Ernest sendiri mengikuti film-film Ateng, yang berjaya sekitar 1970 hingga 1980-an.
“Menonton panggungnya juga, yang dia pakai make up segala, Ria Jenaka ya,” ujar Ernest menyebut acara Ateng di TVRI, saat dihubungi CNNIndonesia.com melalui telepon, Jumat (5/5). Dalam acara itu, Ateng yang bertubuh tambun dan kontet berperan jadi Bagong.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ernest terkesan dengan kemampuan serba bisa Ateng.
Ateng dan Bing Slamet pernah tergabung dalam grup lawak Kwartet Jaya. (Dok. Rudy Mulyadi (Repro)) |
Meski mengagumi Ateng, bukan gaya ‘sang Bagong’ yang dianutnya.
"Kalau belajar dari lawakannya dia itu sulit, soalnya format lawakannya berbeda. Bukan kayak Srimulat, jadi tidak ada monolognya, sementara saya pribadi harus monolog. Jadi saya tidak bisa belajar secara ilmu dengan yang dia praktikkan di panggung," ujarnya.
Komedian Beretnis China
Ernest sebenarnya punya kesamaan lain dengan Ateng. Keduanya sama-sama komedian beretnis China. Ernest melihat, meski di zaman Ateng berjaya kondisi belum seterbuka sekarang, ia tidak dibedakan dengan komedi beretnis lain. Tidak ada lebih disukai atau diistimewakan.
"Selama ini saya tidak membeda-bedakan [karena] dia China jadi keren. [Kalau] lucu [ya] lucu, enggak ya enggak. Saya tidak memandang komedian dari rasnya, jadi walaupun dia China tidak ada yang istimewa dengan pelawak-pelawak lainnya," katanya menegaskan.
Tapi Ernest menyadari bahwa adanya etnis China sekarang—termasuk di dunia hiburan—sudah dipandang lebih terbuka. Ia sendiri sudah tidak pernah mengalami diskriminasi saat berkarier di industri televisi maupun film. Kalau bisa membuat orang tertawa, bagus.
Pria 35 tahun itu bahkan kini lebih berani membahas kehidupannya sebagai etnis China dalam komedi yang dia bawakan, termasuk mengutarakannya lewat film. Materinya lebih personal.
“Kita harus jujur, materi yang personal, sangat diri sendiri, yang kita rasakan, resahkan. Itu [soal kehidupan sebagai etnis China] menjadi materi awal, di dua tiga tahun pertama, lama-lama ya habis juga," kata Ernest yang juga membuat film Ngenest dan Cek Toko Sebelah.
"Mediumnya bukan hanya stand up, tapi kayak Cek Toko Sebelah itu bisa sebagai medium untuk mengutarakan pernak-pernik keluarga etnis China," tutur dia lebih lanjut.
Tidak dipungkiri, menurut Ernest, di masa lalu hal itu cukup sensitif. Etnis China cukup merasa terintimidasi. Jangankan bisa mengutarakan kehidupan mereka lewat komedi, sekadar merayakan Imlek pun tidak bisa. Fakta demikian terjadi di banyak aspek kehidupan.
"Sekarang sudah lebih bebas banget, dulu lebih berhati-hati. Bahkan Orde Baru ‘mengavlingkan’ orang China itu bisnis dagang, tidak ke aspek-aspek lain, jadi lebih dibatasi. Sekarang sudah tidak, bila masih berbisnis itu warisan. Tapi ke ranah lain industri kreatif, film komedi fesyen, nyanyi, sekarang sudah marak, gampang mencari komedian, aktor, publik figur yang Chinese," ujarnya menjabarkan.
Karena itu, Ernest menyemangati pemuda China untuk mengeksplorasi bidang apa pun yang mereka inginkan. Seperti Ateng mengeksplorasi semua bakatnya di dunia hiburan.
“Sekat itu sudah tak relevan lagi, apapun yang kamu inginkan, ya lakukanlah,” ujar Ernest.
Ateng dan Bing Slamet pernah tergabung dalam grup lawak Kwartet Jaya. (Dok. Rudy Mulyadi (Repro))