6 Tahun Rekor Dan Brown Dikalahkan 'The Girl on the Train'

Rizky Sekar Afrisia, CNN Indonesia | Jumat, 10/07/2015 07:40 WIB
6 Tahun Rekor Dan Brown Dikalahkan 'The Girl on the Train' The Girl on the Train mengalahkan The Lost Symbol. (Riverhead books)
Jakarta, CNN Indonesia -- Rekor penjualan buku yang tercatat enam tahun lalu, pekan ini dibuat tak bisa apa-apa. Kalau dahulu The Lost Symbol karya Dan Brown masih menjadi buku terlaris bagi masyarakat Inggris, kini drama psikologi itu kalah oleh dark thriller karya Paula Hawkins, The Girl on the Train.

Sebelumnya, buku Brown yang mengambil latar di Washington DC menjadi fiksi nomor satu yang dijual, memecahkan rekor selama 19 pekan sejak pertama kali dirilis, pada 2009. Prestasi itu luar biasa, bahkan sulit dikalahkan penulis sekaliber JK Rowling dengan novel barunya.

Novel dewasa pertama Rowling, The Casual Vacancy dan novel kriminalnya atas nama Robert Galbraith, tidak bisa menandingi Brown yang menorehkan rekor penjualan selama 19 pekan itu. Namun mengutip The Guardian, Hawkins bisa mengalahkan Brown dengan sangat mudah.


The Girl on the Train tercatat di puncak Nielsen BookScan sebagai buku hardback fiction terlaris selama 20 pekan berturut-turut. Itu merupakan pencapaian terpanjang sejak lembaga pemonitor dan pencatat penjualan buku itu ada.

Novel Hawkins terjual lebih dari 7.200 kopi pekan lalu, hampir dua kali buku Pretty Girls karya Karin Slaughter yang ada di posisi ke-dua. Menurut penerbit Transworld, buku itu terjual lebih dari 800 ribu kopi sejak rilis.

Namun jika dibandingkan paperback fiction, buku yang berkisah tentang keseharian seorang gadis dan pasangan yang dilihatnya di kereta itu masih kalah dibanding The Da Vinci Code, juga karya Brown. The Da Vinci Code menduduki peringkat pertama penjualan selama 65 pekan.

Sementara Fifty Shades of Grey karya EL James, menghabiskan 19 pekan di nomor satu. Namun sekali lagi, bukan untuk hardback.

Menurut Joseph Knobbs, pembeli Waterstones, The Girl on the Train mengisahkan cerita klasik namun ditulis secara bertalenta. Ditambah, itu didukung penerbit dan penjual buku yang bersemangat serta bergairah.

Editor buku Hawkins, Sarah Adams mengatakan, ia sudah merasakan keajaiban buku The Girl on the Train sejak pertama membacanya. Ia merasa, "Paula seperti berbicara langsung kepada saya sebagai komuter, seperti apa yang akan saya lakukan jika melihat sesuatu tak baik di luar jendela? Haruskah saya keluar dari zona nyaman saya, keseharian saya, dan terlibat?"

Menurutnya, pertanyaan itu serupa dengan apa yang ada di benak pembaca di dunia, yang tak terhitung banyaknya. "Melihat The Girl on the Train memecahkan rekor dan meraih level sukses ini sungguh sebuah pujian untuk Paula Hawkins dan novel memabukkan yang ditulisnya."

(rsa/rsa)