Poster Protes Warnai Diskusi Kebebasan Bicara di Ubud

Rizky Sekar Afrisia, CNN Indonesia | Sabtu, 31/10/2015 15:48 WIB
Poster Protes Warnai Diskusi Kebebasan Bicara di Ubud Poster protes atas pembungkaman kebebasan bicara yang ditandai dengan pembatalan sesi diskusi 1965 di Ubud Writers and Readers Festival 2015 mewarnai diskusi bertema Uncensored di Bali, Sabtu (31/10). (CNN Indonesia/Rizky Sekar Afrisia)
Ubud, CNN Indonesia -- "Master of Satire" termasuk salah satu sesi diskusi di Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2015 yang dibatalkan. Namun kali ini, sejarah peristiwa tahun 1965 bukan menjadi alasan pembatalan.

Sesi itu dibatalkan lantaran para pembicara tidak dapat menghadiri diskusi yang dijadwalkan. Sebagai pengganti, digelar diskusi bertajuk "Uncensored" dengan pembicara Endy Bayuni, Okky Madasari, dan Andreas Harsono.

Pembungkaman kebebasan bicara menjadi topik hangat dalam diskusi itu, yang terjadi dalam dunia sastra maupun jurnalisme di Indonesia. Yang mengejutkan, di akhir sesi ada pembagian poster yang melawan pembungkaman kebebasan bicara.


Poster itu ada yang bertuliskan "End Impunity" dan ada juga dengan tulisan The Look of Silence. The Look of Silence merupakan film Joshua Oppenheimer yang dibatalkan pemutarannya karena mengandung konten tentang 1965, dengan garis kuning bertuliskan "Censored."

Kepada CNN Indonesia, Okky menuturkan, pembagian poster itu diinisiasi oleh sekelompok kawan dari Jakarta yang peduli terhadapan kebebasan berbicara.

"Setelah tiga sesi diskusi tentang 1965 dibatalkan, kami membuat pernyataan terbuka. Ada sekelompok penulis, musisi, artis, yang ikut mendukung dan namanya dicantumkan. Beberapa dari mereka ikut ke Ubud untuk menunjukan suaranya tidak bisa dibungkam," kata Okky menjelaskan aksi itu usai diskusi hari ini, Sabtu (31/10).

Pernyataan terbuka itu, disebut Okky, merupakan reaksi pertama yang dilakukan masyarakat yang protes karena kebebasan bicara dimatikan. Sampai saat ini, pernyataan sudah ditandatangani oleh lebih dari 200 orang, termasuk Joshua Oppenheimer, Tom Ilyas, dan pengacara Todung Mulya Lubis.

"Ini menunjukan kami masih dan harus bersuara. Polisi masih beberapa kali datang dan mengecek. Ini wujud bahwa mereka bisa melarang diskusi tapi tidak bisa membungkam suara kami," tutur Okky.

Penulis Pasung Jiwa itu melanjutkan, meskipun kecil aks itu ingin menunjukan keberanian untuk terus bersuara meski ada sensor dari kelompok lain, tidak hanya soal 1965. "Kami selalu peduli soal demokrasi dan kebebasan," ujar Okky lagi.

Pembagian itu sendiri menjadi akhir dari sesi diskusi, yang di dalamnya juga membicarakan sikap kampus melarang penerbitan Majalah Lentera serta pemerintah mendeportasi Tom Ilyas saat mengunjungi makam keluarganya. Peserta yang kebanyakan warga asing, bangga berpotret diri dan berpose dengan poster antisensor. (rdk)