Ulasan Film: 'Gerbang Neraka'

Puput Tripeni Juniman, CNN Indonesia | Kamis, 21/09/2017 11:55 WIB
Ulasan Film: 'Gerbang Neraka' Gerbang Neraka bisa disaksikan di bioskop Indonesia pada 20 September 2017. (Dok. Legacy Pictures)
Jakarta, CNN Indonesia -- Berlatar penemuan situs Gunung Padang, Cianjur, Jawa Barat pada 2014 lalu, Robert Ronny menggaet sutradara andal Rizal Mantovani untuk meracik film horor bergenre petualangan, Gerbang Neraka (Firegate).

Film itu langsung dieksekusi pada 2015 dengan bermodalkan riset yang dalam hingga materi artis nan mumpuni. Aktor serba bisa Reza Rahadian, Dwi Sasono dan aktris Julie Estelle didapuk jadi pemeran utama.

Ronny dan Rizal mengembangkan karakter Reza, Dwi dan Julie dari semboyan imperialisme kuno: gold (kekayaan), glory (kejayaan) dan gospel (penyebaran agama).



Reza yang berperan sebagai Tomo diidentikkan dengan gold, seorang jurnalis yang materialis dan bekerja demi uang untuk menghidupi anaknya.

Tokoh Dwi dibuat agak jenaka dengan peran sebagai paranormal Guntur Samudra yang mencari kejayaan lewat popularitas dari hal-hal yang berhubungan dengan klenik.

Sedangkan Julie menjadi Doktor Arni, seorang dosen arkeologi yang dipercaya meneliti Gunung Padang. Sosok Arni merupakan lambang dari gospel yang dalam konteks ini memiliki makna penyebaran ilmu alih-alih agama.

Reza Rahadian menjadi jurnalis di Gerbang Neraka.Reza Rahadian menjadi jurnalis di Gerbang Neraka. (Dok. Legacy Pictures)
Walau berbeda visi, Tomo, Dwi dan Arni terpaksa bersatu mengungkap misteri Gunung Padang yang kian banyak menunjukkan hal-hal ganjil. Mulai dari kematian yang tak wajar hingga kemunculan makhluk-makhluk aneh.

Mereka bertualang menguak teka-teki yang berujung pada Gerbang Neraka. Penanda keselamatan atau kehancuran umat manusia.

Misteri situs prasejarah di zaman megalitikum itu disajikan secara fiktif, namun tetap berpegang pada fakta. Tentu saja, hantu dan hal gaib merupakan hal rekaan.


Kemampuan berakting para bintang utama yang tak perlu diragukan lagi membuat film itu kuat. Di awal, penonton dibuat kaget karena sosok Arni dan Guntur tampil berbeda dari keseharian atau peran-peran Julie dan Dwi sebelumnya.

Namun, lambat laun mereka tampil meyakinkan lewat pendalaman adegan dan dialog. Hanya saja, beberapa adegan seharusnya bisa dibuat lebih dramatis secara natural untuk menguatkan cerita petualangan.

Di sisi lain, Gerbang Neraka juga seolah kehilangan momentum. Fenomena situs Gunung Padang saat ini sudah tak lagi jadi perbincangan. Padahal, film ini dieksekusi saat isu itu sedang hangat-hangatnya pada 2015 lalu. Jika Gerbang Neraka ditayangkan saat itu, mungkin saja akan meledak.

Julie Estelle menjadi arkeolog di Gerbang Neraka.Julie Estelle menjadi arkeolog di Gerbang Neraka. (Dok. Legacy Pictures)
Tertundanya perilisan film itu disebabkan proses penyuntingan Computer Generated Imagery (CGI) yang memakan waktu lama hampir dua tahun karena kurangnya dana. Sayangnya, sudah mengorbankan dua tahun hasilnya masih tetap belum mulus.

Meski demikian, tetap saja keberanian Ronny dan Rizal mengeksplorasi cerita dari situs Gunung Padang patut diapresiasi. Boleh dibilang ini merupakan film horor pertama Indonesia dengan sentuhan avontur serupa serial Mummy dari Hollywood.

Jika Mummy berangkat dari Piramida Giza di Mesir, maka Gerbang Neraka diangkat dari Piramida Gunung Padang yang konon usianya jauh lebih uzur dari Piramida Giza.


Di penghujung kisah, Ronny dan Rizal pun menyelipkan pesan subliminal lewat akhir dari tiga karakter utama. Penonton diharapkan bisa mengambil pesan moral tersirat itu.

Kini, Gerbang Neraka mesti bersaing dengan beberapa film horor Indonesia lainnya yang tengah bangkit seperti Pengabdi Setan, Petak Umpet Minako dan Hantu Jeruk Purut Reborn.

Sensasi ketegangan menguak misteri Gunung Padang sudah bisa disaksikan sejak 20 September di bioskop.

[Gambas:Youtube]