Seniman Bule Tampilkan Tari dan Musik Indonesia di London

Aghnia Adzkia, CNN Indonesia | Senin, 10/10/2016 14:43 WIB
Seniman Bule Tampilkan Tari dan Musik Indonesia di London Didampingi para pegiat seni Indonesia, musisi dan penari asal Inggris itu menunjukkan kelihaiann mereka menari dan memainkan gamelan. (Dok.Istimewa/Aghnia Adzkia)
London, CNN Indonesia -- Seni tari dan musik Indonesia agaknya kian menarik perhatian para pecinta seni luar negeri. Hal itu terlihat dengan banyaknya seniman-seniman bule yang mendalami kesenian nusantara.

Seperti yang terlihat dalam panggung Indonesia Kontemporer 2016 yang digelar di London, Inggris, Sabtu (8/10). Mulai dari seniman belia hingga dewasa menunjukkan kemahirannya menari dan memainkan alat musik khas Indonesia.

Natasha Lanceley, salah satu remaja Inggris yang tertarik dengan budaya Indonesia memperlihatkan kemampuannya menari. Di hadapan pengunjung yang memenuhi Brunei Gallery, School of Oriental and African Studies, University of London, dia membawakan tari Pendet.


Dengan balutan kebaya hijau, Lanceley terampil menyeimbangkan gerak kepala, tangan dan kakinya. Perempuan yang mengaku mempelajari seni tari Indonesia selama setahun belakangan ini, tampil diiringi dua rekannya. Tak sia-sia, usai unjuk kelihaiannya menari, Lanceley pun dihujani tepuk tangan.
(Dok.Istimewa/Aghnia Adzkia)
"Saya menari Tari Pendet dan Kecak dan juga bermain gong bersama (komunitas) Jagat Gamelan. Saya sangat senang bisa mementaskan kesenian Indonesia," kata Lanceley.

Dia bercerita, sebelumnya tidak pernah mengetahui seni dan budaya Indonesia. Sampai akhirnya dia melanjutkan pendidikan di East 15 Acting School di London, yang mengenalkannya pertama kali dengan seni tari Indonesia.

"Saya belajar ini (kesenian Indonesia) selama di sekolah. Saya mulai belajar menari dan bermain musik. Saya rasa ini menarik dalam hal berbagi cerita, yang mungkin orang sudah tahu atau belum tahu," katanya.

Selain Tari Pendet, penonton juga disuguhkan tari Kecak yang diiringi alunan musik gamelan khas Bali oleh kelompok Jagat Gamelan. Tim ini pun terdiri dari orang Indonesia dan warga asing yang tinggal di London.

Usai menampilkan tarian Indonesia yang diberi nama Balinese Combo selama 20 menit, sang penata artistik, Manuel Jeminiez mengundang pengunjung untuk ikut menari bersama di atas panggung diiringi dentingan gamelan.

Wayang Kancil

Tak hanya mengusung seni tari dan musik, Indonesia Kontemporer 2016 juga mementaskan pertunjukkan wayang. Gelaran Wayang Kancil karya Ki Ledjo Subroto itu dibawakan dengan sentuhan modern.

Yang menarik dari pertunjukkan wayang selama 30 menit ini adalah penyampaian cerita dalam bahasa Inggris agar para pengunjung non-Indonesia dapat memahami kisah di balik pewayangan itu. Para pemain gamelan dan sinden yang mengiringi permainan sang dalang tampak terdiri dari warga Indonesia dan juga warga asing di London.
(Dok. Istimewa/Aghnia Adzkia)
Rangkaian acara ini, menurut Direktur ARTi-UK Felicia Naoyan Siregar, merupakan bentuk komunikasi masyarakat Indonesia di London kepada dunia. Selain tarian dan wayang ada diskusi bertemakan bahasa Indonesia, bazar batik, festival kuliner, dan pemutaran sejumlah film seperti Lewat Djam Malam karya Usmar Ismail, Pasung karya Erminia Colucci, Tamu Agung karya Usmar Ismail (100 minutes) dan Street Punk! Banda Aceh karya Maria Bakkalapulo dan Niall Macaulay.

"Jadi yang ikut serta mulai dari lokakarya, diskusi, film, pertunjukkan itu semua adalah orang yang punya ketertarikan terhadap seni dan budaya Indonesia. Jadi pada acara ini tidak hanya melihat orang Indonesia yang menari dan main gamelan, tapi seluruh dunia dari kulit dan bangsa yang berbeda, bersatu dalam seni dan budaya,” kata Felicia. (meg/meg)