Sapardi Djoko Damono: Bikin Puisi Jangan Marah

Silvia Galikano, CNN Indonesia | Kamis, 28/01/2016 10:49 WIB
Sapardi Djoko Damono: Bikin Puisi Jangan Marah Sapardi Djoko Damono (CNN Indonesia Rights Free/Dok. Bunga Yuridespita)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sapardi Djoko Damono adalah mata air—sumber dendang indah duo AriReda. Para penulis lagu berbakat, seperti Ags. Dipayana dan Umar Muslim menghidupkan puisi-puisi Sapardi mewujud keindahan lain saat dinyanyikan duo ini, Ari Malibu dan Reda Gaudiamo.

Saat digelar pertunjukan musik AriReda: Menyanyikan Puisi di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, Selasa (26/1), Sapardi tampil membacakan tiga karya puisinya: Tentang Mahasiswa yang Mati, 1996; Dongeng Marsinah; dan Pour Tom.

Baca juga Lantunan Elok Lagu Puisi AriReda

Begitu naik panggung, ia sempat berseloroh, “Saya grogi. Nyanyi bagus-bagus begitu kok, saya disuruh baca puisi. Kalau kencang-kencang takut gigi palsu saya copot.” Sontak para penonton pun terbahak mendengar guyonan yang polos.


Sapardi tampil dengan kemeja merah dilapisi jaket biru, celana hitam, topi pet, dan memegang tongkat. Lalu, tongkat itu ia sandarkan di belakang kursi Reda.

Sebenarnya, kata Sapardi, dirinya bisa berjalan tanpa tongkat. Tapi para mahasiswa lah yang memintanya agar membawa tongkat supaya tampak benar-benar profesor. Sapardi sudah pensiun, namun sesekali masih mengajar.

Puisi yang pertama dibacakan, Tentang Mahasiswa yang Mati, 1996, diambil dari buku Melipat Jarak yang disebut Sapardi “saudara kembar Hujan Bulan Juni.” Puisi ini dibuat pada 1996 saat sedang ramai demonstrasi mahasiswa.

Aku mencintainya sebab ia mati ketika ikut rame-rame hari itu / Aku tak mengenalnya / hanya dari koran / tidak begitu jelas memang / kenapanya atau bagaimana (bukankah semuanya demikian juga?) tetapi rasanya cukup alasan untuk mencintainya ///

Untuk puisi ke-dua, Sapardi sebenarnya dipesan untuk membacakan Hujan Bulan Juni. “Tapi baca saja novelnya. Kata penerbitnya, best-seller, dan moga-moga saja bulan Juni nanti Anda sudah bisa menonton filmnya.”

Sebagai ganti, dia bacakan Dongeng Marsinah, puisi tentang Marsinah (1969-1993), buruh pabrik di Sidoarjo yang diculik dan ditemukan tewas setelah berunjuk rasa menuntut kenaikan upah.

“Saya 'nulis, marah, 'nulis, marah. Sampai hari ini saya masih marah, tapi karena sudah jadi puisi jadi tidak marah. Menurut saya, orang marah tidak usah menulis, demo saja deh.”

Seperti ini penggalan Dongeng Marsinah:

Marsinah, kita tahu, tak bersenjata / ia hanya suka merebus kata sampai mendidih / lalu meluap ke mana-mana // “Ia suka berpikir,” kata Siapa / “itu sangat berbahaya.” // Marsinah tak ingin menyulut api / ia hanya memutar jarum arloji / agar sesuai dengan matahari / “Ia tahu hakikat waktu,” kata Siapa / “dan harus dikembalikan ke asalnya / debu.” ///

Selesai membacakan puisi ke-tiga dan terbaru, Pour Tom, Sapardi menyampaikan terima kasih pada para mahasiswanya era 1980-an, yakni Reda dan kawan-kawan. “Yang semuanya sontoloyo, sudah ambil puisi-puisi saya,” namun segera disahut Reda, “Dikasih kok, Pak.”

“Puisi saya jadi dikenal. Tanpa ada lagu itu, siapa sih yang mau baca puisi?” (sil/vga)