Seperti yang terlihat dalam panggung Indonesia Kontemporer 2016 yang digelar di London, Inggris, Sabtu (8/10). Mulai dari seniman belia hingga dewasa menunjukkan kemahirannya menari dan memainkan alat musik khas Indonesia.
Natasha Lanceley, salah satu remaja Inggris yang tertarik dengan budaya Indonesia memperlihatkan kemampuannya menari. Di hadapan pengunjung yang memenuhi Brunei Gallery, School of Oriental and African Studies, University of London, dia membawakan tari Pendet.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
(Dok.Istimewa/Aghnia Adzkia) |
Dia bercerita, sebelumnya tidak pernah mengetahui seni dan budaya Indonesia. Sampai akhirnya dia melanjutkan pendidikan di East 15 Acting School di London, yang mengenalkannya pertama kali dengan seni tari Indonesia.
Selain Tari Pendet, penonton juga disuguhkan tari Kecak yang diiringi alunan musik gamelan khas Bali oleh kelompok Jagat Gamelan. Tim ini pun terdiri dari orang Indonesia dan warga asing yang tinggal di London.
Usai menampilkan tarian Indonesia yang diberi nama Balinese Combo selama 20 menit, sang penata artistik, Manuel Jeminiez mengundang pengunjung untuk ikut menari bersama di atas panggung diiringi dentingan gamelan.
Wayang Kancil
Tak hanya mengusung seni tari dan musik, Indonesia Kontemporer 2016 juga mementaskan pertunjukkan wayang. Gelaran Wayang Kancil karya Ki Ledjo Subroto itu dibawakan dengan sentuhan modern.
Yang menarik dari pertunjukkan wayang selama 30 menit ini adalah penyampaian cerita dalam bahasa Inggris agar para pengunjung non-Indonesia dapat memahami kisah di balik pewayangan itu. Para pemain gamelan dan sinden yang mengiringi permainan sang dalang tampak terdiri dari warga Indonesia dan juga warga asing di London.
(Dok. Istimewa/Aghnia Adzkia) |
"Jadi yang ikut serta mulai dari lokakarya, diskusi, film, pertunjukkan itu semua adalah orang yang punya ketertarikan terhadap seni dan budaya Indonesia. Jadi pada acara ini tidak hanya melihat orang Indonesia yang menari dan main gamelan, tapi seluruh dunia dari kulit dan bangsa yang berbeda, bersatu dalam seni dan budaya,” kata Felicia. (meg)
(Dok.Istimewa/Aghnia Adzkia)
(Dok. Istimewa/Aghnia Adzkia)