Sebelumnya, buku Brown yang mengambil latar di Washington DC menjadi fiksi nomor satu yang dijual, memecahkan rekor selama 19 pekan sejak pertama kali dirilis, pada 2009. Prestasi itu luar biasa, bahkan sulit dikalahkan penulis sekaliber JK Rowling dengan novel barunya.
Novel dewasa pertama Rowling, The Casual Vacancy dan novel kriminalnya atas nama Robert Galbraith, tidak bisa menandingi Brown yang menorehkan rekor penjualan selama 19 pekan itu. Namun mengutip The Guardian, Hawkins bisa mengalahkan Brown dengan sangat mudah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Novel Hawkins terjual lebih dari 7.200 kopi pekan lalu, hampir dua kali buku Pretty Girls karya Karin Slaughter yang ada di posisi ke-dua. Menurut penerbit Transworld, buku itu terjual lebih dari 800 ribu kopi sejak rilis.
Sementara Fifty Shades of Grey karya EL James, menghabiskan 19 pekan di nomor satu. Namun sekali lagi, bukan untuk hardback.
Menurut Joseph Knobbs, pembeli Waterstones, The Girl on the Train mengisahkan cerita klasik namun ditulis secara bertalenta. Ditambah, itu didukung penerbit dan penjual buku yang bersemangat serta bergairah.
Editor buku Hawkins, Sarah Adams mengatakan, ia sudah merasakan keajaiban buku The Girl on the Train sejak pertama membacanya. Ia merasa, "Paula seperti berbicara langsung kepada saya sebagai komuter, seperti apa yang akan saya lakukan jika melihat sesuatu tak baik di luar jendela? Haruskah saya keluar dari zona nyaman saya, keseharian saya, dan terlibat?"
Menurutnya, pertanyaan itu serupa dengan apa yang ada di benak pembaca di dunia, yang tak terhitung banyaknya. "Melihat The Girl on the Train memecahkan rekor dan meraih level sukses ini sungguh sebuah pujian untuk Paula Hawkins dan novel memabukkan yang ditulisnya."
(rsa/rsa)