Jasa Daeng Soetigna Bikin Angklung Naik Kelas

Rizky Sekar Afrisia, CNN Indonesia | Jumat, 13/05/2016 10:27 WIB
Jasa Daeng Soetigna Bikin Angklung Naik Kelas Ilustrasi anak-anak memainkan angklung. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sebelum tangan Daeng Soetigna mengutak-atiknya, angklung hanya punya lima nada seperti pada gamelan. Di usia senja, Daeng membuatnya seperti mainan kala senggang.

Tapi hasilnya tak main-main. Daeng berhasil mengubah angklung yang tadinya bernada pentatonik menjadi diatonik, punya delapan nada dalam tiap oktaf. Angklung pun bisa dimainkan lebih bebas sebagai melodi lagu.

Dengan alat tradisional itu pula ia merangkai musik. Aransemen demi aransemen yang ia buat sampai bisa dimainkan sekelas konser.


Padahal usianya pada 1964 itu sudah 56 tahun.

Daeng kemudian lebih dikenal sebagai pencipta angklung, yang sampai sekarang banyak digunakan, ketimbang profesinya terdahulu sebagai guru. Angklung yang ia ciptakan bahkan disebut Angklung Padaeng.

Ia sukses mengangkat derajat angklung yang mulanya dianggap sebagai alat musik kelas bawah. Padahal menurut cerita Wikipedia, inspirasinya saat itu hanya seorang pengemis tua. Dari pengemis itu Daeng membeli angklung pertamanya, lalu memodifikasinya.

Ia berguru pada seorang empu pembuat angklung yang sudah sepuh. Sebelumnya, Daeng tahu dari seorang petani bahwa bambu yang baik dan awet untuk angklung harus dipotong saat kering, yakni musim kemarau.

Angklung modifikasinya ia ajarkan ke berbagai kelompok musik di sekolah-sekolah, bahkan istri para militer dan suster-suster di gereja. Menurutnya itu bisa jadi alat alternatif yang lebih murah untuk mengajarkan musik.

Ia juga pernah unjuk gigi memainkan angklung di hadapan para pesohor bangsa, termasuk Presiden Soekarno. Semua terpukau. Angklung ternyata bisa mengiringi musik Barat.

Saat upayanya berhasil dan kini nama angklung bergaung di mana-mana, Daeng mendapat ganjarannya. Ia menerima banyak penghargaan, termasuk Satya Lencana Kebudayaan dari Presiden Republik Indonesia.

Penghargaan Nasional Hal Kekayaan Intelektual 2013 dari Menteri Hukum dan Hak Asasi RI sebagai pencipta angklung pun jatuh ke tangannya dari Amir Syamsuddin.

Hari ini, Jumat (13/5) Daeng pun dikenang melalui Google Doodle. Sosoknya membawa angklung dengan dua anak kecil menghiasi halaman awal mesin pencari nan canggih itu.

Seharusnya kini, tepat pada hari ulang tahun pada 13 Mei, Daeng berusia 108 tahun. Namun sang bapak angklung meninggal pada 8 April 1984 dan dimakamkan di Cikutra, Bandung. (rsa/vga)