Kenyataannya, tak semua orang bisa menikmati jazz. Berbeda halnya dengan pop atau dangdut. Maka tak heran bila kemudian muncul anggapan musik ini hanya diciptakan untuk masyarakat kalangan tertentu.
Namun anggapan ini dinilai keliru sekaligus merugikan oleh Adra Karim, pemain keyboard grup band fusion jazz Tomorrow People Ensemble, yang juga pengajar Institut Musik Daya Indonesia di Jakarta.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di mata Adra, pengotak-ngotakan musik merupakan masalah nomor satu, dan ia sama sekali tak setuju. "Semakin lama, [premis] itu seperti memenggal hak orang untuk mendengarkan musik!"
Adra pun menyesalkan kenyataan: pada saat sebagian masyarakat Indonesia menganggap jazz adalah musik kalangan atas, mereka malah melupakan musik tradisional warisan nenek moyang sendiri.
"Kita bisa melihat bahwa masyarakat Indonesia mulai meninggalkan musik tradisional, sedangkan komposer luar negeri malah getol mempelajari musik tradisional kita," paparnya dengan nada prihatin.
Lalu, ia menceritakan tentang tiga komposer Amerika Serikat yang mempelajari gamelan Bali, yakni Phillip Glass, Colin McPhee dan Stephen Rae. Ketiganya membuat aliran baru: musik minimalis klasik.
"Mereka bertiga ke Bali untuk langsung mempelajari musik tradisional kita. Di saat kita menganggap bahwa jazz adalah musik kalangan atas, orang luar negeri sudah mempelajari musik tradisional kita."
Pernyataan yang dilontarkan Adra pun tak main-main. Pria yang sempat belajar di kampus musik terkenal Universitas Groningen, Belanda, itu pun juga pernah mempelajari buku Music in Bali.
Ia menganggap bahwa Indonesia adalah bangsa yang besar dari musik. Maka dari itu, sangat disayangkan jika masyarakat terus menganggap bahwa musik harus diberikan label atau kelas.
"Kita bangsa yang besar dari musik, semua orang main di sini. Kita harus menghilangkan masalah [pengotak-ngotakan musik] itu."
(vga/vga)