cuma nol koma sekian," Kemala menuturkan.
Jika filmnya dilarang di Indonesia, kata Kemala, Hollywood tidak akan terlalu bersedih. "Waktu ada wacana pajak film impor bakal naik dua kali lipat, mereka juga tidak masalah. Karena market share kita kecil," tuturnya.
(rsa/vga)