'Curhat' Kreator Minions ke Ibunda

Silvia Galikano, CNN Indonesia | Minggu, 28/02/2016 18:24 WIB
'Curhat' Kreator Minions ke Ibunda Sutradara Kyle Balda (kiri) dan Pierre Coffin bersama “ondel-ondel” Minions (CNN Indonesia Reuters Photo/Luke MacGregor)
Jakarta, CNN Indonesia -- Anak-anak Nh Dini dan Yves Coffin, yakni Marie Claire Lintang Coffin dan Pierre Louis Padang Coffin, kini tinggal di benua berbeda. Namun mereka masih terus berkomunikasi dengan sang ibu. Tanpa dikelilingi anak cucu, toh Dini tetap bertahan hidup.

Pada Sebuah Kapal terus mengalami cetak ulang sejak pertama kali diterbitkan Pustaka Jaya pada 1972, lalu diambil alih Gramedia Pustaka Utama, pada 1985, hingga sekarang. Novel ini jadi referensi pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah-sekolah.

Tak heran jika Pada Sebuah Kapal masih dapat menafkahi Dini. Tiap enam bulan dia menerima laporan jumlah buku yang terjual sekaligus mendapat royalti buku-bukunya, rata-rata Rp3 juta, dengan persentase terbesar dari Pada Sebuah Kapal.


Dini pernah selama tiga tahun bisa hidup hanya dari royalti Gramedia, yakni setelah keran reformasi dibuka, karena menerima royalti Rp9 juta-Rp15 juta. Sesudah itu, pamor buku terjun bebas, kalah oleh gadget.

“Untunglah, Tuhan juga yang mengatur. Sejak 13 tahun terakhir ini, anak saya, Padang, mampu mengirim US$500-US$1000. Apalagi sejak keluarnya film Minions [Juli 2015], tiap dua bulan saya dikirim US$2000 [setara Rp28 juta], jadi bisa bayar wisma yang terbaik di Indonesia,” kata Dini saat dijumpai CNN Indonesia.com di kediaman sepupunya, Edi Sedyawati, di Menteng, Jakarta, pada Oktober 2015.

Dini tinggal di Wisma Lansia Harapan Asri, Banyumanik, Semarang, menempati kamar berukuran 7x9 meter dengan biaya sewa Rp5 juta per bulan. Pengelola wisma sangat memperhatikan makanan yang disediakan, menyesuaikan kondisi penghuni yang sepuh. Menunya dirujuk ke dapur RS Elisabeth.

Ini meruntuhkan gosip bahwa Dini hidup merana di hari tua, diabaikan anak-anaknya, serta sudah lama tak bertemu Lintang dan Padang. “Padahal saya ke Paris waktu tayangan perdana Despicable Me 2 [2013].”

Padang kini bekerja di Los Angeles, sementara istri dan dua anak mereka tetap di Paris dengan pertimbangan pendidikan lebih bagus di Perancis ketimbang Amerika. Tinggal terpisah dari keluarga sempat jadi keluhan Padang saat bertelepon dengan ibunya.

“Saya bilang ke Padang, ‘Ya disyukuri, walau harus ulang-alik. Hidup kan pilihan.’ Kelihatannya dia dipercaya betul oleh produsernya, tidak ganti-ganti.”

Hubungan kakak beradik Lintang dan Padang pun tetap hangat. Paling sering, mereka saling telepon. Sesekali, kalau Padang punya libur cuma dua hari dan tidak pulang ke Paris, dia ke Kanada menengok sang kakak.

Lintang tinggal Windsor, Ontario, Kanada, bersama suami dan dua anak mereka. Dini sudah “tidak berani” lagi ke Kanada karena makan waktu lama untuk perjalanan. Tiga hari dengan tiga kali ganti pesawat, dan turun paling akhir di Detroit, AS. Dari Detroit ke tempat Lintang tinggal menyeberangi Sungai Detroit.

Visa yang dibutuhkan pun dua, visa Amerika dan Kanada. Visa Amerika mudah didapat karena di Surabaya ada konsulat dan sudah kenal Dini.

“Yang repot mendapat visa Kanada. Walau sudah ada asuransi, ada surat tanggungan, tetap saya harus datang untuk wawancara. Jadi saya sudah tidak mau lagi.”

Maka Lintang-lah yang mendekat, bertemu di Bangkok atau di Bali atau di tempat lain sesuai perjanjian. Tahun lalu, misalnya, usai perjalanan ke Korea, Lintang dan keluarga bertemu Dini di Bali. Mereka berlibur di pulau itu selama tiga pekan.

“Sehari-hari [selama di Bali], saya [bekerja] di laptop, dia pergi sama keluarganya. Nanti dari jalan dia telepon, ‘Maman, kami makan siang di hotel, kamu jangan makan dulu, tunggu,' atau 'Maman, kami pulang jam enam nanti, kamu makan sendirian tidak apa-apa ya?’”

Cara yang sama pernah sekali dicoba dengan keluarga Padang sewaktu anak-anak Padang masih berusia delapan tahun dan lima tahun. Mereka bertemu di Bangkok. Cuaca Bangkok yang panas membuat anak-anak rewel terus. Akibatnya, liburan hanya berjalan lima hari.

Lintang sekarang guru SMA dan instruktur yoga di studio milik temannya, tempat dia sebelumnya belajar. Si jelita ini pemilik sabuk hitam judo serta penyandang gelar doktor (PhD) di bidang komunikasi dan media dari Wayne State University di Detroit, Amerika Serikat.

(sil/vga)