Tiga Tahun 'Mengumpet,' Radiohead Kembali Manggung

Fadli Adzani, CNN Indonesia | Jumat, 22/01/2016 14:00 WIB
Setelah tiga tahun tidak meramaikan panggung-panggung besar dunia, Radiohead kembali dengan wajah yang lebih fresh, juga album baru. Thom Yorke menjadi salah satu bintang musik di era 1990-an. (GettyImages/Peter Macdiarmid)
Jakarta, CNN Indonesia -- Grup musik asal Inggris, Radiohead, siap mengepakkan sayapnya kembali di industri musik dunia. Setelah tiga tahun tidak manggung dan melakoni tur konser, akhirnya Thom Yorke dan kawan-kawan siap bereuni.

Tidak tanggung-tangung, sebagaimana dilansir Pitchfork, Radiohead mengonfirmasi siap beraksi di tiga festival besar, yaitu Primavera Sound di Spanyol, Nos Alive di Portugal, serta OpenAir St. Gallen di Swis.

Pihak Primavera Sound menyatakan, Radiohead siap memamerkana lagu dari album musik terbaru saat manggung nanti. Sementara di OpenAir St. Gallen, sang pelantun Creep, bakal sepanggung dengan Tame Impala.


Berita album musik terbaru Radiohead memang sudah simpang siur sejak Januari 2015. Kala itu, penabuh drum Phil Selway menyatakan Radiohead telah masuk ke dapur rekaman untuk merekam beberapa lagu terbaru.

Tidak lama setelah itu, sang gitaris, Jonny Greenwood, mengonfirmasi kepada The Guardian bahwa Radiohead sedang sibuk merekam lagu-lagu baru.

Jika benar Radiohead kelak memainkan lagu-lagu dari album musik teranyar mereka di Primavera, maka akan menjadi album musik pertama dalam empat tahun terakhir, menyusul album ke-delapan, The King of Limbs (2011).

Radiohead sendiri sudah lama tak menjadi subjek pemberitaan. Kecuali berita beberapa waktu lalu sempat beredar pernyataan, sang vokalis, Yorke, yang menyebut situs YouTube mirip dengan Nazi.

Yorke menyatakan hal tersebut saat diwawancara oleh surat kabar La Repubblica, yang dilansir dari NME, pada November tahun lalu.

"Saya sama sekali tidak pernah menggunakan layanan YouTube. Saya mendengarkan musik melalui layanan musik berbayar baru bernama Boomkat," kata Yorke.

"Saya bukan terganggu dengan iklannya. Tapi menurut saya situs web itu tidak adil kepada musisi. Saya heran mengapa YouTube malah merasa mendapat ketidakadilan saat orang-orang menggunakan aplikasi untuk mengenyahkan iklan di situs web-nya," lanjut Yorke.

Musisi yang juga bermusik dengan grup band rock Atoms for Peace dan Headless Chickens ini mengaku tidak tahu apa solusi yang tepat untuk mengatasi masalah tersebut.

"Orang mengatakan, saat ini, ialah saat di mana semua hal menjadi gratis, mulai dari musik hingga film. Tapi pihak penyedia layanan mendapat banyak uang. Mereka memegang kontrol penuh, seperti Nazi," ujar Yorke. (fad/vga)