Ulasan Film

'Eight Days a Week,' Kumpulan Momen Langka The Beatles

Munaya Nasiri, CNN Indonesia | Selasa, 18/10/2016 13:35 WIB
'Eight Days a Week,' Kumpulan Momen Langka The Beatles Film dokumenter Eight Days a Week: The Touring Years memperlihatkan bagaimana penggemar yang disebut Beatlemania itu begitu fanatik. (Christopher Furlong/Getty Images)
Jakarta, CNN Indonesia -- Teriakan penonton yang memekakkan telinga membuat The Beatles memutuskan menghentikan tur konsernya. Popularitas dan penggemar yang bejibun, membuat John Lennon, Paul McCartney, George Harrison, dan Ringo Starr merasa seperti di penjara.

Ketenaran itu mengungkung mereka.

Awalnya keempat anak muda asal Liverpool itu menyikapi dengan santai. Di setiap wawancara mereka masih bisa melontarkan lelucon. Ratusan lagu mereka masih bisa didengar. Tapi penggemar yang fanatik, tak bisa dipungkiri, jadi salah satu alasan The Beatles vakum.


Film dokumenter Eight Days a Week: The Touring Years memperlihatkan bagaimana penggemar yang disebut Beatlemania itu begitu fanatik. Teriakan hingga tangisan terus bergaung di setiap penampilan band pelantun Hey Jude itu.

Sesuai yang dijanjikan sutradara Ron Howard, film itu menghadirkan kejadian-kejadian yang sebelumnya belum pernah dilihat penggemar. Beberapa foto The Beatles yang dimunculkan memang bisa dengan mudah ditemukan di internet. Tapi jumlahnya tak seberapa.

Lebih banyak adegan-adegan eksklusif bersama Lennon cs. Howard bahkan menampilkan wawancara dengan Lennon dan Harrison.

Film itu bercerita dengan alur yang jelas. Diawali dari permulaan karier The Beatles, pertemuan Lennon dan McCartney, sampai mereka berada di puncak ketenarannya.

Setiap pembuatan album band legendaris itu diceritakan dengan baik. Howard mengiringinya dengan sejumlah infografis soal tanggal rilis serta peringkatnya di beberapa negara.

Secara keseluruhan, film itu memuaskan para penggemar The Beatles.

Film semakin menarik untuk diminati lantaran Howard menampilkan wawancara eksklusif dengan orang-orang terdekat The Beatles, salah satunya Larry Kane. Tak hanya itu, Whoopi Goldberg dan Sigourney Weaver pun turut diwawancara sebagai penonton konser di masa lampau.

Kualitas audio visual yang digadang-gadang telah ditingkatkan, pun terbukti. Terutama pada konser The Beatles di Shea Stadium, New York. Warna terlihat lebih tajam dan halus, tak tampak seperti rekaman lama, walaupun beberapa rekaman masih berwarna hitam-putih.

Sayangnya, terdapat beberapa bagian film yang sulit dimengerti karena hanya berupa rekaman suara saja. Namun, itu tidak mengganggu jalan cerita.

Film itu akan tayang di Indonesia mulai 19 Oktober 2016, hanya di Cinemaxx dan CGV Blitz. (rsa/rsa)