Otto Djaya, Ruang Sempit di Indonesia dan Pengakuan di Eropa

Resty Armenia, CNN Indonesia | Kamis, 06/10/2016 12:20 WIB
Di Indonesia nama Otto Djaya mungkin tidak setenar Affandi, Raden Saleh, dan Sudjojono. Tapi ia beberapa kali pameran di Eropa. Dua turis mancanegara terlihat menikmati pameran karya Otto Djaya yang digelar di Galeri Nasional, Jakarta pada 30 September - 9 Oktober 2016. (CNN Indonesia/Resty Armenia)
Jakarta, CNN Indonesia -- Nama Otto Djaya mungkin belum begitu familiar di telinga masyarakat Indonesia yang awam akan lukisan. Tak banyak yang tahu, ia sebenarnya merupakan seniman yang cukup dekat dengan Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno.

Penulis buku The World of Otto Djaya (1916-2002) sekaligus kurator pameran lukisan bertajuk "100 Tahun Otto Djaya", Inge-Marie Holst mengungkapkan bahwa salah satu kolektor terbesar lukisan-lukisan Otto adalah Presiden Soekarno.

Salah satu koleksinya punya seri tanpa busana. Inge-Marie punya salah satu lukisan dari seri itu, yang berjudul Perempuan Putih di Bawah Pelangi, yang dibuat pada 1958 di atas kanvas berukuran 82 x 69 cm menggunakan cat minyak.


Lukisan itu menunjukkan seorang perempuan tanpa busana sedang mandi di sungai putih. Beberapa bunga teratai tampak mengapung. Perempuan berambut panjang dengan ronce melati itu ditemani dua ekor monyet dan dipayungi pelangi.

Indah, mistis, erotis, tetapi juga menggugah. Khas selera lukisan Soekarno. Seri tanpa busana Otto cenderung seragam seperti itu.

Salah satu lukisan Otto Djaya yang dikoleksi Soekarno. (CNN Indonesia/Resty Armenia)
Menurut Inge-Marie, lukisan Otto punya beberapa keunikan yang tidak dimiliki pelukis lainnya. Pertama, ia melukiskan hal-hal yang dekat dengan kehidupan nyata sehari-hari. Kedua, itu dilukiskan dengan cara yang sarkastis.

"Otto melukis dengan cara yang sarkastis dan lucu. Karenanya, dia biasanya menampilkan tokoh Punakawan di lukisannya. Ia hidup saat rezim Soekarno dan Soeharto. Meski dekat dengan Soekarno, ia tidak dekat dengan Soeharto. Tapi tetap saja dia mengkritisi kehidupan masyarakat dengan cara yang baik," ujar Inge-Marie kepada CNNIndonesia.com di Galeri Nasional, Jakarta Pusat.

Di sana lah ratusan lukisan Otto yang dikumpulkan Inge-Marie dipamerkan.

Selain sarkastis dan humoris, menurut Inge-Marie, lukisan Otto unik juga karena ia melukiskan apa yang dilihat dan dialaminya. Karyanya kaya akan tema karena Otto mengalami banyak hal dari berbagai rezim di Indonesia.

Pengalamannya sendiri sudah kaya. Menjadi prajurit militer bentukan Jepang, bersekolah di Belanda, mengenal Soekarno, Soeharto, bahkan sampai merasakan kepemimpinan Megawati Soekarnoputri sebelum Otto meninggal pada 2002.

Dari situ, Otto punya segudang cerita untuk dituangkan sesuai gayanya—yang naik dan kekanakan—ke dalam lukisan. Tapi menurut Inge-Marie, kenaifan lukisan Otto tetap terlihat berbeda. Ia tak mau sama seperti pelukis-pelukis lain yang memuja gunung atau sungai sebagai keindahan di dalam kanvas.

Alih-alih demikian, sang penulis yang pada hari ini, 6 Oktober seharusnya berulang tahun ke-100 itu menggunakan hutan, kantor, kebun, dan latar lain.

Hal lain yang dikagumi Inge-Marie dari lukisan Otto adalah goresannya yang mendetail. Tubuh manusia maupun binatang ia gambarkan secara gamblang.

Itu dikenal sebagai lukisan figuratif, yang dihindari kebanyakan Muslim. “Dia Muslim dan Muslim sebenarnya tidak boleh menggambar figuratif. Tapi dia melukisnya, itulah yang spesial dari dia," kata kolektor asal Denmark itu.

"Meski keadaan pada masa itu cukup sulit, tapi ketika Anda melihat karya Otto, semuanya positif dan memberikan perasaan yang baik maupun kesan yang hangat. Misalnya, mereka yang di lukisan itu terlihat sedang bersenang-senang,” tutur Inge-Marie menambahkan. Penikmatnya pun ikut positif.

