Konsep Cinta Alam dari Suku Aborigin untuk Anak Indonesia

Agniya Khoiri, CNN Indonesia | Sabtu, 16/07/2016 16:27 WIB
Konsep Cinta Alam dari Suku Aborigin untuk Anak Indonesia Kak Resha dan Larry Brandy dalam Pekan Budaya Penduduk Asli Australia 2016. (CNN Indonesia/Agniya Khoiri)
Jakarta, CNN Indonesia -- Setiap tahun di bulan Juli, penduduk Australia menggelar perayaan budaya penduduk asli Australia. Perayaan ini bertajuk National Aborigin and Islanders Day Observance Commitee (NAIDOC) Week atau Pekan Budaya Penduduk Asli Australia.

Selain di negaranya, penduduk Australia di negara lain pun ikut merayakan Pekan Budaya Penduduk Asli Australia, melalui acara yang diselenggarakan oleh kedutaan besar di negara mereka.

Kedutaan Besar Australia di Jakarta, turut merayakan Pekan Budaya Penduduk Asli Australia dengan menggelar pameran seni, yang salah satu sesinya ialah pembacaan dongeng penduduk Aborigin.


Pameran bertajuk Yiwarra Kuju: The Canning Stock Route ini menampilkan dongeng karya seniman-seniman Aborigin dari Western Desert.

Konsep pameran ini mengisahkan tentang keluarga, budaya dan kelangsungan hidup serta dampak dari pembangunan jalan yang melintasi pemukiman penduduk Aborigin.

Sesi dongeng dihadirkan berkaitan dengan tema Pekan Budaya Penduduk Asli Australia tahun ini, yaitu Songlines: The Living Narrative of Our Nation.

"Pekan Budaya Penduduk Asli Australia adalah perayaan untuk sejarah, budaya dan prestasi warga Aborigin dan penduduk Kepulauan Selat Torres," kata Dr Justin Lee, selaku Wakil Duta Besar Australia, dalam pidato pembukaan Pekan Budaya Penduduk Asli Australia, pada Sabtu (16/7) di Alun-Alun Indonesia, Grand Indonesia Mall, Jakarta Pusat.

Pendongeng asal Australia, Larry Brandy, tampil dalam sesi mendongeng interaktif untuk anak-anak bersama dengan pendongeng asal Indonesia, Resha Rashtrapatiji atau kerap dikenal dengan sapaan Kak Resha.

"Larry Brandy bersama dengan Kak Resha akan berbagi tentang dongeng-dongeng tradisional ke masyarakat sebagai bagian dari perayaan Pekan Budaya Penduduk Asli Australia," ungkap Lee.

Sesi mendongeng yang berlangsung setiap Sabtu dan Minggu selama 16-24 Juli 2016 di mendatang Grand Indonesia Mall juga akan menyambangi sekolah-sekolah di Makassar dan Bali.

Sesi mendongeng oleh Larry Brandy dan Kak Resha, dengan pameran seni saat pembukaan Pekan Budaya Penduduk Asli Australia, di Alun-alun Indonesia, Grand Indonesia Mall, Jakarta, Sabtu (16/7). (CNN Indonesia/Agniya Khoiri)
Kedua kota ini dianggap memiliki kedekatan dengan Australia, terutama Makassar yang mana dulu sebelum kemerdekaan, Suku Bugis sudah sering mencari teripang hingga ke laut ke dekat benua Australia.

Dalam rangka Pekan Budaya Penduduk Asli Australia ini juga, Kedubes Australia akan memutar film The Sapphires pada tanggal 30 Juli di Kantor Kedutaan Besar Australia.

Film ini bergenre drama komedi dan mengisahkan tentang kelompok musisi beranggotakan penduduk asli Australia yang berangkat ke Vietnam untuk menghibur para prajurit yang sedang berperang pada 1968.

Di Australia sendiri, menurut Lee, perayaan Pekan Budaya Penduduk Asli Australia telah berlangsung sejak dua minggu lalu.

Namun, karena ada perayaan Lebaran di Indonesia, pihaknya memutuskan untuk mengundur jadwalnya sampai hari ini.

"Di Australia perayaannya sangat sara seni, selain mendongeng juga ada tari-tarian, khas kebudayaan suku asli," kata Larry.

Konsep Mencintai Alam Suku Aborigin 

Resha bertugas mendampingi Larry untuk menyampaikan dongeng dalam bahasa Indonesia kepada anak-anak yang menyaksikan.

Dalam dongengnya, Larry bercerita tentang serba-serbi sukunya, Wiradjuri, yang mana merupakan salah satu suku Aborigin paling besar dari 500 suku yang ada.

"Ini tentang bagaimana suku itu hidup, supaya anak-anak juga mengerti. Salah satunya, Wiradjuri sangat menghormati pohon. Mereka menggunakan pohon hanya kulit dan rantingnya," kata Resha yang ditemui sebelum sesi mendongeng dimulai.

"Menurut saya, cara hidup mereka sama seperti Suku di Papua. Berburu untuk kehidupan, bukan untuk bersenang-senang," lanjutnya.

Saat sesi mendongeng, Larry mengajak anak-anak untuk mempraktekkan langusng, bagaimana cara suku Aborigin berburu mangsa menggunakan sejata khas sana yaitu, bumerang.

Lengkap dengan properti ala topeng hewan, beserta bumerang kayu, anak-anak silih berganti maju untuk mencoba sambil memerankan tokoh sebagai suku asli pada dongeng tersebut.

Menurut Resha, suku asli Australia dengan Indonesia sama-sama memiliki budaya bertutur yang sangat kuat, seperti mendongeng.

"Semoga budaya ini bisa terus dilestarikan, sehingga keturunan anak cucu nanti tetap mengenal kebudayaan luhur nenek moyang mereka dan menjaga tradisi sehingga tetap kuat," ujar Resha.

(ard/ard)