Semalam 'Bercinta' dengan Ide, Dihibur 'Wayang Bule'

Agniya Khoiri, CNN Indonesia | Jumat, 27/01/2017 11:40 WIB
Semalam 'Bercinta' dengan Ide, Dihibur 'Wayang Bule' Dik Doank tampil bersama wayang Dalang Toyo di IFI Jakarta, Kamis (26/1) malam. (CNN Indonesia/Agniya Khoiri)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ditanya segala macam, pertapa itu tetap diam. Dimintai bantuan, ia pun bergeming. Raja yang terbiasa mendapat segalanya pun murka. Tapi kemarahannya pada sang pertapa, yang ditemuinya saat berburu kijang, justru berbalik jadi malapetaka bagi dirinya sendiri.

Adegan wayang lakon King Parikesit yang dibawakan Dalang Toyo itu sarat pesan. Sang dalang, melalui lakon King Parikesit yang murka pada pertapa, seperti ingin mengatakan pada penonton di Auditorium IFI Jakarta: jangan serakah. Jangan asal memanfaatkan alam.

Yang bakal kena celaka adalah diri sendiri.


Dalang Toyo mengusung gagasan ‘dunia bersama’ dalam pentas yang ia tampilkan untuk membuka gelaran La Nuit des Idées atau malam pertemuan dan berbagi gagasan, Kamis (26/1).

"Wayang itu artinya bayangan. Cerita di dalam wayang adalah refleksi dari watak manusia sendiri dan oleh karenanya menjadi pengingat kita untuk selalu mawas diri," ujar dalang yang kerap disapa Pak Toyo itu, memaparkan makna pertunjukan yang dimainkannya itu.


Ia menambahkan, "Wayang sekaligus mengingatkan bahwa di dunia ini kita tidak hidup sendiri, ada orang lain, ada makhluk lain yang harus kita hormati keberadaannya".

Menariknya, Pak Toyo tidak mementaskan wayang itu dengan bahasa Jawa atau Sunda. Ia justru menyelipinya silih berganti dengan bahasa Inggris, Prancis, Jerman, dan Indonesia. Itu bagaikan 'wayang bule.'

Usai Pak Toyo tampil, acara yang diselenggarakan serentak di empat kota itu memulai sesi diskusi pertama bersama Yannick Lintz (Penanggung Jawab Departemen Seni Islam Museum Louvre Paris), Kiai Ahmad Sobri (Jakarta Islamic Center, Christian Girard (Guru Filsafat Sekolah Internasional Prancis Jakarta), serta penyanyi Dik Doank.

Lintz bicara soal betapa konflik senjata di kawasan Timur Tengah belakangan ini berkontribusi menghancurkan peninggalan bersejarah. Museum dan artefak rusak dan hancur. Lintz bicara soal melindungi jejak sejarah di negara yang tengah dilanda perang.

"Saat ini di Grand Palais Paris, atas inisiatif  Museum Louvre, tengah berlangsung sebuah pameran yang dipersembahkan bagi upaya penyelamatan peninggalan bersejarah di Suriah yang hancur lebur akibat perang," katanya, menyebutkan contoh upaya menjaga ‘dunia bersama.’


Selain melestarikan benda bersejarah juga, upaya itu juga membidik generasi muda melalui pendidikan untuk melatih empati dan kepedulian mereka terhadap peninggalan bersejarah.

Upaya itu bukan hanya milik Paris. Seniman Indonesia pun sudah ada yang berusaha melakukannya. Dink Doank yang menggagas Kandank Jurank Doank, sepakat dengan Lintz. Menurutnya, pendidikan adalah cara menanamkan gagasan ‘dunia bersama.’

Melalui Kandank Jurank Doank yang mengajarkan musik dan pendidikan karakter pada generasi muda, ia berusaha mencapainya. Perdamaian dunia bisa dicapai melalui seni.

"Sekolah-sekolah yang menjadi favorit dan unggulan ternyata yang banyak pentas seninya  dan memiliki prestasi di bidang olahraga. Artinya apa? Berkegiatan seni dan berolahraga sama dengan mempelajari keindahan melalui alat musik dan irama sekaligus bekerjasama menciptakan harmoni dengan wahana yang berbeda," katanya menjabarkan.

Pesona Musik Kandank Jurank Doank

Usai berdiskusi, acara itu kembali diselingi hiburan. Dik Doank yang hadir ditunjuk tak hanya menjadi sebagai narasumber saja. Ia turut menjadi penampil. Bersama pasukannya dari Kandank Jurank Doank, Dik tampil menyuguhkan empat buah lagu yang bertemakan sosial.


Membuka penampilan lewat kata-kata bijak, Dik dkk pun mulai melantunkan lagu yang bertemakan tentang alam yang dirusak. Energi yang disalurkannya begitu kuat, penonton pun tampak begitu terpesona dengan setiap kata yang dilontarkannya.

Tak ayal sambutan meriah pun terus mengiringi penampilan Dik CS. Selain soal penebangan hutan, Dik turut melantunkan lagu yang berisi ajakan untuk anak-anak dapat bermain di luar. Di lagu itu, ia menyertakan kepopuleran permainan tradisional zaman dahulu, seperti dengan pelepah pisang, lompat karet dan sebagainya.

Kemeriahan penampilan pun didukung dengan iringan alat musik unik yang diolah dari barang-barang bekas. Melanjutkan penampilan, Dik menyanyikan lagu tentang mirisnya kisah hidup anak yang tinggal di jalanan dan terabaikan.

"Salah bila menyebut mereka anak jalanan, karena jalanan tidak punya rahim, mereka hanya tinggal di jalan," kata Dik membuka penampilan lagu itu.


Di lagu terakhir, Dik turut menyelipkan pesan untuk bertoleransi serta bagaimana perpecahan yang terjadi dapat dilihat dari sudut pandang positif. Dengan menari, katanya.

Menutup penampilannya malam itu, Dik pun menyanyikan lagu Menari dengan iringan tiga penari remaja. Terpukau dengan penampilannya, penonton pun bersorak untuk Dik dan kelompok musiknya, atas penampilan yang begitu mengesankan.

Malam belum berakhir. Penampilan Dik Doank dilanjutkan diskusi sesi ke-dua bersama  Elizabeth Inandiak (sosiolog, penulis), Elisa Sutanudjaja (Penanggung Jawab Program Pusat Studi Perkotaan RUJAK) serta Wregas Bhanuteja (sutradara).

Pertunjukan wayang Pak Toyo dan pentas musik dari Kandank Jurank Doank bersama Dik Doank, pukau malam ide dan gagasan yang diselenggarakan di IFI Jakarta, Kamis (26/1).Foto: CNN Indonesia/Agniya Khoiri
Pertunjukan wayang Pak Toyo dan pentas musik dari Kandank Jurank Doank bersama Dik Doank, pukau malam ide dan gagasan yang diselenggarakan di IFI Jakarta, Kamis (26/1).
Bila pada sesi awal membahas soal 'dunia bersama,’ dalam sesi ke-dua itu gagasan yang dibahas mengenai Jakarta sebagai ‘kota bersama.’ Lingkupnya lebih kecil dan dekat.

Baru setelahnya, acara pun ditutup dengan  pemutaran film Prenjak yang pernah terpilih dalam kategori film pendek program La Semaine de la Critique Festival Film Cannes 2016. Film arahan Wregas itu bercerita tentang sisi gelap Yogyakarta pada tahun '80-an. (rsa/rsa)