Kedua film karya anak bangsa itu masuk dalam kategori yang berbeda. Marlina masuk dalam kategori L'Atelier Cinéfondation. Itu merupakan "pasar" tempat sineas negara mana pun bisa mendapat fasilitas dan bekerja sama dengan produser atau sineas Eropa.
Fasilitas yang didapat bisa berupa dana maupun bantuan mendistribusikan film. Namun bagi Mouly, tujuan utamanya bukan mencari bantuan dana. Menurutnya, diskusi dalam festival film Cannes itu lebih penting.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain di Busan, film Marlina juga menjadi salah satu penerima Next Masters Support Program dalam ajang Talents Tokyo 2015.
"Kalau yang dari Busan itu sifatnya dukungan distribusi. Tetapi sebelumnya kami dapat bantuan dana dari Tokyo yang mencukupi sampai penulisan skenario selesai," katanya.
Berbeda kategori dengan Mouly, film pendek Prenjak masuk kategori La Semaine de la Critique. Wregas menjelaskan, saat membuat Prenjak ia memang ingin mendaftarkan karyanya Cannes Film Festival. Wregas dan Studio Batu bergerak cepat soal produksi.
"Syutingnya dua hari, editing satu minggu. Pas melihat Cannes sudah buka, saya langsung cepat daftar," kata Wregas menjelaskan.
Cannes Film Festival bukan festival internasional pertama bagi Wregas. Karyanya yang bertajuk Lembusura juga pernah masuk Berlinale Festival Film 2015. Selain itu, karyanya yang bertajuk Floating Chopin juga masuk dalam Hong Kong Film Festival 2016.
Jauh sebelum itu, Wregas mengaku sebenarnya sudah mengincar Cannes Film Festival sejak masih duduk di bangku kuliah.
"Waktu kuliah saya dan teman-teman cuma lihat di YouTube, bagaimana Cannes Film Festival. Ketika itu saya mikir, harus buat berapa karya dan umur berapa bisa masuk sana. Sekarang saya 23 tahun dan tidak menyangka, ucap Wregas bercerita.
Prenjak bercerita tentang seorang perempuan asal Yogyakarta yang menjual korek api dengan harga per batang sebesar Rp10 ribu. Yang istimewa, setelah menyerahkan uang, pembeli bisa melihat anggota tubuhnya. (rsa)