Menurut Nano Riantiarno, selaku pendiri Teater Koma, ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk menghindari teater dari kepunahan, yakni menjaga kualitas cerita teater serta hubungan antara aktornya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan selalu melahirkan generasi penerus, maka teater akan tetap berdiri dan tidak perlu takut kehabisan aktor maupun aktrisnya.
Hal itu dirasakan oleh Nano di dalam Teater Koma, yang sudah berdiri sejak tahun 1977.
Ia menceritakan bahwa setidaknya sudah ada 12 generasi pemain teater dalam Teater Koma, sehingga membuat Teater Koma terus bertahan selama 38 tahun dan konsisten menyuguhkan kisah menarik untuk masyarakat setiap tahunnya.
"Pemain Teater Koma itu kan sudah pada tua ya, nah mereka punya anak, dan anak mereka punya anak lagi. Kemudian mereka membawa anak mereka ke teater dan di sana akan timbul keinginan untuk menjadi pemain teater," kata Nano dengan sumringah.
Yang terakhir dan paling penting menurut Nano adalah jumlah penonton. Sebuah teater harus bisa menarik banyak penggemar agar teater mereka terus digandrungi masyarakat sehingga tidak menghilang dari peradaban.
"Pada akhirnya yang paling penting adalah penonton, kalau tidak ada yang nonton ya percuma. Jadi dengan adanya cerita yang menyentuh hati dan komunikasi yang baik antara pemain teater itu saya yakin bisa menarik penonton untuk menyaksikan teater kita," ujar Nano menutup pembicaraan.
(ard)