Asma Nadia: Film Hasil Adaptasi Novel Itu Menguntungkan

Nadi Tirta Pradesha, CNN Indonesia | Kamis, 23/07/2015 09:00 WIB
Begitu novelnya, Emak Ingin Naik Haji: Cinta Hingga Tanah Suci diadaptasi ke layar lebar dan layar kaca, Asma Nadia melirik penulisan naskah film. Asma Nadia (CNNIndonesia /Endro Priherdityo)
Jakarta, CNN Indonesia -- Karya literatur yang sarat imajinasi kadang menjadi lebih hidup dan menarik saat divisualisasikan menjadi gambar bergerak atau film. Hal ini juga berlaku bagi karya penulis Asma Nadia (43). Tidak sedikit novelnya yang difilmkan.

Padahal Asma mengaku, bukan tipe penulis yang rajin menawarkan karyanya ke rumah produksi atau production house (PH). Ia hanya menulis sebaik yang ia mampu.

Namun begitu salah satu novelnya, Emak Ingin Naik Haji: Cinta Hingga Tanah Suci diadaptasi ke layar lebar dan layar kaca, Asma mulai melirik penulisan naskah film.


"Saya melihat kayaknya nulis ini sudah harus berpikir untuk layar lebar atau sinetron. Jadi harus berpikir untuk memudahkan PH," katanya saat ditemui di kawasan Kebayoran, Jakarta, belum lama berselang.

Menurut Nadia, pekerjaan menulis novel atau naskah film sebetulnya sama saja. Namun harus diakui, pembuatan judul film memang menuntut kreativitas besar agar tersimak lebih menarik.

"Nah, kalau sekarang ada kemungkinan novel difilmkan atau disinetronkan berarti judulnya harus lebih menarik lagi. Sehingga mudah-mudahan bisa memudahkan PH misalnya mereka punya film atau produk yang idenya bagus," jelas Asma.

Sejauh ini, lima novel Asma sudah ditransformasikan menjadi gambar bergerak. Sebut saja: Emak Ingin Naik Haji: Cinta Hingga Tanah Suci (sinetron), Jendela Rara (film), Catatan Hati Seorang Istri (sinetron), Aisyah Putri (seri televisi), dan Surga yang Tak Dirindukan (film).

Kini, giliran novel Jilbab Traveler karya Asma sedang dalam proses penggarapan oleh RAPI Films.

Asma merasa pihak PH sudah nyaman berkomunikasi dengannya, sehingga tak ada tenggat waktu yang ditentukan untuk sebuah novel.

"Saya jarang dipesan PH untuk nulis. Baru yang Jilbab Traveler, itu juga waktunya fleksibel dan manusiawi jadi menurut saya masih mungkin dikerjakan. Kira-kira setahunan deh novel itu. Kalau untuk disinetronkan, kan sudah ada (novelnya) jadi belum pernah ada yang saya tulis khusus," tutur Asma.

Anggota ICMI ini berpendapat, adaptasi novel ke film, yang marak di Indonesia sejak Laskar Pelangi (2008), telah membuka kesempatan tersendiri bagi penulis. Menurut Asma, format film dan sinetron dapat menjangkau lebih banyak pemirsa dibandingkan novel.

"Kalau buku, kita bicara 100 atau 200 ribu, satu juta lah. Tapi kalau film, dari awal kan sudah 500 ribu, satu juta atau mungkin lebih," katanya. "Jadi buat saya, menulis itu berjuang. Maka ketika diadaptasi ke layar lebar atau sinetron, yang disyukuri bahwa nilai-nilai yang kita angkat dan perjuangkan itu bisa menyapa lebih banyak orang."

"Kalau buat produser, saya melihat memang trennya sekarang yang merasa nyaman memulai dengan novel, karena mungkin fanbase penulisnya sudah ada, bukunya sudah ada pembacanya," kata Asma. "Biasanya kan mereka tanya, udah berapa kopi yang terjual? Jadi itu menguntungkan."

Asma bersyukur selama ini kerja sama dengan PH berjalan cukup baik, "Alhamdulillah, mereka cukup mengakomodir kehadiran penulis. Kami bisa mengawal dari skenario sampai syutingnya."

Adegan film Surga yang Tak Dirindukan yang diadaptasi dari novel karya Asma Nadia. (CNNIndonesia Rights Free/Dok. MD Entertainment)
(vga/vga)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK