Menembus Agen Sastra Dunia

Vega Probo, CNN Indonesia | Jumat, 03/07/2015 21:18 WIB
Menembus Agen Sastra Dunia Ilustrasi (CNNIndonesia GettyImages/Thomas Bethge)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ada banyak cara meluaskan karya sastra ke mancanegara. Salah satunya, menjalin kerja sama dengan agen sastra. Demikian disampaikan Leila S. Chudori kepada CNN Indonesia, pada hari ini (3/7).

“Kerja sama dengan agen sastra itu, menurut saya, salah satu cara agar buku kita yang sudah diterjemahkan bisa dikenal penerbit asing,” kata sang sastrawan.

Menurutnya, mustahil mengharap seluruh penerbit dunia “mengetuk pintu rumah kita.” Terlebih sastra Indonesia belum dikenal secara luas, termasuk nama penulis Indonesia masa kini.


Untuk itulah dibutuhkan agen sastra. Merekalah yang akan menawarkan buku yang telah diterjemahkan ke bahasa asing—misalnya, Bahasa Inggris—ke berbagai penerbit asing.
 
Leila menceritakan pengalamannya menjalin kerja sama dengan Pontas Literary Agent, pada 2013. Pontas ini tak lain agen sastra Pramoedya Ananta Toer, juga Eka Kurniawan.

“Kerja sama itu menggunakan kontrak yang mendeskripisikan tugas-tugasnya. Karena mereka berpusat di Barcelona, maka komunikasi kami selalu dengan surat elektronik,” kata Leila.

Biasanya, menurut Leila, setelah ada penerbit yang tertarik dengan naskah kita, akan terjadi tawar menawar antara sang agen sastra (yang mewakili sastrawan) dengan calon penerbit.

Jika sudah mencapai kesepakatan, sang agen akan bertanya pada sastrawan, apakah setuju atau tidak. Kalau sastrawan setuju, maka ada kontrak dengan penerbit.

Di dalam kontrak itu–sama seperti di Indonesia—ada kewajiban penerbit untuk membuat laporan tahunan penjualan buku termasuk prosentasi royalti kepada penulis.

Agen sastra jugalah yang membawa buku Pulang versi bahasa Inggris karya Leila ke berbagai book fair, termasuk ke London Book Fair dan beberapa di Eropa, bukan hanya Frankfurt Book Fair.

Tugas sang agen sastra di book fair tentu saja menawarkan buku tersebut kepada penerbit asing. Di London Book Fair, penerbit AS Deep Vellum tertarik mengedarkan Pulang.

“Yang jelas, karena yang memegang otoritas untuk menjual rights saya ke penerbit asing adalah agen sastra saya, maka merekalah yang membawa naskah Pulang dalam bahasa Inggris ke mana-mana.”

Ditegaskan Leila, di pasar buku macam book fair yang menjadi tamu adalah buku. Penulis “hanya” diundang mengikuti buku yang menjadi tamu.

Tahun ini, Leila diagendakan siap menghadiri Frankfurt Book Fair  (FBF) di Jerman. Ini merupakan kali pertama baginya. Sebelumnya, hanya buku-bukunya saja yang melenggang di FBF.

Sebelumnya, pada 1991, ia melanglang Jerman untuk menghadiri acara sastra di Erlangen dan Berlin membawa buku Malam Terakhir yang diterjemahkan Beate Carle dan diterbitkan Horlemann Verlag.

Book fair tak sama dengan festival sastra. Book fair merupakan ajang jual beli rights buku ke penerbit asing; jual beli rights ke produser film.

Pelaku penting dalam book fair itu adalah penerbit, agen sastra, produser film. Kehadiran penulis (yang diundang) biasanya untuk membantu promosi bukunya.

Sedangkan festival sastra lain lagi. Di sini, para sastrawan berdiskusi dalam kelompok panel yang topiknya ditentukan panitia. Sebagaimana Ubud Writers, atau Winternachten di Belanda.

Hanya penulis yang diundang panitia saja yang bisa menghadiri festival. Kehadiran mereka juga melalui seleksi kurator yang memiliki kriteria sendiri.

Leila menceritakan pengalamannya diundang ke  Perth Writers International Festival 2014, di mana ia dipanelkan bersama Anchee Min, penulis asal Beijing yang lama menetap di AS.

Festival ini juga dihadiri sastrawan Martin Amis dan pemenang Booker Prize 2013 Eleanor Catton. Pada tahun yang sama, Leila juga hadir di Tong Tong Fair and Festival di Den Haag, Belanda.

“Itu festival paling asyik dan intim,” katanya. Yang jelas,  penulis yang diundang ke festival harus punya buku yang sudah diterjemahkan ke bahasa asing dan diterbitkan penerbit asing.

Mengingat buku Pulang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda, Jerman dan Inggris, dan dirilis tahun ini, Leila siap memboyongnya ke Berlin Literature Festival, pada September nanti.
 
Dalam ajang semacam festival, penulis harus bisa menjawab dan memformulasikan konsep penulisan dan bisa saling bertaut, berdiskusi dengan panelis lainnya.

Di Perth Writers, Leila mengikut panel tentang historical fiction di mana para panelis adalah sastrawan yang menggunakan sejarah sebagai latar belakang fiksi yang ditulisnya.

Sepanjang pengalamannya mengikuti festival sastra di Australia, Malaysia, Belanda, Perancis, Leila selalu berhadapan dengan pencinta dan pegiat buku yang selalu curious, ingin tahu.

“Mereka biasa dididik berpikir, berdiskusi dengan sehat dan nalar yang jernih. Pertanyaan mereka cerdas, kritis tapi bukan dengan malice atau intent yang buruk,” kata Leila.

Saat ditanya bekal apa yang harus dimiliki penulis pemula agar karyanya bisa mendunia, Leila menegaskan, “Banyak membaca. Membaca. Membaca.”

Dalam pandangannya, penulis yang baik harus menjadi pembaca yang baik. Selain itu, juga harus rendah hati, bersikap seperti spons: meresap semua pengalaman dan merekamnya; peristiwa, karakter manusia, bunyi, aroma, bentuk untuk kelak diolah menjadi cerita yang asyik dan berarti.




(vga/nez)