Langkah Pertama Pram Keluar Pulau Buru

Rizky Sekar Afrisia, CNN Indonesia | Sabtu, 06/02/2016 08:14 WIB
Langkah Pertama Pram Keluar Pulau Buru Pramoedya Ananta Toer saat pertama bertemu anak-anaknya setelah keluar dari Pulau Buru. (Dok. Pribadi Pramoedya Ananta Toer)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pramoedya Ananta Toer hanya menatap hampa saat keluarga menjemputnya di Salemba, akhir Desember 1979. Ia melihat heran pada remaja-remaja yang berbaris di hadapannya. Satu yang Pram kenali hanya istrinya.

Astuti Ananta Toer berteriak, "Papi, papi." Namun Pram bergeming. Ia berteriak lagi, "Ayahanda!" Pram masih juga bingung tak bereaksi. Terakhir, Astuti berteriak lantang, "Ayah, ayah, ini aku, anakmu!"

Sang penulis Bumi Manusia akhirnya tersentak. Ia baru sadar, para remaja yang dari tadi berdiri di hadapannya, ia tatap dengan bengong, adalah anak-anaknya. Barulah Pram bereaksi memeluk mereka.


Wajar saja Pram kebingungan. Saat ia dibawa secara paksa ke Pulau Buru pada 1966, usia Astuti anak ke-empatnya masih 10 tahun. Anak laki-lakinya baru dilahirkan. Saat ia akhirnya boleh pulang, Astuti sudah berusia sekitar 23 tahun.

Mereka tak pernah bertemu selama belasan tahun. Sebenarnya keluarga boleh menjenguk, namun Pram memilih melarang istri dan anak-anaknya datang. Sebab ia khawatir, mereka tidak akan bisa kembali.

Jika keluarganya datang di Pulau Buru, Pram khawatir akan ada instruksi dadakan untuk menahan mereka sekalian.

"Di dalam suratnya ayah saya pernah berjanji menggendong saya kalau keluar. Mungkin saya dibayangkannya masih kecil. Jadi saya tanya, 'Apa kuat?' Dia bilang pasti kuat," cerita Astuti saat berbincang dengan CNNIndonesia.com, pada Jumat (5/2).

Namun saat ternyata didapatinya anak-anaknya sudah beranjak dewasa, Pram tetap menepati janjinya tanpa ragu. Dengan tubuh lebih berisi karena banyak bekerja di Pulau Buru, ia menggendong Astuti.

Rantang dan tikar yang ia bawa dari Pulau Buru, diletakkan begitu saja. Sementara barang-barang lainnya, kata Pram, lebih banyak dititipkan ke kawan. Salah satunya kapten kapal yang membawanya ke Jakarta.

Selama Pram di Pulau Buru, Astuti dan saudara-saudaranya memang "tak punya" ayah secara fisik. Namun mereka tak kehilangan sosoknya. Sang ibu tetap memasang foto Pram di setiap kamar anak-anak sehingga mereka merasa ayahnya tetap dekat.

"Secara finansial, ibu dari keluarga berada. Tapi ibu tetap menolak pemberian keluarganya. Ibu berusaha sendiri dengan jualan kue macam-macam," cerita Astuti.

Pram dikenal sebagai penulis. Sastrawan kenamaan yang karyanya diterjemahkan ke banyak bahasa itu dianggap komunis dan berkali-kali ditahan sejak masa kolonial.

Astuti bercerita, penahanan terakhirnya yang sampai membawa Pram ke Pulau Buru selama belasan tahun lamanya, berawal dari kliping koran pertama yang didokumentasikan sang ayah. Lewat itu, Pram bermimpi meluruskan sejarah.

"Ada intel datang, meminta dokumen ditukar sama mobil terbagus di Indonesia zaman itu," kata Astuti. Namun sampai tiga kali, Pram menolak. Orang itu lantas berbicara, "Pram ibarat tikus, dan saya itu kucing. Saya bisa dengan mudah memangsa Pram."

Benar saja. Tak lama kemudian, sekitar 13 Oktober 1966, terjadilah penangkapan di rumah Pram di kawasan Rawamangun, Jakarta.

Pada 12 Oktober, Astuti terakhir bertemu ayahnya. Ia diambil dari rumah saudara di Batu Tulis Raya. Sempat terjadi perebutan, namun akhirnya Pram "menang." Ia pun tidur sambil memeluk erat Astuti malam itu.

"Tanggal 13 malam baru dia diangkut, rumah dilempari batu," cerita Astuti.

Militer menyerbu. Selain menangkap Pram, mereka juga bertanya, "Mana anak laki-lakimu?" Pram pun menjawab, "Bersama ibunya." Sang putra memang saat itu baru dilahirkan istrinya di rumah orang tuanya.

Anak laki-laki adalah impian Pram sejak lama. Sebelumnya, anak-anaknya perempuan. Karena itulah militer ingin membawa anak laki-laki Pram yang sudah diidamkan dari dulu. Karena merasa Pram menyembunyikan putranya, milter itu pun bertindak kasar.

Rumah yang diserang itu adalah rumah pertama yang kudirikan di Jakarta sebagai pengarang, pengarang doang. Anak-anak kubesarkan di sini, kubangun pada 1968.Pramoedya Ananta Toer
Mereka menodong dan memukul telinga Pram dengan popor senapan. "Makanya Pram itu tuli," tutur Astuti kembali melanjutkan.

Astuti ingat betul, penangkapan itu terjadi di rumah keluarganya yang sampai kini tak pernah dikembalikan. "Malah dijadikan mess militer," tuturnya.

Pram pernah menulis di sebuah catatan yang hingga kini belum juga diterbitkan, "Rumah yang diserang itu adalah rumah pertama yang kudirikan di Jakarta sebagai pengarang, pengarang doang. Anak-anak kubesarkan di sini, kubangun pada 1968."

Tulisan itu dibuat pada 2003, dan Pram mengaku tak pernah mendapat kembali rumahnya. "Pada seorang penghuni kudapat keterangan, ia meninggali rumah atas perintah Kodam V Jaya. Kami 7 tahun meninggali rumah itu sedang orang lain 43 tahun tanpa pernah membayar," tulisnya.

Setelah meninggalkan Pulau Buru, Pram banyak tinggal di Utan Kayu. Ia masih berkarya ditemani seabrek buku. Namun belakangan, sejak 2000 ia pindah ke Bojonggede, ke rumah barunya sendiri.

Keluarga Pram bak merayakan pesta setiap hari saat orang kebanggaan mereka kembali pulang. Setiap hari, ada saja tamu berdatangan. "Kami menyiapkan makanan buat puluhan sampai ratusan orang tiap hari."

Pram sendiri terus berkarya. Ia masih menulis, membuat buku, berusaha menuntaskan ensiklopedia yang menjadi mimpinya sampai ke akhir hayat.

Sebelum meninggal 30 April 2006, kepada Astuti ia sempat berpesan, "Semua ini saya serahkan ke engkau, Nduk. Tapi kalau itu membebani engkau, kau buang saja." Sampai kini, Astuti meninggali rumah peristirahatan Pram di usia senjanya itu. (rsa/rsa)