Pasar Film Indonesia Kalahkan Malaysia dan Singapura

Rizky Sekar Afrisia, CNN Indonesia | Jumat, 26/06/2015 15:14 WIB
Indonesia masuk enam besar negara di Asia yang punya daya serap besar terhadap film Hollywood. Di dunia, kita ada di urutan ke-20. Avengers: Age of Ultron lebih dulu tayang di Indonesia ketimbang AS dan Kanada. (Dok. Walt Disney Studio Motion Pictures)
Jakarta, CNN Indonesia -- Anda patut bangga jika sudah menonton Terminator: Genisys di bioskop. Artinya, Anda menonton aksi Arnold Schwarzenegger lebih dulu dibanding publik Amerika, kampung halaman filmnya sendiri. Film ke-lima Terminator itu baru akan diputar 1 Juli mendatang di sana.

Bukan hanya Terminator: Genisys, Indonesia juga pernah memutar Avengers: Age of Ultron lebih dulu. Saat itu, pertimbangan utamanya adalah pasar. Marvel Studios dan Disney melihat penggemar pahlawan seperti Captain America dan Iron Man di Indonesia membeludak.

Melihat data Motion Picture Association of America (MPAA), penonton film di Asia tahun ke tahun memang naik. Pada 2014, penonton Asia bahkan melebihi Amerika Serikat dan Kanada.


Statistik menunjukkan, Indonesia memang tidak termasuk 10 besar negara di dunia di luar AS dan Kanada soal pasar film. Peringkat pertama ditempati China dengan US$ 4,8 miliar atau setara dengan Rp 63 triliun. Selanjutnya ada Jepang, Perancis, UK, India, Korea Selatan, Jerman, Rusia, Australia, dan Meksiko.

Indonesia berada di peringkat ke-20, setelah Brazil, Italia, Spanyol, Belanda, Turki, Venezuela, Argentina, Swedia, dan Taiwan. Kita menyumbang penonton senilai US$ 200 juta atau setara dengan Rp 2,6 triliun pada tahun lalu.

Tapi dibanding negara-negara Asia, Indonesia patut diperhitungkan. Kita termasuk enam negara dengan pasar terbesar, setelah China, Jepang, India, Korea Selatan, dan Taiwan. Tingkat penonton di Malaysia dan Singapura bahkan berada di bawah Indonesia.

Namun, Ketua Badan Perfilman Indonesia (BPI) Kemala Atmojo justru pesimistis. Dihubungi CNN Indonesia, Kamis (25/6) sore ia berkata pasar kita tidak terlalu berpengaruh untuk film Hollywood. "Satu persen saja enggak sampai, cuma nol koma sekian," Kemala menuturkan.

Jika filmnya dilarang di Indonesia, kata Kemala, Hollywood tidak akan terlalu bersedih. "Waktu ada wacana pajak film impor bakal naik dua kali lipat, mereka juga tidak masalah. Karena market share kita kecil," tuturnya.

(rsa/vga)