Satu Simpul Dua Budaya Entang dan Sally

Silvia Galikano, CNN Indonesia | Minggu, 17/01/2016 11:09 WIB
Satu Simpul Dua Budaya Entang dan Sally Pameran Conversation- Endless Acts in Human History karya Entang Wiharso dan Sally Smart, 15 Januari - 1 Februari 2016, di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta. (CNNIndonesia/Silvia Galikano)
Jakarta, CNN Indonesia -- Entang Wiharso menjelajahi berbagai kemungkinan dalam menggunakan material dan teknik: melukis, menggambar, mencetak, memotong, dan merakit.

Hal tersebut tampak dalam karyanya, No Hero–No Cry (2005), yang menjajarkan tujuh karakter laki-laki dengan anggota tubuh saling tertukar menggunakan mix-media on aluminium dengan teknik cut-out.

"Teknik cut-out merupakan manifesto untuk membedah dan membongkar pengalmana saya dalam menghadapi chaotic di masyarakat," Entang Wiharso menyatakan seperti termuat dalam catatan kuratorial, “Metode teknik ini karena saya ingin membuat struktur yang solid dengan membuang sesuatu yang tidak penting.”


Ada banyak karya Entang Wiharso yang menggunakan teknik seperti ini dalam pameran bertajuk Conversation: Endless Acts in Human History pada 15 Januari-1 Februari 2016 di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta.

Selain karya Entang, Conversation juga menampilkan karya perupa asal Australia, Sally Smart serta melibatkan dua kurator asal Indonesia dan Australia, yakni Suwarno Wisetrotomo dan Natalie King.

Conversation adalah hasil percakapan Entang dan Sally, percakapan nyata maupun personal yang berlangsung dalam diri sendiri, tentang sejarah manusia sepanjang zaman dalam bingkai peristiwa politik, sosial, budaya, kolonisasi, tubuh, hingga stigma.

Mereka mempersoalkan riwayat dan tindakan manusia di sepanjang zaman, terutama yang bertolak dari pengalaman sebagai “anak zaman” kini.

Pola kerja dan karya-karya Entang merefleksikan kondisi masyarakat tempatnya hidup dan berinteraksi, sehingga dia melihat persoalan masyarakat dari dalam.

Latar belakang budaya Sally Smart, yakni Australia, menghasilkan karya seni yang berbeda dari Entang. Australia adalah negara-benua maju dalam suasana kehidupan kosmopolitan dan infrastruktur yang lebih mapan.

Di sisi lain, Australia memanggul persoalan masa lalu dan masa kini yang tak mudah: didera persoalan ras/etnik, lingkungan, dan politik yang penuh guncangan. Di atas pijakan itulah Sally berkarya.

Proses kreatif Sally seperti proses detoksifikasi. Proses mengeluarkan racun, sebongkah demi sebongkah, untuk merawat kesehatan pikiran, tubuh, dan jiwa.

Artists' Dolls karya Sally Smart. (CNN Indonesia/Silvia Galikano)
Dia menggaris, menggores, membentuk, menggunting, memotong, dan merangkai kembali, layaknya proses mengonstruksi, mengoreksi, mendekonstruksi, dan merekonstruksi.

Choreographing Collage (2013), misalnya, satu bingkai yang berisi macam-macam. Sebidang hitam layaknya papan tulis dicoret sana-sini dengan kapur tulis lengkap dengan bekas tulisan yang sudah dihapus lalu ditimpa coretan kapur lagi.

Di antara coretan itu ditempelkan potongan-potongan kertas membentuk beberapa sosok manusia. Anehnya, tak ada yang sempurna. Badan menghadap depan, kaki menghadap samping, kepala menghadap bawah. Tangan kiri ada di lengan kanan, tangan kanan pun tanpa lengan, langsung telapak.

Sally menyebut menggunting dan  memotong adalah sikap politik, yakni politik memotong (cutting politic). Menggunakan teknik memotong dan menjepit, yakni menempelkan bentuk potongan pada gambar lain, adalah caranya merespon identitas dan politik, sekaligus sebagai metode menjelajahi tubuh.

Sejak 1990, Sally mengembangkan pendekatan dan teknik ini bersamaan dengan kenyataan munculnya tegangan tentang identitas, gender, ras, politik, dan problem sosial-ekonomi. Kenyataan ini menumbuhkan kesadaran untuk mengolah realitas tersebut menjadi ide-ide sekaligus menentukan sudut pandang dan mewujudkannya secara visual.

Berangkat dari latar budaya berbeda, Entang dan Sally bertemu di titik simpul persoalan-persoalan kemanusiaan, ideologi, identitas, serta muatan opini terhadap kompleksitas sejarah manusia.

Itu pula alasan dipilihnya tema conversation (percakapan) yang mengisyaratkan terjadinya kolaborasi, meski dua seniman ini tidak menggunakan kata tersebut. Pasalnya kolaborasi sering diasosiasikan sebatas persoalan teknis dan fisik. Sedangkan yang dilakukan Entang dan Sally jauh dari pengertian dan persepsi praktik pragmatis semacam itu.

Entang menyebut karya-karyanya sebagai cara “menggaruk rasa gatal.” Sementera Sally menyebut karya-karyanya sebagai upaya “menambal sobek (luka) meski tetap meninggalkan bekas.”

Melalui topik “percakapan sejarah manusia sepanjang zaman”, pameran ini dapat disebut sebagai peneguhan yang lebih kompleks atas ungkapan ars longa vita brevis. Kehidupan relatif pendek, tapi kekuatan visual dan narasi seni yang tersimpan di dalamnya hidup sepanjang zaman.

(vga)