Endro Priherdityo
Jurnalis CNN Indonesia kelahiran Jakarta, menyelesaikan studi di Institut Pertanian Bogor dan hobi mengomentari segala yang terjadi di sekitarnya.

Yon Koeswoyo, Koes Plus, dan Bahagia yang Sederhana

Endro Priherdityo, CNN Indonesia | Sabtu, 06/01/2018 07:50 WIB
Yon Koeswoyo, Koes Plus, dan Bahagia yang Sederhana Ilustrasi Yon Koeswoyo. (Detikcom/Hasan Alhabshy)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kabar meninggalnya Yon Koeswoyo pada Jumat (5/1) pagi menjadi semacam panggilan sendu akan kenangan semasa kecil. Akan ingatan tentang ibu dan nada-nada sederhana yang membawa kebahagiaan.

Saya lahir 20 tahun setelah Koes Plus dan Yon Koeswoyo melewati masa kegemilangan, tapi karya mereka adalah lagu yang pertama kali yang saya dengar.

Ibu saya adalah penggemar Koes Plus. Saya ingat, ibu memiliki sejumlah kaset fisik band yang didirikan 1969 tersebut. Ibu pun selalu memutar lagu itu -dan enggan menggantinya walau saya merengek karena bosan- setiap kali ada kesempatan pergi bersama keluarga.

Berkat itu saya mengetahui sejumlah lagu Koes Plus.

Bahkan sebelum saya genap berusia 10 tahun, lagu-lagu mereka sudah saya kenal. Misalnya saja Bunga di Tepi Jalan, Andaikan Kau Datang, Kolam Susu, Why Do You Love Me, Bis Sekolah, Kisah Sedih di Hari Minggu, Buat Apa Susah, Kapan-Kapan, Diana, hingga Jemu.

Semua lagu itu sudah saya lahap bahkan sebelum mendengar lagu musik yang tren di era 90-an seperti Base Jam, Lingua, Sheila On 7, dan seangkatannya.

Bagi saya, karya Koes Plus tertanam dalam alam bawah sadar. Ketika sepenggal nada atau bait dibawakan, entah oleh siapa pun itu, kenangan saat mendengar lagu itu semasa kecil akan selalu muncul.

Koes Plus nyatanya telah meninggalkan banyak kesan mendalam dalam diri.

Lagu Bunga di Tepi Jalan, misalnya. Gema suara Yon Koeswoyo menyanyikan lagu itu dengan nuansa ceria nan riang amat membekas dalam benak. Bahkan, ketika melihat bunga -apa pun itu- yang tumbuh di tepi jalan, secara otomatis saya akan menyanyikan lagu tersebut.

Lagu Buat Apa Susah punya makna lain lagi. Lagu itu bagi saya selalu menjadi penghibur di kala jenuh atau pun dalam perjalanan, bernyanyi bersama teman atau keluarga, berkaraoke.

Bahagia ternyata sesederhana itu.

Secara tak langsung saya merasa Koes Plus, melalui lagu-lagunya, menemani kehidupan hingga dewasa.

Bahkan ketika memasuki masa remaja dengan banyak lagu hit dari Peterpan, Radja, Nidji, D'Masiv, ataupun lagu pop hit dari barat seperti Lady Gaga, Britney Spears, Hoobastank, Ne-Yo, dan sebagainya, lagu Koes Plus tetap jawara.

Ketika Ruth Sahanaya membawakan kembali Andaikan Kau Datang pada 2004 dengan memukau, lagu itu tetap terasa sebagai milik Koes Plus.

Pun hingga Armand Maulana dengan suara seraknya menggubah lagu Jemu menjadi bernuansa rock yang kental. Nyawa Koes Plus yang blues tak sepenuhnya hilang.

Saya pikir, kesederhanaan lirik dan nada Koes Plus yang melekat dalam kehidupan sehari-hari menjadi semacam penawar di tengah lirik-lirik lagu modern yang mengagungkan cinta dan seks.

Koes Plus, melalui lagunya, mengajarkan bahwa bahagia bisa diraih lewat sesuatu hal-hal biasa. Sesederhana melihat bunga di tepi jalan yang gersang. Sebersahaja harapan bisa bertemu kembali dengan orang yang kita sayang.

Hal ini yang mungkin membuat Koes Plus, dan Yon Koeswoyo, akan selalu ada di hati para pendengar dan penggemarnya.

Bahkan, ketika usia yang ke-64 tahun secara perlahan membuat memori ibu saya luntur, ia tak pernah lupa dengan Yon Koeswoyo.

Namun roda waktu memang terus berputar. Para personel Koes Plus pun satu per satu telah meninggalkan dunia fana. Saya pribadi bersyukur pernah merasakan kebahagiaan yang sederhana dari lagu Koes Plus, sesuatu yang entah generasi mendatang dapatkan atau tidak.

Kepergian Yon Koeswoyo pada pagi ini pun terasa menegaskan Koes Plus pun tak dapat selamanya abadi. Namun bagi saya, tak akan pernah ada yang dapat menggantikan Koes Plus dan Yon Koeswoyo.

Selamat jalan, Om Yon. (vws)
LEBIH BANYAK DARI KOLUMNIS