Pernyataan itu terlontar dari bibir Mpho Tutu, putri Desmond Tutu, yang bukunya bersama sang ayah menerima penghargaan Nobel Perdamaian. Tutu hadir dalam Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2015, membuka salah satu sesi pertama, pada Kamis (29/10).
Ia mengawali pidatonya yang mengundang standing applause dari hampir separuh peserta yang hadir, dengan pernyataan yang langsung membuat hening, "Tidak ada seorang pun yang mau hidup dalam ketakutan."
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, Tutu menuturkan, perdamaian bukanlah hal yang mudah dicapai. "Itu sebuah gunung yang sangat tinggi untuk didaki," ujarnya. Untuk menggapainya butuh upaya keras dari semua pihak.
Kata-kata itu berhubungan lekat dengan Indonesia, yang sedang dalam pencarian damai serta rekonsiliasi atas peristiwa paling kelam dalam sejarahnya, pembantaian 1965. Tutu menyadari, memaafkan tidaklah mudah.
"Menciptakan perdamaian jelas lebih sulit daripada membuat perang."
Namun kuncinya adalah dengan mendengar. Itu juga butuh proses panjang. "Dan satu-satunya cara adalah melalui proses itu, proses yang menakutkan, pencarian, berbagi cerita, dan sebagainya," katanya.
Setiap langkah yang ditempuh pasti tidak mudah, namun itu harus dilakoni jika memang menginginkan perdamaian. "Setiap langkah akan membentuk kita sedikit demi sedikit," tuturnya dengan bijaksana.
"Sampai akhirnya, kita kembali menjadi satu kesatuan yang komplet," ia melanjutkan. Pernyataannya langsung mengundang tepuk tangan membahana dari seluruh ruangan.
Tutu sendiri mencapai damai lewat kata-kata, salah satunya melalui buku Made for Goodness yang ditulisnya bersama sang ayah. Ia juga banyak menjadi pembicara serta motivator. Ia percaya, kata bisa menjadi sarana bercerita, yang merupakan salah satu proses menuju maaf dan damai.
(rsa/vga)