Lantunan Elok Lagu Puisi AriReda

Silvia Galikano, CNN Indonesia | Rabu, 27/01/2016 09:37 WIB
Momen menyenangkan kala menyimak puisi Hujan Bulan Juni karya Sapardi Djoko Damono dilagukan AriReda. Ari Malibu, Reda Gaudiamo, dan Jubing Kristianto dalam acara AriReda Menyanyikan Puisi di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, Rabu (27/1). (CNNIndonesia Rights Free/Dok. Bunga Yuridespita)
Jakarta, CNN Indonesia -- Setelah 33 tahun bersama, akhirnya duet AriReda punya album ke-dua, Menyanyikan Puisi. Pun akhirnya manggung memakai nama mereka: AriReda. AriReda: Menyanyikan Puisi.

Acaranya dihelat di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, 26 & 27 Januari 2016, dengan penampilan pembuka oleh Tetangga Pak Gesang.

Penonton beragam usia memenuhi Teater Kecil yang berkapasitas 200 kursi. Jauh-jauh hari sudah diumumkan tiket seharga Rp100 ribu terjual habis via online, sampai-sampai tak ada penjualan tiket di tempat pertunjukan.


Reda Gaudiamo tampil dalam balutan kain tenun biru dan blus abu-abu duduk di kanan, Ari Malibu yang berkemeja longgar dan bercelana jeans ada di kiri. Ari memangku satu gitar. Satu gitar lagi tersandar di sampingnya.

Pada Suatu Pagi Hari jadi pembuka, berlanjut ke Kartu Pos Bergambar Jembatan Golden Gate San Fransisco, dua musikalisasi puisi Sapardi Djoko Damono yang lagunya masing-masing dibuat Budiman Hakim dan Umar Muslim.

Kabut yang likat/ dan kabut yang pupuh/ lekat dan gerimis pada tiang-tiang jembatan// matahari menggeliat dan kembali gugur/ tak lagi di langit berpusing/ di perih lautan///

Setelah Bunga-bunga di Halaman yang diambil dari album ke-dua, Reda menyapa penonton. Mantan dosen periklanan dan pemimpin redaksi sebuah majalah wanita ini menceritakan kelegaannya merilis album ke-dua.

Menyanyikan Puisi, yang keluar pada akhir 2015 lalu, menggunakan cover tampak belakang patung karya Sri Astari, Drupadi. Menyanyikan Puisi harus menunggu delapan tahun setelah album pertama AriReda, Becoming Dew, keluar pada 2007.

Album ke-dua duet ini berisi sembilan musikalisasi puisi karya penyair ternama Indonesia, seperti Abdul Hadi WM, Goenawan Mohammad, Mozasa, Sapardi Djoko Damono, dan Toto Sudarto Bachtiar. Dua yang baru saja dinyanyikan, Bunga-bunga di Halaman dan Lanskap, musiknya dikerjakan Umar Muslim.

Tak berlebihan ketika Dharmawan Handonowarih, penulis dan sahabat yang sudah mengenal AriReda sejak mereka sama-sama di bangku kuliah, menyebut duet ini semakin matang dari cara menghitung setiap tekanan dan tarikan suara serta petikan gitar.

Kesederhanaan AriReda bisa jadi ditafsirkan beragam di hati tiap orang.

Dalam kalimat pengantar sebelum duet ini tampil, Dharmawan sampaikan, “Bagi saya, kesederhanaan AriReda adalah pada pilihan mereka, bahwa ketika bernyanyi, mengembalikan suara dan penghayatan pada hal yang mendasar, justru di tengah kekaburan akan hal itu yang terjadi belakangan ini. Mereka seakan kokoh berada di sana selama puluhan tahun.”

Lalu meluncurlah musikalisasi puisi yang sudah sangat akrab di telinga penggemar, seperti Pada Suatu Hari Nanti, Di Beranda Ini Angin Tak Kedengaran Lagi, Ketika Kau Tak Ada, Di Restoran, Nokturno, dan Hujan Bulan Juni.

Baca juga Sapardi Djoko Damono: Bikin Puisi Jangan Marah

Keduanya kemudian menghilang ke belakang panggung, berganti dengan kemunculan gitaris Jubing Kristianto yang memainkan Naik-naik ke Puncak Gunung dan Hujan Fantasy yang menghadirkan keceriaan tersendiri.

Lalu, bertiga, Ari-Reda-Jubing, membawakan Gadis Kecil, Kuhentikan Hujan, dan Sajak-sajak Kecil tentang Cinta. Encore, sesi bonus setelah penonton berseru-seru “lagiii”, AriReda membawakan Ketika Kau… dan Aku Ingin.

Konser AriReda adalah awal dari rangkaian Bermain di Cikini, sebuah tradisi merayakan kembalinya akses yang mudah (dan murah) untuk menggunakan berbagai sarana gedung pertunjukan di Jakarta.  

Alasannya, menurut Felix Dass, produser Bermain di Cikini, tampil di gedung pertunjukan masih menjadi pengalaman yang jarang mampir ke banyak band bagus, padahal bermain di gedung pertunjukan bukanlah sebuah hal yang spesial.

“AriReda adalah pionir yang punya kemampuan untuk mengawali perjalanan mewujudkan misi ini,” kata Felix.

Ari dan Reda berkenalan pada 1982. Saat itu Reda yang mahasiswa Sastra Prancis UI semester 3 diajak Ferrasta Soebardi (Pepeng) menyanyi, mengisi perayaan ulang tahun Ikatan Kekerabatan Antropologi UI.

Pepeng menyandingkan Reda dengan Ari, mahasiswa Akademi Pimpinan Perusahaan tapi sering dikira mahasiswa UI karena hampir selalu ikut acara seni mahasiswa UI. Berlatar belakang referensi musik yang berbeda, Reda pun punya banyak PR mempelajari lagu-lagu John Denver, yang bahkan namanya baru dia ketahui hari itu.

Baru pada 1987, Reda bekerja sama dengan Ags. Arya Dipayana menggarap proyek musikalisasi puisi. Ari bergabung setahun kemudian.

Hingga 33 tahun kemudian, duet ini kian kokoh walau sempat ada kegamangan dalam proses waktu, “istirahat” sejenak dan menempuh jalan masing-masing. Namun keduanya kembali lagi ke rumah AriReda, menekuni sembari mensyukuri.

Pertunjukan musik AriReda masih bisa disimak pada malam ini (27/1) di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, Jakarta. (sil/vga)