Ulasan Film: 'Insidious: The Last Key'

Endro Priherdityo, CNN Indonesia | Sabtu, 06/01/2018 06:01 WIB
Ulasan Film: 'Insidious: The Last Key' Leigh Whannell dan James Wan tampak bekerja keras untuk mempersiapkan kisah 'Insidious: The Last Key.' (Dok. Sony Pictures Releasing International/Universal Pictures)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bagi penonton yang merasa Insidious: Chapter 3 yang rilis 2015 lalu merasa tak terpuaskan, kini pada Insidious: The Last Key, setidaknya perasaan itu sedikit terobati.

Leigh Whannell dan James Wan sebagai penelur kisah seri Insidious tampaknya benar-benar bekerja keras untuk mempersiapkan serial sekuel, atau kelanjutan dari babak ke-3 kisah Insidious ini.

Tak seperti dua sekuel lainnya yang mengambil terminologi 'babak' alias 'chapter', seri ke-4 dari Insidious ini memilih tajuk khusus 'The Last Key'.


Disusun kombinasi horor dengan imaji kriminal, film ini bak jadi kunci yang menghubungkan kompleksitas serial Insidious.
Belum lagi, Whannell dan Wan mencoba mengembalikan kembali nuansa horor yang membekas sejak menonton Insidious babak pertama.

Sebelum memulai kisah The Last Key, Whannell yang kembali duduk fokus menulis kisah horor ini memberikan gambaran singkat sebuah kejadian di kota bernama Five Keys, New Mexico, pada 1950-an.

Gambaran kehidupan tersebut berlatar di sebuah lembaga pemasyarakatan. Di sebuah rumah sipir lapas tersebut, seorang anak perempuan kecil memiliki kehidupan yang rumit akibat kemampuannya melihat makhluk halus.

Setelah cukup menggambarkan sebuah kisah memilukan nan menegangkan, bahkan di 10 menit awal 'The Last Key', Whannell dan sutradara Adam Robitel melempar penonton ke era 2010-an.

[Gambas:Youtube]

Di era ini, sang cenayang Elise Rainer (Lin Shaye) kembali aktif membuka jasa bantuan terhadap gangguan makhluk halus setelah pengalamannya masuk kembali ke The Further pada Insidious: Chapter 3.

Namun ia tak sendiri. Kini, Elise ditemani duo sahabat Tucker (Angun Sampson) dan Specs (Leigh Whannell). Kedua pria yang kadang bertingkah konyol itu resmi bergabung dengan Elise membuka jasa menghadapi gangguan gaib.

Semua tampak normal hingga sebuah telepon permohonan bantuan membuat Elise harus menghadapi masa lalu kembali, demi masa depannya sendiri.

Peran Elise sang cenayang semakin dominan sejak di Chapter 3. Hal ini pun semakin tegas dalam kelanjutan prekuel kisah Insidious ini. Bahkan, film ini dapat dikatakan dibuat khusus tentang Elise, dan kunci penting peranannya dalam serial Insidous.

Perubahan serupa juga terjadi pada duo Tucker dan Specs. Mereka memiliki peran lebih dalam The Last Key. Meski, kehadiran mereka sejatinya hanyalah pengendur saraf tegang mengikuti insting mistis Elise.

Walau memiliki perbaikan dibanding seri sebelumnya, The Last Key juga masih memiliki sejumlah pertanyaan. Namun, itu bisa dianggap sebagai 'godaan' dari Whannell dan Wan atas peluang pengembangan dunia Insidious selanjutnya.

[Gambas:Instagram]

Sejak dirilis perdana pada 2010, Insidious telah menarik minat penonton horor. Kisah setan gentayangan yang diberikan bumbu jumpscare secara klasik ini menjadi penyegar dari kejenuhan bentuk film horor di Hollywood.

Kisah debut soal seorang anak bernama Dalton yang mampu berjalan-jalan di dunia lain ini sanggup mendulang US$97 juta dari bujet hanya US$1,5 juta.

Hingga Chapter 3, serial Insidious telah mengumpulkan pendapatan lebih dari US$371 juta dari total bujet hanya US$26,5 juta. (end)


BACA JUGA