Namun ketika isu yang diangkat itu-itu saja, masalah masa lalu, menurutnya itu seperti kembali ke belakang. “Kalau materi demo hal yang begitu saja, kita enggak ada kemajuan.”
Saat berkunjung ke kantor redaksi CNNIndonesia.com Cholil imbuh menuturkan, “Misalnya demo karena perbedaan agama, perbedaan ras. Mungkin mereka akan mengusulkan nanti calon presiden tidak boleh beretnis tertentu, itu sebenernya balik lagi ke belakang.”
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mereka yang masih bersikeras itu, dianggap Cholil kurang menerapkan toleransi. Hukum yang didasari salah satu agama saja, menurutnya, tak bisa serta-merta diterapkan di Indonesia hanya karena mayoritas warganya Muslim. Negeri Khatulistiwa punya landasan hukum sendiri.
Ia sendiri berusaha meredam perbedaan melalui musik. Dikenal dengan lagu-lagu yang membawa isu sosial, ERK punya single berjudul Kuning yang bisa dibilang tepat menggambarkan kondisi Indonesia saat ini. Ada dua fragmen di lagu itu: Keberagaman dan Keberagamaan.
Cholil mengungkapkan, band yang digawanginya bersama Adrian Yunan (vokal), Akbar Bagus (drum), dan Poppie Airil itu membuat Kuning karena merasa seperti ada kebenaran tunggal di Indonesia. Kebenaran menurut kaum mayoritas, yang dalam konteks ini adlaah umat beragama.
"Jadi kebenaran versi dia, berarti yang lain salah dan dia berhak melaksanakan itu. Misalnya dia agama Islam, dia pakai hukum Islam, boleh begini-begitu,” tutur Cholil tentang lagu yang berada dalam album Sinestesia yang dirilis pada Desember 2015 itu.
Dalam fragmen Keberagamaan, ada penggalan lirik seperti ini:
Manusia menafikan tuhan
Melarang atas perbedaan
Persepsi dibelenggu tradisi
Jiwa yang keruhpun bersemi
Nihil maknanya
Hampa surganya
Hampa
Sementara dalam fragmen Keberagaman, akan terdengar penggalan seperti berikut:
Beragam, berwarna
Lestarilah tumbuhnya
Bermacam agama
Dipancarkan cintanya
Semua bertautan
“Ketika menulis, kita berusaha menjernihkan pikiran dan hati. Inginnya [pesan lirik] itu sampai ke orang yang mendengar. Tanggapan pasti berbeda-beda, ada yang setuju dan ada beberapa juga yang kontra," kata Adrian, yang tercatat sebagai pencipta lirik lagu itu.
Kedua hal itu harus diseimbangkan dengan damai, menurut Cholil, sebagaimana hubungan manusia dengan Tuhan dan manusia dengan manusia. Selama ini, katanya, lebih banyak yang mengurusi hubungannya dengan Tuhan saja, tanpa diikuti habluminannas (hubungan antarmanusia). (rsa/asa)