Bagi mereka yang tertarik menyimak isu sains, teknologi dan lingkungan melalui medium film bisa berpartisipasi di Science Film Festival yang diadakan pada 12-26 November 2015 di 21 kota di Indonesia, dari Aceh sampai Ambon.
Selengkapnya akan diadakan di Aceh, Ambon, Balikpapan, Bandung, Bogor, Depok, Jakarta, Makassar, Malang, Manado, Mataram, Medan, Nganjuk, Samarinda, Serang, Sidoarjo, Sumbawa, Surabaya, Tangerang, Waingapu dan Yogyakarta.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di Indonesia, Science Film Festival merupakan bagian dari Jerman Fest yang digagas dan dihelat Kementerian Luar Negeri Jerman bekerja sama dengan Goethe-Institut Indonesia, Kedutaan Besar Jerman untuk Indonesia dan EKONID.
Anies mengatakan, jika sains dan seni dipadukan melalui media perfilman yang mendidik, maka hal itu akan menjadi suatu tontonan menarik serta dapat "menggoda" anak muda untuk terus mengenyam pendidikan melalui perfilman.
Science Film Festival tahun ini berupaya menarik minat masyarakat, khususnya kaum muda, untuk menemukan peran cahaya dalam kehidupan sehari-hari, juga hal-hal yang mengungkapkan sifat alam semesta.
"Tidak sekadar sains. Namun sains juga harus dipadukan dengan seni, yang kemudian dipresentasikan dengan kreativitas," ujar Anies saat ditemui awak pers di Gedung Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, pada Jumat (13/11).
"Jika sains dan seni dipadukan, mereka akan menjadi kekuatan yang sangat kuat," ia menambahkan.
Salah satu film Indonesia yang diputar di festival ini yaitu Sampah Plastik yang menggambarkan tentang buruknya penanganan sampah plastik di lautan Bali. Selain itu, juga ditayangkan film dari Jerman, Mengukir Kaca.
Anies menegaskan, "Kita harus mengupayakan untuk lebih banyak menampilkan film-film edukatif kepada anak-anak Indonesia."
(vga/vga)