Ketenaran itu mengungkung mereka.
Awalnya keempat anak muda asal Liverpool itu menyikapi dengan santai. Di setiap wawancara mereka masih bisa melontarkan lelucon. Ratusan lagu mereka masih bisa didengar. Tapi penggemar yang fanatik, tak bisa dipungkiri, jadi salah satu alasan The Beatles vakum.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Film itu bercerita dengan alur yang jelas. Diawali dari permulaan karier The Beatles, pertemuan Lennon dan McCartney, sampai mereka berada di puncak ketenarannya.
Setiap pembuatan album band legendaris itu diceritakan dengan baik. Howard mengiringinya dengan sejumlah infografis soal tanggal rilis serta peringkatnya di beberapa negara.
Secara keseluruhan, film itu memuaskan para penggemar The Beatles.
Film semakin menarik untuk diminati lantaran Howard menampilkan wawancara eksklusif dengan orang-orang terdekat The Beatles, salah satunya Larry Kane. Tak hanya itu, Whoopi Goldberg dan Sigourney Weaver pun turut diwawancara sebagai penonton konser di masa lampau.
Kualitas audio visual yang digadang-gadang telah ditingkatkan, pun terbukti. Terutama pada konser The Beatles di Shea Stadium, New York. Warna terlihat lebih tajam dan halus, tak tampak seperti rekaman lama, walaupun beberapa rekaman masih berwarna hitam-putih.
Sayangnya, terdapat beberapa bagian film yang sulit dimengerti karena hanya berupa rekaman suara saja. Namun, itu tidak mengganggu jalan cerita.
Film itu akan tayang di Indonesia mulai 19 Oktober 2016, hanya di Cinemaxx dan CGV Blitz. (rsa)