Buku Fantasi Dianggap Merusak Otak Anak

Rizky Sekar Afrisia, CNN Indonesia | Kamis, 12/05/2016 10:06 WIB
Buku Fantasi Dianggap Merusak Otak Anak Buku fantasi dianggap merusak otak anak. (Lisa Maree Williams/Getty Images)
Jakarta, CNN Indonesia -- Orang tua sepertinya harus berpikir ulang jika ingin memberi anak-anak mereka buku atau tontonan Harry Potter, The Hunger Games, maupun Game of Thrones. Mereka memang populer dan mendatangkan banyak uang, bahkan hingga bertahun-tahun kemudian.

Namun judul-judul itu termasuk yang dilarang oleh guru-guru sekolah khusus. Alasannya, cerita-cerita fantasi semacam itu bisa merusak otak anak-anak. Teks mistis dan menakutkan dari buku itu dianggap merusak karena berisi materi yang sangat insensitif tapi juga adiktif.

Graeme Whiting, seorang guru sekolah khusus menulis artikel berjudul The Imagination of the Child di situs web The Acorn School. Itu merupakan sekolah swasta yang muridnya tak diwajibkan mengenakan seragam. Penganut nilai-nilai "kuno" literatur tradisional itu menganggap, membeli buku sensasional untuk anak seperti memberi mereka timbunan gula-gula tambahan.


Menurutnya, orang tua harus melindungi anak-anak mereka dari "literatur yang gelap dan jahat, yang menebarkan ide-ide sihir serta cerita yang berhantu dan menakutkan." Ia bahkan menganggap butuh izin khusus bagi orang tua yang membeli buku semacam itu.

"Saya ingin anak-anak membaca literatur yang pantas untuk usia mereka dan meninggalkan teks mistis serta menakutkan itu ketika mereka mulai bisa melihat realitas dunia dan dalam tahap awal mempelajari keindahan," tulis Whiting sebagai argumen di artikelnya.

Ia menegaskan, tidak semua anak harus punya atau membaca Harry Potter, The Hunger Games, Lord of the Rings, dan Game of Thrones. "Untuk remaja yang bisa memahami untuk apa literatur ini, ada banyak pilihan," tulisnya melanjutkan. Ia merekomendasikan sastra-sastra klasik seperti Wordsworth, Keats, Shelley, Dickens, dan Shakespeare.

"Anak-anak itu masih tak berdosa dan murni, tidak butuh 'dirusak' dengan memenuhi imajinasi mereka dengan kebohongan dan hal-hal yang tidak pantas. Hati-hati pada 'iblis' di dalam teks. Pilih yang indah-indah untuk anak-anak," Whiting kembali menyarankan.

Sejauh ini, belum ada penelitian ilmiah untuk mengukur apakah benar teks-teks dari buku fantasi yang ada sekarang merusak otak anak. (rsa/rsa)