Selaras Mimpi dalam Liuk Barongsai

Agniya Khoiri, CNN Indonesia | Sabtu, 28/01/2017 12:25 WIB
Selaras Mimpi dalam Liuk Barongsai Barongsai masih jadi kebudayaan Tionghoa yang sering ditampilkan. (Ilustrasi/REUTERS/Stefan Wermuth)
Jakarta, CNN Indonesia -- Memainkan naga kertas panjang yang meliuk-liuk, melompati tiang, dan mendarat sempurna butuh keterampilan khusus. Tidak sembarang orang bisa masuk ke dalam barongsai dan membuatnya lincah bergerak menghibur penonton.

Mella Septriani dan Triyadi, dua pemain barongsai bahkan sudah menekuni seni itu sejak kecil. Mella memulainya sejak duduk di kelas 6 SD. Sementara Yadi sudah terlibat bermain barongsai sejak usia 10 tahun. Ia kini berusia 26 tahun.

Keduanya merupakan anggota sanggar Huang Ho Say di Jakarta Timur. Sanggar itu merupakan bagian dari Kwong Ngai International Lion Dance yang berpusat di Malaysia.


Saat pertama berlatih barongsai 16 tahun lalu, kata Yadi, propertinya masih sangat sederhana. Barongsainya bahkan belum berbulu dan meriah seperti sekarang.

Bagi Mella dan Yadi, menekuni barongsai bukan sekadar masalah ‘ngamen’ saat Imlek tiba. Mereka konsisten, sungguh-sungguh berlatih, dan mencintai warisan budaya China itu juga karena ingin melestarikannya. Barongsai sudah jadi hobi yang mengalir dalam darah mereka.


Mereka rutin berlatih memainkan barongsai, bukan sekadar menjelang perayaan Imlek saja.

"Hampir setiap hari latihan, karena kami pun  mengejar prestasi Nasional. Kalau hanya saat akan Imlek itu tidak berkembang," kata Yadi saat dihubungi CNNIndonesia.com.

Dalam seminggu, kata Mella, latihan barongsai terbagi atas beberapa jenis.

"Ada jadwalnya, seminggu itu bisa dibagi untuk latihan fisik, teknik, kemudian latihan persiapan untuk perform dan pertandingan," katanya dalam kesempatan yang berbeda.


Sama seperti Yadi, ia bermain barongsai bukan untuk mencari uang. Itu bisa dicari dari pekerjaan lain yang dikerjakan sehari-hari. Uangnya, dipakai untuk menyalurkan hobi.

"Jadi mau Imlek atau hari biasa, ya kami tetap latihan serta tampil. Jujur saja, di sini kami dididik untuk meluapkan hobi, bukan untuk mencari uang," ungkap Mella.

Jatuh Bangun

Latihan barongsai, dikatakan Mella dan Yadi, tidak main-main. Untuk tampil sempurna butuh ketangkasan, keseimbangan, kerja keras, dan kerja sama tim. Demi itu, mereka rela mengeluarkan waktu dan tenaga. Tidak jarang pula mereka harus cedera.

"Cedera sering, karena jatuh. Keseleo pergelangan kaki pun pernah, sampai masuk rumah sakit saat pertandingan di luar," kata Yadi bercerita.

"Jangankan Barongsai, orang lagi jalan saja bisa jatuh kesandung, apalagi kami yang penuh risiko, harus mengangkat beban kawan di depan, harus fokus juga. Ibarat belajar naik motor, kalau belum jatuh belum bisa," imbuh Mella.

[Gambas:Video CNN]

Ia juga harus mengorbankan banyak hal untuk menjadikan barongsai sebagai prioritasnya.

"Kayak dulu waktu sekolah sampai kuliah, harus membagi waktu latihan, belajar, belum disuruh orangtua ini itu. Kemudiaan saat ada pertandingan ke luar negeri, izinnya sulit.”

Tapi berkat Barongsai, gadis 24 tahun itu mengaku kini dirinya lebih berani dan tak takut mengeksplorasi dunia luar. Bahkan ia menjadi pemain barongsai wanita Indonesia pertama yang mewakili di pertandingan Female Lion Dance di Macau, pada 2012.

"Dulu saya anak rumahan, tidak tahu dunia luar. Jangankan naik pesawat, ditinggal di Jakarta saja enggak bisa pulang. Tapi sekarang sampai bisa menjelajahi Singapura, Macau, juga Hong Kong," katanya.


Barongsai pula yang mengantarkan Mella dan Yadi meraih sejumlah penghargaan di tingkat nasional maupun internasional. Mereka pun berkontribusi membawa harum nama Indonesia.

"Juara nasional berturut-turut, kemudian juara di Hong Kong, China, Macau, Thailand, Singapura, kami sudah tanding di sana. Bisa jalan-jalan gratis, tapi ya dengan beban mentalnya yang berat membawa nama tim dan negara," kata Yadi.

"Kalau tampil seribu penonton itu layaknya bintang yang di tunggu-tunggu kayak diva di konser, dan bangga sih bisa jadi bagian dari orang-orang yang bisa mengibarkan bendera Indonesia di negeri orang," ujar Mella dengan bangga.

Bertahan Demi Budaya

Bagi Mella dan Yadi, kebanggaan itu hanya bonus. Pelestarian budaya lebih penting.

"Bagi tim yang memang main untuk cari uang, mungkin barongsai memang tak menjanjikan. Namun, kalau didasari hobi dan pelestarian budaya serta meningkatkan prestasi, tentu itu datang dengan sendirinya," ujar Yadi.

"Dengan kemampuan dan prestasi, akan meningkatkan harga jual. Kami pun bertahan karena budaya dan ingin berguna untuk Indonesia," imbuhnya.

Barongsai biasanya dimainkan saat Imlek.Foto: CNN Indonesia/Andry Novelino
Barongsai biasanya dimainkan saat Imlek.
Sementara Mella tak terlalu memikirkan pendapat orang lain yang menyebut menjadi pemain barongsai bukan pekerjaan menjanjikan. Ia yang telah 12 tahun di dunia Barongsai sendiri lah yang dapat memahami proses yang kemudian membentuk dirinya.

"Saya bisa jadi mandiri, wanita yang kuat dalam kondisi apa pun, tidak mudah sakit, dan saya pun jadi tahu bisnis sedikit dengan dapat menentukan mana peluang baik atau tidak.”

Sayangnya, ini tahun terakhir Mella tampil sebagai pemain barongsai.

“Tahun depan mungkin hanya akan menjadi pengurus, enggak terjun langsung jadi pemain lagi, ingin mulai memikirkan masa depan," katanya.

Sama halnya dengan Mella, Yadi pun bakal punya masa berhenti dan hanya jadi pengurus. Namun, bila kelak telah berkeluarga ia yakin akan mengajarkan hal itu pada anak-anaknya. (rsa/les)