Misalnya, saat ia melukis Bos dan Sekretaris. Otto sebenarnya ingin mencibir betapa hubungan bos dan sekretaris sekarang lebih dari atas nama profesional.

Ia pun melukis seorang pria berperut buncit duduk di kursi bersandaran tinggi, botak, dan sedang mengisap cerutu. Gambaran khas seorang bos. Di ruangan yang tertutup, ada tiga perempuan bergaun seksi: merah dan hijau.

Ada yang duduk di pangkuannya sembari menuliskan catatan. Ada yang menerima telepon, ada pula yang membawakannya minuman—teh dan kopi. Di dinding ruangan, selain ada gambar kurva, ditempel pula foto-foto perempuan bugil.

Sindiran itu sangat mengena pada kondisi zaman sekarang, tapi tetap membuat penikmat lukisannya tersenyum. Karena gambaran yang tepat dan lugas.

Memincut Eropa

Keunikan-keunikan Otto itulah yang menurut Inge-Marie membuat banyak orang Eropa terpincut. Bahkan, beberapa perupa asal Eropa yang tergabung dalam organisasi Cobra (Copenhagen, Brussels, and Amsterdam) ingin menggelar pameran bersama di Stedelijk Museum Amsterdam, museum terbesar di Belanda.

Inge-Marie menjelaskan, gaya lukisan para perupa di Cobra mirip dengan Otto. Berbeda total dengan gaya lukisan lama: abstrak, gelap, dan serius.

"Jadi mereka [pelukis-pelukis Cobra] memulai di Eropa, Otto Djaya memulai di Indonesia. Dalam waktu yang bersamaan, muncul pula gaya lukisan yang sama di Amerika, gaya kontemporer. Semua bermula setelah Perang Dunia II,” ujarnya.

Inge-Marie berpandangan, para perupa gaya kontemporer yang secara kebetulan muncul bersamaan itu merupakan sesuatu yang menarik. Sebab, saat itu belum ada kontak atau internet. Para seniman di Indonesia juga belum memiliki akses ke Galeri Kunstkring, karena galeri seni di Jakarta itu eksklusif untuk orang Belanda saja, sebelum akhirnya dibuka bagi seniman lokal setelah dilobi oleh para pejabat Persatoean Ahli-Ahli Gambar Indonesia (Persagi).

Lukisan berjudul Bos dan Sekretaris karya Otto Djaya. (CNN Indonesia/Resty Armenia)
"Otto harus menemukan gaya melukisnya sendiri, tanpa buku, mungkin hanya beberapa majalah saja," ujar Inge-Marie yang memang meneliti Otto sejak lama.

Pada 1947, Otto memutuskan untuk ikut kakaknya yang juga seorang pelukis ternama, Agus Djaya, menimba ilmu ke Amsterdam. Namun, belum lama setelah kedatangan ke-duanya di Negeri Kicir Angin itu, kakak-beradik yang sama-ssma pelukis itu berani menggelar pameran berskala besar di Stedelijk Museum.

Tak hanya sekali, Djaya bersaudara bahkan menggelar pameran lain hingga tiga sampai empat kali di tahun yang sama.

"Dan mereka mengadakan pameran di Stedelijk lagi pada 1948. Pada masa itu, mereka mengadakan pameran bersama dengan para artis dari Cobra, lalu mereka melanjutkan pamerannya di Belgia dan Perancis," cerita Inge-Marie.

Meski telah berkeliling Eropa dan mendapatkan banyak inspirasi dari perjalanan hidupnya di sana, Otto tetap menggunakan gaya lukisan yang sama. Menurut Inge-Marie, perbedaan hanya terlihat pada tema. Setelah kepulangannya ke Indonesia, pemikiran Otto tentang masyarakat menjadi lebih terbuka.

“Saya pikir dia bisa mengenal masyarakat Indonesia dengan lebih baik, dengan sisi positif dan negatifnya. Seperti lukisan soal birokrasi itu, dia melukisnya setelah dia kembali dari Belanda," ujarnya. ‘Lukisan birokrasi’ yang dimaksud Inge-Marie adalah Bos dan Sekretaris yang dibahas sebelumnya.

Meski sudah berkeliling dan menggelar pameran di Eropa, nama Otto belum setenar kakaknya, Agus maupun pelukis lain seperti Sudhojono. Inge-Marie berpikir, itu kemungkinan besar disebabkan karena Agus dan Sudjojono merupakan pimpinan Persagi. Otto seakan tertutupi bayang-bayang keduanya.

"Otto juga lebih pendiam, tidak serius, dan tidak aktif secara politik. Jadi pesan Otto kepada masyarakat Indonesia itu berbeda dengan Sudjojono. Dan mungkin tidak ada ruang untuknya pada masa itu karena ada dua maestro itu.” (rsa/rsa)