Meriam Pengusir Kuntilanak di Festival Karnaval Khatulistiwa

Ardita Mustafa, CNN Indonesia | Sabtu, 22/08/2015 09:40 WIB
Meriam Pengusir Kuntilanak di Festival Karnaval Khatulistiwa Persiapan Festival Karnaval Khatulistiwa di Pontianak. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Pontianak, CNN Indonesia -- Hari Kemerdekaan Indonesia memang telah lewat beberapa hari sejak 17 Agustus lalu. Namun, kemeriahannya masih berlanjut hingga akhir pekan ini di Pontianak, Kalimantan Barat.

Diberi tajuk Festival Karnaval Khatulistiwa, perayaan ulang tahun kemerdekaan Indonesia yang ke-70 tahun akan digelar dengan gegap gempita, melalui karnaval darat dan karnaval air pada Sabtu (22/8) di Pontianak.

Tidak hanya Presiden Indonesia Joko Widodo dan artis Ibu Kota yang memeriahkan acara, kebudayaan khas Kalimantan juga unjuk gigi.


Dijelaskan oleh panitia saat jumpa pers di kawasan Gajah Mada, Pontianak pada Jumat (21/8), berikut kesenian yang akan ditampilkan dalam Festival Karnaval Khatulistiwa 2015:

1. Tari Tempurung

Selayaknya Tari Piring dari Sumatera Barat, tarian ini menggunakan tempurung kelapa sebagai propertinya. Tantangannya, para penari harus bergerak lincah mengikuti irama musik sambil terus mempertahankan tempurung yang ditopang kedua tangannya.

2. Tari Japin Lembut

Tidak hanya Suku Dayak, etnis Tionghoa dan Melayu juga berbaur dengan rukun di Kalimantan.  Tari Japin Lembut adalah kesenian yang dibawa oleh masyarakat Melayu ke Kalimantan Barat. Berasal dari Melayu, tarian ini dilakukan oleh dua pria yang menari diiringi musik gambus dari ketipung gendang berirama padang pasir dan yang disertai syair-syair Islami.

3. Tari Dayak

Tarian eksotis ini berasal dari kebudayaan Suku Dayak, suku asli di Kalimantan. Walau iramanya mengalun konsisten namun jika didengarkan terus menerus akan memompa semangat juang. Seolah tersihir, gerakan menari pun jadi senada dengan tetabuhannya. Tarian ini terinspirasi dari gerakan dan anatomi Burung Ruai dan Burung Enggang Gading yang indah.

4. Meriam Karbit

Pontianak adalah kota yang terkenal dengan mitos-mitosnya yang mistis, salah satunya adalah hantu kuntilanak. Demi mengenyahkan gangguan tersebut -dikutip dari ahli sejarah- raja pertama di Pontianak, Syarif Abdurrahman Alkadrie, meminta pasukannya untuk melakukan prosesi peletusan Meriam Karbit untuk mengusir hantu-hantu tersebut di rumahnya. Meriam Karbit sempat dilarang pada Orde Baru. Setelah Orde Baru runtuh, tradisi Meriam Karbit kembali didengungkan, biasanya selama bulan suci Ramadan di sepanjang Sungai Kapuas.

(ard/rsa)