Di Balik Kekalahan Beyonce di Grammy Awards 2017

Rahman Indra, CNN Indonesia | Selasa, 14/02/2017 16:03 WIB
Di Balik Kekalahan Beyonce di Grammy Awards 2017 Ada yang menilai penyelenggara Grammy Awards belum siap menerima hal baru, dan perubahan yang disuguhkan Beyonce lewat albumnya Lemonade. (Foto: Kevin Winter/Getty Images for NARAS/AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Apakah Beyonce terlalu edgy untuk industri musik? atau Grammy Awards masih belum lepas dari kegamangan akan isu bias ras? Kekalahan Beyonce meraih penghargaan bergengsi, seperti album dan lagu terbaik, menyisakan banyak pertanyaan, bahkan termasuk Adele yang mengaguminya.

Seperti diketahui, Beyonce memimpin nominasi Grammy Awards tahun ini dengan sembilan kategori lewat albumnya Lemonade, akan tetapi ia hanya berhasil membawa pulang dua penghargaan pada gelaran Minggu (12/2) di Staples Center, Los Angeles itu. Dua penghargaan itu lewat kategori Best Urban Contemporary Album (Lemonade) dan Best Music Video (Formation). 

Beyonce, untuk ke-tiga kalinya tak berhasil meraih penghargaan Album of the Year. Sebelumnya yang pertama pada 2010, ia kalah oleh Taylor Swift lewat album Fearless, kemudian pada 2015, ia juga mesti mengalah pada Beck lewat allbumnya Morning Phase.


Sementara, Adele, yang meledak lewat album 25 dengan lagu-lagu dominasi balada khasnya kali ke-dua menyapu bersih tiga penghargaan bergengsi Grammy Awards; Album of the Year (25), Song of the Year dan Record of the Year (Hello). Dalam pidato kemenangannya, ia malah merasa kemenangan itu mestinya jatuh pada Lemonade milik Beyonce.

Pada media usai acara Grammy, Adele mengatakan Lemonade merupakan album monumental dan 'memberdayakan'. Album itu juga menunjukkan kreativitas Beyonce dengan menghadirkan film penyertanya.

"Sangat jelas visual yang diusungnya adalah sesuatu yang baru, dan Grammy sangat tradisional, akan tetapi saya pikir tahun ini mestinya menjadi momen mereka menerima perubahan itu," ujar Adele, seperti dilansir AFP.

Kemenangan Adele seketika mengingatkan akan pola yang sama dengan penghargaan Grammy Awards tahun lalu, ketika album To Pimp A Butterfly milik Kendrick Lamar kalah dari 1989 milik Taylor Swift. Album Lamar dan lagu hitnya Alright juga menjadi anthem bagi gerakan Black Lives Matter, serta laris di pasaran.

Tuai keberatan

Keberatan akan penyelenggaraan Grammy secara terang-terangan disampaikan penyanyi hip hop Frank Ocean. Ia memilih tidak mengirimkan albumnya Blonde untuk pertimbangan Grammy tahun ini.

Usai Grammy Awards pada Minggu malam, Ocean menulis surat terbuka mempertanyakan penyelenggara Grammy untuk sama-sama membahas 'bias budaya dan efek yang disebabkannya' dari gelaran Grammy Awards. Ocean yang merilis album Blonde secara independen, mengatakan dirinya sempat berinisiatif ingin ambil bagian untuk berpartisipasi di Grammy dalam tribute untuk ikon pop Prince.

"Namun, saya sadar tribute terbaik buat dia dapat dilakukan di luar ajang itu, dan menjadi sukses. Memenangi penghargaan televisi bukanlah suatu kesuksesan, dan butuh waktu buat saya memahami itu," tambahnya lagi.

Di Balik Kekalahan Beyonce di Grammy Awards 2017 Beyonce membawa pulang dua dari sembilan nominasi penghargaan Grammy Awards yang diraihnya. (Foto: Kevin Winter/Getty Images for NARAS/AFP)
Wanita kulit hitam

Grammy yang ditentukan oleh pemungutan suara dari 13.000 orang profesional musik di Recording Academy mestinya tidak mudah mengabaikan Beyonce begitu saja. Dengan raihan 22 piala Grammy sepanjang kariernya, Beyonce merupakan musisi besar saat ini.

Namun, jika merunut kembali rekam jejak gelaran Grammy Awards, memang hanya beberapa orang kulit hitam yang pernah meraih penghargaan bergengsi. Diantaranya, Stevie Wonder yang pernah memenangi Album of the Year tiga kali. Sementara, untuk wanita kulit hitamnya hanya ada tiga orang, yakni Natalie Cole, Lauryn Hill dan Whitney Houston.

Kembali lagi ke Lemonade, album yang disertai film itu bermuatan kritis khususnya tentang kondisi masyarakat kulit hitam masa silam. Beyonce juga memperlihatkan kondisi Amerika Serikat kekinian yang masih berhadapan dengan persoalan yang kurang lebih sama.

LaKisha Simmons, asisten profesor studi sejarah dan perempuan di University of Michigan mengungkapkan Lemonade mengusung pesan kuat akan sejarah wanita kulit hitam di masa lampau, dan kondisi kontemporer saat ini.

"Beyonce akan baik-baik saja, akan tetapi saya pikir bagi kita semua, akan menyisakan pertanyaan," tambah dia merujuk pada kekalahan album Lemonade di Grammy Awards. 

Senada dengan Simmons, Kevin Allred, pengajar materi ajar tentang Beyonce di Rutgers University juga menyampaikan pendapatnya tentang Lemonade. "Beyonce benar-benar menantang orang-orang di Recording Academy, dan industri musik," ungkapnya.