I ain't never got nothin' from nobody
And until I get somethin' from somebody
I will never do nothing for nobody
Diiringi piano, lagu Nobody ciptaan Bert Williams dan Alex Rogers itu dibawakan sebagai pembuka gelaran acara bertajuk EKI Update V2.0. Tak lama setelahnya, lagu yang dinyanyikan Ara Ajisiwi itu menampilkan tujuh penari dari arahan koreografer dari Rusdy Rukmarata.
Di penghujung lagu, sang penyanyi naik ke atas piano dan menutup penampilan lewat tarian kecil. Seketika lampu atas pentas pun mati. Itu menjadi pertanda peralihan ke pertunjukan berikutnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Para penari lantas merepresentasikan tarian dengan terus berputar selagi mencari arah. Pertunjukan itu diberi nama 'Femme Enerve.'
"Pintu adalah objek yang sangat dekat dan akrab dengan keseharian kita. Ada yang mengartikannya sebagai jalan menuju ruang, rasa atau rahasia. Pintu yang tertutup, menggoda untuk disibak. Walau ada kalanya, kita dibuat terkejut.”
Menyusul pertunjukan itu, tarian ke-empat menghadirkan sentuhan budaya dari pulau Dewata.
Tarian itu bernama ‘Man ja Mon,’ dibawakan di bawah arahan koreografer Gede Juliantara. Disebutkan bahwa itu terinspirasi dari kisah mistis di masyarakat Bali. Tarian itu merepresentasi perubahan wujud manusia menjadi monyet.
Masih dalam kemasan tarian, penampilan ke-empat menyuguhkan sebuah teatrikal sederhana. Warga dengan sarung kotak-kotak hitam putih khas Bali tampak berkumpul dengan latar malam hari. Permainan lampu kemudian mengantarkan ke peralihan perubahan wujud itu.
Dari warga, seketika panggung dipenuhi monyet-monyet berwarna neon. Suasana riuh.
Diselingi film pendek besutan sutradara Kresna Kurnia Wijaya, pertunjukan beralih kembali ke tarian terakhir yang dipadukan dengan paduan suara. Menggunakan kostum layaknya Power Rangers mereka menyanyikan lagu medley Mr. Roboto dari Dennis DeYoung dan Bungong Jeumpa.
Sesi pertama pertunjukan ditutup dengan diskusi bersama Nanang dan Teguh Kentus Apiranto dari Wayang Bharata serta hiburan dari DJ KMKZ berkolaborasi dengan Nala, Ara, Uli dan Nanang.
Beralih ke sesi dua, penonton diberi istirahat selama 15 menit hingga mini drama musikal ‘Lagu Rama Ragu’ tampil di atas pentas. Mini drama musikal itu menampilkan perpaduan shadow dance, drama yang mengangkat kisah Rama dan Shinta, disertai tarian dan nyanyian.
Memadukan Ragam Seni Lain dengan Tarian
Foto: CNNSalah satu aksi teatrikal EKI Dance. |
Itu menjadi kelanjutan dari EKI Update 1.0 yang diadakan pada 12-13 Mei 2016 lalu. Bila sebelumnya mengusung tema #EtnikKekinian, EKI Update v 2.0 kini mengambil tema #InArtWeUnite.
Dengan tema, pendiri EKI Dance Company Herwindra Aiko Senoroenoto menuturkan bahwa dirinya menarik dari apa yang terjadi pada masa kini. Menurutnya, situasi sosial dan budaya yang terjadi di Indonesia saat ini memperlihatkan betapa kebersamaan menyatu dalam perbedaan.
"Berbagai fenomena politik dan sosial yang memenuhi sosial media, seakan mencerminkan kita mudah sekali terpecah karena perbedaan. Padahal kami meyakini, tidak semudah itu perpecahan terjadi di Indonesia," katanya saat menyiapkan pentas, Kamis (17/11).
Atas dasar hal itu, kemudian dirinya mengatakan bahwa, "EKI Dance Company menyajikan karya koreografer muda yang menyajikan karya yang sarat dengan berbagai kerjasama antar disiplin ilmu pengetahuan serta wilayah seni kreatif dalam satu kesatuan".
Foto: CNN Indonesia/Agniya KhoiriPertunjukan EKI Update V2.0. |
Dalam pementasan yang diadakan untuk umum pada Jumat (18/11) pukul 19.30 di Gedung Kesenian Jakarta, ia menyuguhkan sejumlah pertunjukan yang sarat dengan kolaborasi, seperti tari dengan film, tata lampu, kostum, musik dan properti.
