Seratusan Wajah Indonesia di Frankfurt Book Fair 2015

Vega Probo, CNN Indonesia | Selasa, 21/07/2015 18:59 WIB
Seratusan Wajah Indonesia di Frankfurt Book Fair 2015 Ilustrasi buku (Stokpic/Stokpic)
Jakarta, CNN Indonesia -- Mendekati perhelatan Frankfurt Book Fair (FBF) 2015 di Jerman, dua bulan lagi, atau tepatnya pada Oktober, Komite Nasional Indonesia sebagai Tamu Kehormatan FBF mengedarkan siaran pers resmi berisi daftar nama wakil Indonesia yang siap terbang ke Jerman.

Dalam daftar tersebut tertulis sekitar 120-an nama yang mewakili sembilan kelompok, yaitu Buku Sastra dan Fiksi, Komik, Buku Anak, Buku Nonfiksi, Digital, Juru Masak dan Tokoh Kuliner, Aktivis Literasi, Narasumber Seminar, serta Pembaca Karya.

Terpilihnya seratusan wajah Indonesia di ajang bertaraf internasional itu telah melalui proses kurasi oleh Komite Buku dan Komite Penerjemahan, Komite Nasional Indonesia yang ditunjuk oleh Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.


“Kepada pasar Frankfurt Book Fair, Komite mencoba menawarkan keragaman, mencakup gagasan 17,000 Islands of Imagination—mewakili perbedaan gender, daerah, generasi dan lain-lain,” kata Ketua Komite Nasional Goenawan Mohamad dalam siaran pers.

Siaran pers tersebut juga menyertakan catatan tentang adanya sejumlah narasumber ahli dari Jerman dan negara lain di luar seratusan nama dalam daftar. “Daftar ini masih berkembang seiring dengan kebutuhan acara.” Demikian bunyi poin kedua catatan tersebut.

Dalam kelompok Buku Sastra dan Fiksi terdapat 45 nama penulis, antara lain A.S. Laksana, Ahmad Tohari, Andrea Hirata, Ayu Utami, Dewi Lestari, Eka Kurniawan, Laksmi Pamuntjak, Leila S. Chudori, Linda Christanty, Seno Gumira Ajidarma.

Lalu, di kelompok Penulis Nonfiksi antara lain menyelip nama Agustinus Wibowo, Wahyu Aditya, dan Yoris Sebastian. Kepada CNN Indonesia, Agustinus mengaku telah menerima e-mail dari Komite sejak awal Juli, berisi empat lampiran.

Nama-nama familiar mengisi kelompok Kuliner. Sebagian sudah mengikuti FBF sejak dua atau tiga tahun terakhir, antara lain chef Petty Elliot, Sandra Djohan, dan pegiat kuliner William Wongso, Santhi Serad, juga Bondan Winarno.

Tahun ini, untuk pertama kali sepanjang Era Kemerdekaan yang telah berlangsung tujuh dekade, Indonesia beroleh kesempatan berharga sebagai Tamu Kehormatan FBF, pameran buku tertua dan terbesar di dunia yang dihadiri lebih dari 132 negara.

Keikutsertaan Indonesia di ajang yang bakal dihadiri lebih dari 260 ribu pengunjung ini tentu saja merupakan langkah penting untuk memperkenalkan lebih banyak buku dari Indonesia kepada dunia internasional.

Dirilisnya daftar terbaru ini dengan sendirinya menggugurkan daftar sebelumnya yang beredar dan berisi 70 nama penulis—angka ini dipilih sekaligus untuk merayakan 70 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia.

Sejak setahun lalu, Komite Nasional telah mengajak penerbit dan pengarang Indonesia untuk mengirimkan karya yang dianggap patut mendapatkan pendanaan penerjemahan. Karya tersebut harus memenuhi beberapa kriteria.

Utamanya, penulis memiliki karya yang sedang atau telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris atau Jerman. Karya harus mewakili keragaman tema, begitu juga jenis karyanya, dari novel sampai puisi, serta kategori karya.

Karya yang diikutsertakan harus asli—bukan terjemahan atau saduran—yang dibuat oleh warga negara Indonesia dan mencerminkan keindonesiaan. Karya sudah diterbitkan dalam bentuk buku (cetak, digital) atau di media (koran, jurnal, dan lain-lain).

Soal isi, karya tidak mengandung hasutan dan kebencian suku, agama, ras, antar golongan. Juga tidak dalam status persengketaan hak cipta dan hak penerbitan. Dari hasil seleksi sejak 2014, diperoleh 300 judul buku yang sesuai kriteria itu.

Disebutkan dalam siaran pres, “Saat ini komite masih menunggu konfirmasi dari sejumlah nama untuk hadir.” Sembari itu, jelang FBF, wakil Indonesia mengikuti rangkaian acara pendahuluan, termasuk Sarasehan Berlin dan Koln. pada akhir Juni 2015.

Dinyatakan dalam siaran pers, “Menjadi Tamu Kehormatan di Frankfurt Book Fair hanyalah permulaan, bukan akhir. Awal bagi kita menawarkan imajinasi tentang Indonesia, agar publik Jerman (dan dunia) mulai membaca dan mempelajari sebuah negeri yang sebelumnya tidak pernah diperhitungkan dalam peta perbukuan dunia.”

(vga/vga)