Termasuk penulis cilik, Nadia Shafiana Rahma. Pelajar kelas 6 Sekolah Dasar Negeri Glagah, Yogyakarta itu boleh dianggap masih bocah. Namun jangan kaget, sejauh ini ia sudah menerbitkan lima buku. Nadia bahkan sudah mengarang jauh sebelum dirinya bisa menulis.
Hari itu, Rabu (14/10) waktu Jerman, Nadya menjadi bintang bagi bocah-bocah seumurnya. Ia duduk di tengah lingkaran bocah dalam acara Fun and Share: Learning to Write with Nadia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ide menulis, banyak didapatnya dari buku yang dibaca dan pengalaman sehari-hari. Sekolah, teman, rumah, bahkan jalanan sekali pun, bisa menjadi gudang ide bagi bocah perempuan yang juga bercita-cita menjadi ilustrator itu.
Nadia menghadiahkan pembatas buku berbentuk wayang kulit beraneka karakter untuk mereka yang bertanya. Dalam video yang diunggah Komite Nasional ke akun YouTube resmi Pulau Imaji, terlihat seorang anak memutar-mutar pembatas buku dengan karakter Semar.
[Gambas:Youtube]
Seperti yang disampaikan Nadia pada kantor berita Antara, ia mengaku senang bisa berada di Frankfurt Book Fair dan berbincang dengan anak-anak seusianya dari negara yang berbeda. "Senang dan deg-degan juga," ujar Nadia.
Sejauh ini goresan pena Nadia sudah terangkum dalam seri Kecil-kecil Punya Karya. Ia juga sosok di balik novel My Life My Heaven, Pengalaman Meraih Bahagia, Juiceme Salah Tangkap, dan Juiceme Kakek Misterius. Nadia juga punya kumpulan cerpen Si Hati Putih.
Selain diskusi kecil Nadia, Frankfurt Book Fair hari pertama juga mempertontonkan serangkaian kegiatan. Ada diskusi Reclaiming the Past, di mana penulis Iksaka Banu bicara soal perspektif dalam sejarah di Indonesia.
Ahmad Tohari dan NH Dini mengisi sesi Kampong and City Tales. Mereka bicara soal "halaman belakang" Indonesia, kampung yang kental dengan keseharian sederhana dan budaya manusia. Perbincangan soal buku elektronik dan arsitektur pun menyemarakkan diskusi lain. (rsa/vga)