Aturan hukum di Libanon memboikot semua produk Israel dan mencegah warganya memiliki kontak apa pun dengan warga Israel, termasuk mengunjungi negara itu.
Berdasarkan laporan Arab News, seorang sumber lokal mengatakan bahwa terkait aturan itu, Kementerian Ekonomi di Libanon mengambil tindakan dengan mencegah penayangan film DC Comics dan Warner Bros. itu. Meski begitu, sampai saat ini pelarangan belum diberlakukan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Libanon secara resmi telah berperang dengan Israel selama beberapa dekade melalui sejumlah konflik berdarah, termasuk yang paling besar pada 2006. Saat itu peperangan menyebabkan ratusan warga Libanon tewas dan infrakstruktur utama di negara bagian itu hancur.
Anehnya, meski Libanon punya larangan terhadap produk budaya Israel seperti yang hendak diaplikasikan pada Wonder Woman, itu tidak berlaku bagi film-film yang dibintangi Gadot sebelumnya. Batman V Superman dan The Fast And The Furious masih boleh tayang.
Hanya Wonder Woman yang, bukan hanya dari Kementerian Ekonomi, juga menuai protes dari masyarakat. Sebuah kelompok yang disebut 'Campaign to Boycott Supporters of Israel-Lebanon' adalah yang memelopori upaya agar Wonder Woman dilarang.
Mereka mengatakan bahwa Gadot, yang terdaftar di Angkatan Bersenjata Israel sebagai pelatih tempur, menyatakan dukungannya terhadap Israel yang berkampanye melawan Hizbullah tiga tahun lalu. Kelompok militan Islam itu diketahui berbasis di Libanon.
Di Indonesia sendiri, pernah ada kampanye boikot produk Israel. Namun, Wonder Woman tetap tayang di bioskop mulai hari ini, Rabu (31/5).