Punya Duit, Artis Dibidik Bandar Narkotik

Gloria Safira Taylor, CNN Indonesia | Minggu, 26/03/2017 14:28 WIB
Punya Duit, Artis Dibidik Bandar Narkotik Selebriti menjadi sasaran utama pengedar narkoba. (Ilustrasi/CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Narkotika Nasional menyebut kalangan artis adalah sasaran empuk para pengedar narkotik. Gaya hidup para pesohor tersebut ditambah dengan kemampuan keuangan mereka, serta beban kerja berat jadi alasannya.

Menurut Kepala Bagian Humas BNN Ajun Komisaris Besar Sulistiyandriatmoko, peredaran narkotik di kalangan artis sudah lama terjadi. 

"Deputi Pemberantasan BNN sudah ada yang mengidentifikasi bahwa kalangan selebritis itu adalah pasar peredaran yang sangat empuk di mata para pengedar itu," kata Sulis kepada CNNIndonesia.com, Minggu (26/3).


Kasus terbaru penyalahgunaan narkotik oleh artis adalah kasus Ridho Rhoma. Jumat malam lalu ia ditangkap petugas Polres Jakarta Barat dengam barang bukti satu pake sabu 0,7 gram.
Ia mengaku baru saja membeli sabu tersebut sehara Rp1,8 juta. Putra raja dangdut Rhoma Irama ini dinyatakan positif menggunakan sabu. Ridho juga mengaku menggunakan sabu lantaran beban kerja yang demikian berat.

Untuk mencegah semakin maraknya peredaran narkoba tersebut, Sulis mengatakan, BNN akan melakukan kampanye dan sosialisasi di komunitas artis.
"Mengingat dari ditangkapnya Ridho, riwayat penangkapan selebritis yang lain bisa jadi referensi bagi BNN untuk dari sisi pencegahan lebih ofensif lagi dalam memberikan pencegahan di kalangan selebritis," ujarnya.

Sementara itu Kepala Satuan Narkoba Polres Jakarta Barat Ajun Komisaris Besar Suhermanto mengatakan, mahalnya harga narkotik membuat pengedar dan bandar menyasar kalangan berduit seperti artis.
"Itu pengaruh besar, gaya hidup dan finansial. Narkoba sendiri kan mahal, Ridho saja beli 1 gramnya Rp1,8 juta kalau dia candu sehari bisa habis kalau tidak ya dipakai beberapa orang kan cepat habis, hitung saja kalau seminggu pakai 3 gram berapa uangnya," ujarnya.

Kalangan artis menurut Suhermanto, biasanya tidak bertransaksi langsung. Mereka lebih memilih menyuruh orang kepercayaanya untuk bertemu pengedar atau bandar.

Hal ini juga yang terjadi pada Ridho, di mana ia mendapatkan sabu melalui perantara.