Ditampilkan juga koreografi terbaru karya Rusdy Rukmarata, art director EKI, yang juga sekarang adalah anggota Dewan Kesenian Jakarta, menampilkan karya tari hasil kolaborasi dengan musisi dan penyanyi.
Selain pentas tari, penonton pun akan dihibur oleh show choir yang membawakan mash-up Bungong Jeumpa, lagu daerah Aceh, dengan Mr. Roboto, lagu Dennis DeYoung (Styx) juga talkshow.
EKI Update v 2.0 juga menghadirkan musik yang saat ini menjadi salah satu warna musik dunia, yaitu electronic dance music (EDM). Itu dihadirkan lewat KMKZ, sebuah grup music EDM yang berkolaborasi dengan Uli Herdinansyah, Ara Ajisiwi, Nala Amrytha, Alim Sudio, serta dalang urban Nanang Hape.
Foto: CNNMonyet menari menjadi atraksi menarik di tengah panggung. |
“#InArtWeUnite diharapkan menjadi semangat berkolaborasi bagi para pelaku seni, bukan hanya yang bernaung di bawah EKI Dance Company, tapi seluruh Indonesia," ujar Aiko yang berharap itu akan menjadi ajang rutin yang berkelanjutan.
"Kami ingin ini jadi acara rutin setahun tiga kali, tapi tahun ini baru terwujud dua," katanya.
Berkaitan dengan hal tersebut, Rusdy yang ditemui secara terpisah mengatakan bahwa dirinya sendiri berharap adanya pertunjukan variasi itu dapat membuat masyarakat mengenal tari dengan kemasan berbeda.
"Kebanyakan pertunjukan tari hanya disaksikan keluarga atau kerabatnya, kami ingin merangkul masyarakat luas pun ikut terlibat. Makanya 'dipancing' lewat ragam penampilan seperti ini," ujar Rusdy.
Secara keseluruhan tata lampu turut menjadi 'pemeran utama’ dalam pentas itu. Ia mengantar penonton pada pertunjukan yang tak monoton. Meski sayangnya, untuk pembuka pertunjukan kurang membuat terpukau, kecuali penyanyi yang tiba-tiba menari di atas piano. Sisanya pertunjukan pembuka itu begitu membosankan.
Tujuan EKI Dance Company untuk mengenalkan tarian dalam wujud perpaduan teatrikal, musik, hingga film terbilang cukup berhasil. Bahwa suguhan untuk penonton tak hanya itu-itu saja. Tetapi, belum ada satu kesatuan yang menjadi benang merah sehingga mendapat pesan tertentu dari pertunjukan tersebut.
Pertunjukan itu hanya terbilang menjadi sekadar hiburan semata, yang tak meninggalkan sesuatu untuk dibawa pulang oleh penonton. Kesatuan yang diusung dari tema memang hanya sebatas pada bentuk kolaborasi seni, belum ada kesinambungan dari pentas satu ke pentas lainnya.
Selain tata lampu, persiapan kostum pun terbilang apik. Bahwa pertunjukan itu terlihat cukup matang mempersiapkan aspek untuk memanjakan mata penonton dengan warna-warna cerah yang muncul di atas pentas. Itu merepresentasikan kemeriahan.
Mengembangkan Seni Kontemporer Indonesia
Sementara itu, bersamaan dengan pentas EKI Update V2.0 turut menyampaikan bahwa kini EKI Dance Company mendirikan yayasan bernama Eksotika Karmawibhangga Indonesia.
Yayasan itu membuka pintu kerja sama serta kemungkinan kontribusi dari berbagai pihak untuk bergerak dalam berbagai usaha dalam mengembangkan seni kontemporer Indonesia.
EKI Dance merupakan perusahaan profesional yang memadukan unsur tradisi dan komtemporer dalam karya-karyanya. EKI didirikan tahun 1996 oleh Aiko Senosoenoto dati Rusdy Rukmarata.
"Ini untuk memperluas pendidikan kesenian kontemporer, karena sebenarnya tradisi sudah banyak. Tapi kontemporer ada hanya berupa kursus-kursus atau kelas khusus saja, oleh karenanya akan difokuskan pada hal tersebut," kata Aiko.
Selama 10 tahun terakhir ini, EKI juga telah melahirkan sejumlah pementasan musikal seperti ‘Madame Dasima’ (2001), ‘China Moon’ (2003), ‘Lovers and Liars’ (2004), ‘Battle of Love’ (2005), ‘Freakin' Crazy You’ (2006), ‘Miss Kadaluwarsa’ (2007), ‘Jakarta Love Riot’ (2010), ‘Kabaret Oriental’ (2012) dan lain-lain. (rsa)
Foto: CNN
Foto: CNN Indonesia/Agniya Khoiri
Foto: CNN