116 Tahun Sang Penulis Flamboyant Ernest Hemingway

Dhio Faiz, CNN Indonesia | Rabu, 22/07/2015 21:44 WIB
116 Tahun Sang Penulis Flamboyant Ernest Hemingway Ilustrasi (CNNIndonesia GettyImages/Image Work/amanaimagesRF/Thinkstock)
Jakarta, CNN Indonesia -- Siapa tak kenal Ernest Hemingway? Penulis yang satu ini begitu mashyur. Tulisannya, dari cerita pendek sampai buku novel, sama-sama memukau.

Selain karya tulisnya, ia juga terkenal dengan kisah cintanya yang berwarna. Hemingway sering bergonta-ganti pasangan hidup. Namun justru dari pengalaman inilah karya-karyanya tercipta.

Pada tahun ini, para penggemar merayakan hari jadi sang penulis flamboyant yang ke-116 tahun. Hemingway lahir di Cicero, Illinois, Amerika Serikat pada 21 Juli 1899 dari pasangan Grace Hemingway dan Clarence Hemingway.


Kebiasaan menulisnya sudah tumbuh setidaknya saat SMA. Ia bergabung dengan surat kabar sekolahnya, Trapeze and Tabula. Ia biasanya menulis tentang olahraga di koran tersebut.

Hemingway muda pun melanjutkan hobi menulisnya dengan bekerja di Kansas City Star begitu lulus sekolah. Ia mengakui, pekerjaan tulis menulis sangat berpengaruh terhadap karier menulisnya.

“Di Kansas City Star, anda dipaksa untuk belajar menulis kalimat deklaratif yang singkat. Ini sangat berguna bagi semua orang. Pekerjaan di surat kabar tak akan menyusahkan penulis muda dan malah bisa membantu bila sewaktu-waktu keluar dari tempat itu,” ujar Hemingway seperti yang dikutip laman Bio.

Saat Perang Dunia I pecah, ia terlibat sebagai sopir ambulans pasukan Italia. Berkat keikutsertaannya, ia disematkan penghargaan Medal Perak untuk Keberanian. Ia sempat mengalami cedera yang cukup serius dan harus menjalani perawatan di Milan.

Saat menjalani perawatan di Milan, Hemingway mengalami kisah cinta pertamanya. Ia bertemu suster Agnes von Kurowsky yang akhirnya ia lamar. Namun setelah lamaran itu diterima, Kurowsky malah pergi dengan laki-laki lain.

Dari kisah cinta nahasnya itu terciptalah cerita pendeknya yang terkenal berjudul A Farewell to Arms. Lalu, Hemingway pergi ke Michigan melanjutkan perawatannya.

Kisah cinta sang penulis berlanjut di Chicago. Ia bertemu dengan Hadley Richardson dan menikahinya. Mereka pun pindah ke Paris dan Hemingway pun jadi koresponden Toronto Star di sana.

Saat menikah dengan Hadley, ia menghasilkan sebuah novel berjudul The Sun Also Rises. Tak lama setelah buku yang disebut-sebut karya terbesarnya ini terbit, Hemingway bercerai dengan Hadley.

Perceraian tersebut didalangi kedekatan sang penulis flamboyant dengan Pauline Pfeiffer. Selama pernikahannya dengan Pfieffer, ia menghasilkan sebuah karya lagi. Kali ini, buku kumpulan cerita pendek Men without Women.

Beberapa tahun kemudian, Hemingway ditugaskan untuk meliput Perang Saudara di Spanyol, tepatnya pada 1937. Di penugasannya kali ini, lagi-lagi ia jatuh cinta pada seorang perempuan saat dirinya bahkan belum menyandang status duda.

Tak lama, ia pun bercerai dengan Pfeiffer dan menikahi Martha Gellhorn, perempuan yang ia temui saat dinas di Spanyol. Lagi-lagi sepak terjang percintaannya ini menjadi bahan karyanya. Novel For Whom the Bell Tolls pun tercipta dan nominasi Pulitzer didapatkan Hemingway.

Gellhorn ternyata bukan yang terakhir. Masih ada perempuan lain yang memikat hati sang penulis legendaris ini. Mereka bercerai dan Mary Welsh jadi perempuan berikutnya yang dinikahi Hemingway. Hemingway dan Welsh menikah setelah pertemuan mereka di Perang Dunia II sebagai jurnalis.

Dalam pernikahan dengan istri terakhirnya itu, tepatnya pada 1951, Hemingway kembali berhasil menelurkan maha karyanya. Buku berjudul The Old Man and the Sea jadi karyanya yang paling terkenal dan paling sukses. Dengan buku itu, Hemingway untuk pertama kalinya memenangkan penghargaan Pulitzer setelah sebelumnya hanya tercatat sebagai nomine.

Setelah meraih Pulitzer, penghargaan Nobel di bidang sastra juga ia rengkuh, pada 1954. ini merupakan puncak kariernya. Setelah masa itu, Hemingway mengalami gangguan kesehatan fisik dan mental.

Namun ia masih sempat membuat satu karya lagi, berbentuk memoar. A Moveable Feast jadi karya tulis terakhirnya sebelum ia bertarung habis-habisan dengan gangguan fisik dan mental yang ia alami. Juga sebelum tragedi bunuh dirinya terjadi, pada 2 Juli 1961.

Terlepas dari kisah cintanya yang bergonta-ganti pasangan dan akhir hidupnya yang mengenaskan, Hemingway mampu mengisi peradaban dengan berbagai karya tulisnya. Namanya abadi dan dikenang berbagai generasi, hingga kini.

(vga/vga)