Rusia Menolak Tampil Jarak Jauh di Eurovision

Endro Priherdityo, CNN Indonesia | Jumat, 24/03/2017 11:50 WIB
Rusia Menolak Tampil Jarak Jauh di Eurovision Ilustrasi: Tawaran tampil jarak jauh di Eurovision 2017 ditolak Rusia akibat perwakilan negara itu ditolak masuk ke negara tuan rumah tahun ini, Ukraina. (REUTERS/Sergei Karpukhin)
Jakarta, CNN Indonesia -- Stasiun televisi Rusia menolak tawaran penyelenggara Eurovision untuk menampilkan penyanyi perwakilan negara tersebut melalui satelit setelah sang biduan ditolak masuk ke negara tuan rumah ajang itu tahun ini, Ukraina.

"Kami mendapatkan tawaran ikut serta jarak jauh yang aneh dan menolaknya, karena tindakan tersebut bertentangan dengan esensi acara tersebut," tulis pernyataan stasiun televisi Rusia, Channel One.


Pihak keamanan Ukraina pada Rabu (22/3) lalu memberikan larangan masuk kepada kontestan Eurovision dari Rusia, Yuliya Samoilova.


Pelarangan tersebut karena Samoilova pernah masuk dan tampil di Crimea, Ukraina, yang tengah dalam sengketa dengan Moskow, pada 2015 lalu.

Penyelenggara Eurovision, European Broadcasting Union (EBU), telah mengkritisi keputusan Ukraina untuk 'menyisihkan' Samoilova dan berharap putusan itu dapat ditarik.

Sementara itu, EBU berusaha menemukan solusi dalam upaya meredakan pertikaian politik di tengah penyelenggaraan ajang menyanyi lintas negara Eropa itu.

Kepala Eurovision, Jon Ola Sand mengatakan keputusan melarang peserta masuk ke negara tuan rumah ajang tersebut belum pernah terjadi dalam sejarah enam dekade kompetisi menyanyi itu.

Sand juga menyebut penawaran tampil melalui penayangan satelit adalah upaya kompromi untuk memastikan semua seniman dari seluruh negara kontestan dapat berpartisipasi.

"Ini akan jadi pertama kalinya bagi kami melakukan solusi ini, dan semoga hanya satu-satunya," kata Sand.

Di sisi lain, Channel One selaku yang memilih Samoilova mengatakan bahwa EBU tidak harus membuat peraturan baru untuk peserta Rusia pada kontes tahun ini.

Channel One menyebut bahwa peraturan kontes tersebut sudah mengharuskan peserta untuk tampil secara langsung di atas panggung.

Menurut televisi pemerintah Rusia itu, peraturan ini bermakna pihak Eurovision sudah sepatutnya mewajibkan tuan rumah penyelenggara, yaitu Ukraina pada tahun ini, untuk memberikan visa kepada seluruh kontestan.

Pihak Pemerintah Rusia diketahui sempat berharap pertimbangan melarang masuknya Somailova oleh Ukraina dapat dipertimbangkan.

"Keputusan ini dari sudut pandang kami sangatlah tidak adil, ini tidak menguntungkan. Dan kami berharap semua adil dan keputusan tersebut dapat dipertimbangkan kembali," kata juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov.

Samoilova juga berharap hal yang sama ketika diwawancara oleh Channel One.

"Secara keseluruhan saya tidak marah akan hal ini," kata penyanyi 27 tahun itu. "Saya akan tetap melanjutkan hal ini, saya entah bagaimana berpikir semua akan berubah,"

"Saya tidak paham mengapa pihak Ukraina melihat sesuatu yang mengancam dari gadis cilik seperti saya,"

Konflik Eurovision antara Rusia dan Ukraina tidak lepas dari masalah politik internal Ukraina yang kemudian menyeret kasus Crimea.

Crimea menjadi daerah yang dianeksasi oleh Moskow sejak Ukraina mengalami masalah politik. Kondisi ini membuat tensi kedua negara menjadi sensitif.

Kemenangan Ukraina dalam Eurovision tahun lalu menjadikan Kiev sebagai lokasi penyelenggaraan ajang tersebut tahun ini.

Namun dengan kasus Crimea dan penampilan Samoilova di Crimea saat masa sensitif, membuat ketegangan jelang ajang tersebut meninggi.