Presiden Ukraina Kukuh Larang Peserta Rusia Ikut Eurovision

Endro Priherdityo, CNN Indonesia | Rabu, 05/04/2017 09:53 WIB
Presiden Ukraina Kukuh Larang Peserta Rusia Ikut Eurovision Presiden Ukraina Petro Poroshenko kukuh mempertahankan keputusan melarang kontestan Rusia masuk ke negaranya untuk ikut kontes Eurovision, Mei nanti. (REUTERS/Mykhailo Markiv/Ukrainian Presidential Press Service)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Ukraina Petro Poroshenko mempertahankan keputusan untuk melarang penyanyi Rusia tampil di ajang Eurovision yang akan diselenggarakan di Kiev, Mei nanti.

Melansir AFP, berbicara di Riga, Latvia, Poroshenko mengatakan larangan masuk Ukraina selama tiga tahun yang dibebankan kepada penyanyi Rusia, Yuliya Samoilova ia anggap benar.


Poroshenko mengatakan larangan tersebut disebabkan Samoilova telah masuk ke Crimea, wilayah Ukraina yang dianeksasi Rusia, secara ilegal untuk konser pada 2015 lalu.


"Ukraina mengizinkan masyarakat masuk ke Crimea hanya dengan izin khusus. Bila melakukan sebaliknya, adalah melawan hukum Ukraina," kata Poroshenko. "Ini sudah diketahui oleh pihak Rusia,"

"Kami menawarkan beberapa cara untuk mengatasi masalah ini, dimulai dengan peluang menyiarkan melalui video hingga menawarkan mengirim peserta lain," katanya.


Stasiun televisi Rusia, Channel One selaku yang bertanggung jawab memilih kontestan Eurovision dari negara tersebut menolak tawaran Ukraina bulan lalu untuk ikut serta melalui siaran jarak jauh.

Pihak Channel One mengatakan bahwa penyelenggaraan dengan jarak jauh akan mencederai esensi kontes menyanyi yang sudah ada sejak 1956 itu.

"Rusia tidak ingin berpartisipasi dalam Eurovision namun ingin memprovokasi. Saya senang bahwa berkat tindakan Pemerintah Ukraina, provokasi ini tidak akan terwujud," kata Poroshenko.


Pihak penyelenggara Eurovision telah mengancam melarang Ukraina dari ikut serta di ajang tersebut di masa depan kecuali bila peserta Rusia diizinkan masuk ke negara tersebut dan mengambil bagian dalam acara tahun ini.

Moskow dan Kiev telah berselisih sejak Rusia mencaplok Crimea pada 2014 lalu dan atas keterlibatan Rusia dalam konflik antara tentara Ukraina dengan pemberontak pro-Rusia di kawasan timur negara tersebut.

Hampir 10 ribu orang tewas sejak adanya pemberontakan tersebut.