Arifin Putra Jadi 'Bolang' Gara-gara Sang Ayah

Munaya Nasiri, CNN Indonesia | Senin, 27/06/2016 08:15 WIB
Kenangan bersama sang ayah yang paling melekat dalam benak Arifin Putra, saat menyusuri hutan di sekitar Taman Safari, di kaki Gunung Gede-Pangrango. Arifin Putra (CNN Indonesia/Andry Novelino0
Jakarta, CNN Indonesia -- Kebagian peran sebagai pria bernama Satya, sejak muda sampai menikah dan menjadi ayah, di film Sabtu Bersama Bapak sempat dirasakan berat oleh aktor tampan Arifin Putra.

Bukan lantaran ia masih bujang sehingga harus “kursus menjadi ayah” dengan penulis novel/naskah film Sabtu Bersama Bapak, Adhitya Mulya, namun di balik itu, ia pribadi menyimpan kisah sedih bersama ayah kandungnya.

Saat ditemui di sebuah mal di Jakarta, baru-baru ini, Arifin bercerita bahwa kedua orang tuanya telah lama bercerai. Tepatnya sejak 1999, ketika ia masih berusia 13 tahun. "Dan sejak tahun '99 pun aku belum ketemu lagi sama ayah aku," katanya


Sang bintang The Raid 2: Berandal berniat untuk mencari ayahnya, Axel Scheunemann, namun tidak tahu di mana gerangan berada. "Aku targetin, pas umur 18 tahun, mau nyari [ayah]. Tapi pas udah 18 tahun, enggak ada keinginan untuk nyari.”

Bagaimanapun, rasa rindu tetap ada. Ia mengenang, "Khususnya pas awal-awal, karena kan pas umur 13 tahun, apalagi cowok, itu baru mulai kenal pubertas, bandel, baru ngerti cewek itu apa. Alangkah baiknya ada seorang ayah yang bisa ngasih bimbingan."

Diakui pria kelahiran Mainz, Jerman, 1 Mei 2987 ini, kenangan bersama sang ayah yang paling melekat dalam benaknya, saat menyusuri hutan di sekitar Taman Safari, di kaki Gunung Gede-Pangrango. Kegemaran bertualang Axel pun menular ke Arifin.

"Kenangannya positif,” tutur Arifin yang sempat menjadi bolang atau bocah petualang. “Dia kebetulan ada semacam pabrik pengolahan dekat Taman Safari di Puncak. Ada vila juga di sana. Kadang hari Sabtu atau Minggu, jalan-jalan di hutan sekitar situ.”

Meski kebersamaan tak berlangsung lama, Arifin mengaku banyak belajar dari sang ayah, terutama soal ketepatan waktu dan kedisiplinan. Kini, tanpa ayah di sisinya, pemilik nama panjang Putra Arifin Scheunemann ini meneguhkan diri agar mandiri.

Kemandirian mendorong Arifin tegas menentukan pilihan. Apalagi kedua orang tuanya tidak pernah mengekang. Sekalipun tidak disampaikan secara spesifik, diakui Arifin, kedua orang tuanya justru memberikan kebebasan untuk bekerja atau berkuliah.

“Yang penting, kamu selalu seratus persen,” Arifin menirukan kata-kata bijak kedua orang tuanya. “Karena setiap plihan kamu ada konsekuensinya. Jadi kamu harus bertanggung jawab dengan pilihan kamu.’”

[Gambas:Youtube]

(vga/vga)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK