Salah satu sorotan kemudian menimbulkan masalah. Menurut sebagian pihak, hanya tema karya tertentu yang disorot lebih. Celakanya, sorotan itu diikuti oleh pemberitaan yang, menurut penulis AS Laksana, tidak akurat. Sebab tema yang ditonjolkan seakan hanya soal 1965, yang tercermin lewat buku tertentu.
Andy membantah adanya pengarahan tema itu. "Itu hanya satu dari sekian banyak buku. Lihat karya Andrea Hirata, AS Laksana sendiri, Linda Christanty, kan tidak tentang itu. Ada juga buku resep, komik," Andy menjelaskan. "Tidak banyak yang temanya 1965."
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Itu sesuai dengan pernyataan Goenawan Mohammad saat berkomentar di Facebook, bahwa tema 1965 memang sedang digandrungi di Jerman. Perkaranya tak lepas dari latar belakang negara, film Senyap, dan buku penulis lokal tentang komunisme yang baru terbit.
"Salah satunya karya Laksmi Pamuntjak (penulis Amba). Dia memang lebih awal diterjemahkan ke Jerman," Andy melanjutkan. Itu sebabnya, kata Andy, Laksmi diundang ke Jerman lebih dahulu daripada penulis lain.
"Kita kan mempromosikan yang karyanya sudah ada. Dan bukan hanya dia yang diundang, tetapi juga Sapardi Djoko Damono, Ahmad Tohari, dan Beng Rahadian yang komikus itu. Kami memilihnya karena menarik," tutur Andy.
Penulis novel Pulang, Leila S. Chudori, pun menyampaikan hal senada melalui akun Facebook miliknya, Rabu (1/7) malam. Ia menegaskan, bukunya sudah lebih dahulu dilirik oleh penerbit asing untuk diterjemahkan sebelum Indonesia menjadi tamu kehormatan Frankfurt Book Fair.
Penerbit di Perancis menerbitkan novelnya, Pulang dengan bahasa setempat pada Oktober 2014, tanpa lewat Komite Nasional. De Geus penerbit Belanda, Weidle Verlag penerbit Jerman, dan Deep Vellum penerbit Amerika Serikat juga tertarik menerjemahkan Pulang.
"Para penerbit saya, terutama penerbit Belanda, Jerman, dan Perancis semua tetap menyampaikan apakah Indonesia menjadi GOH FBF atau tidak, mereka akan menerbitkan Pulang," tulis Leila menegaskan melalui dinding Facebook.
(rsa/nez)