Ilham Priananda
Dikenal juga sebagai Ham Prand, Ilham Priananda adalah seorang kolektor Oasis sejak umur 12 tahun. Ia menjadi pemilik museum Oasis pertama di dunia yang bernama MolekLane Museum. Sebagian besar hidupnya ia dedikasikan untuk band asal Inggris itu

Kejar Oasis Sampai ke Bandara, Sepatu Langka Kudapat

Ilham Priananda, CNN Indonesia | Minggu, 14/01/2018 15:35 WIB
Kejar Oasis Sampai ke Bandara, Sepatu Langka Kudapat Ilham Priananda dan koleksi Oasisnya. (CNN Indonesia/M. Andika Putra).
Jakarta, CNN Indonesia -- Bisa dibilang ini adalah minggu saya yang sangat padat tentang Oasis dan keluarga Gallagher.

Minggu lalu, Rian D’Masiv dan Abe dari Nada Promotama (promotor konser Liam Gallagher di Jakarta) mengunjungi MolekLane Museum. Hari Senin setelahnya, giliran pihak sponsor event Liam Gallagher yang datang, menyewa beberapa koleksi museum untuk dipamerkan di konser Liam pada Minggu besok (14/1).

Dua hari kemudian saya diundang ke acara televisi untuk mengisi segmen tentang Oasis.

Saat itu saya membawa 15 barang langka Oasis, termasuk majalah NME 1995 Blur vs Oasis dan sepatu Adidas Noel Gallagher yang bertanda tangan di dua sisi.

Sepatu langka yang ditandatangani Noel Gallagher.Sepatu langka yang ditandatangani Noel Gallagher. (Dok. Ilham Priananda)
Entah ‘kejutan Oasis’ apa lagi yang akan terjadi hari-hari ke depan.

Tidak semua orang tahu sejarah saya bersama Oasis, kecuali orang-orang di lingkungan dekat kehidupan saya. Dari mana sebenarnya benda langka dan sepatu itu?

Saya mengoleksi pernak-pernik Oasis sejak 18 tahun lalu. Pada 2013 saya mendirikan museum Oasis pertama di dunia: MolekLane Museum. Setiap tahun koleksinya selalu bertambah. Isinya pun bukan sekadar pernak-pernik biasa. Ada pula barang-barang langka yang memburunya susah.

Nama museum saya rupanya cukup bergaung di kalangan penggemar Oasis. Sudah banyak yang berkunjung, dari dalam maupun luar negeri.

Sebagai kolektor Oasis, saya pun pernah mengikuti dan membuat Oasis Exhibition di Indonesia, Inggris dan Jepang. Pretty Green Japan bahkan tertarik mengundang saya mengadakan Oasis Exhibition di sana. Bocoran: bisa 2018 atau 2019. Tergantung kesiapan saya.

Oasis Exhibition di Jepang pada 2017.Oasis Exhibition di Jepang pada 2017. (Dok. Ilham Priananda)
Barang-barang koleksinya, termasuk sepasang sepatu Noel yang saya bawa ke sebuah stasiun televisi itu. Beberapa didapat dari pertemuan langsung dengan personel Oasis, yang memang beberapa kali pernah saya temui.

Tapi yang paling berkesan adalah saat saya terakhir bertemu Noel Gallagher pada 2015 pada suatu musim semi di London.

Pagi hari itu saya memutuskan berangkat ke Terminal 5 bandara London untuk menjumpai Noel yang akan berangkat ke Korea untuk memulai tur Asia-nya.

Kebetulan Brian Garcia, seorang kolektor Oasis nomor satu di dunia sedang menginap di tempat saya selama beberapa hari. Dia akan mengambil koleksi award Oasis, sementara saya mencari Noel ke bandara.


Saya sudah menebak pukul berapa Noel akan berangkat ke Korea. Pilihannya saat itu: saya singgahi rumah Noel atau mencoba peruntungan berjumpa di bandara. Saya pilih ke bandara.

Terminal 5 tempat Noel embarkasi itu sangat luas dan panjang, butuh sekitar 10 menit untuk berjalan dari titik awal ke titik akhir, begitu pun sebaliknya. Selama tiga jam saya terus mondar-mandir. Mungkin ketika saya berjalan ke Gate D, Noel di Gate H, begitu pikir saya.

Saya akhirnya memutuskan, duduk saja di tengah sekalian istirahat. Bila satu putaran lagi tidak ada Noel, saya pulang saja. Padahal sebelumnya saya sudah menempuh satu jam perjalanan dari rumah saya di Oakhampton Road ke bandara.

Saat duduk, kaki saya terus bergerak tidak tenang. Kepala dan bola mata terus berkejaran dari kanan ke kiri. Hingga pada suatu titik di kiri, saya melihat teknisi gitar Tim Smith berjalan melewati saya ke arah kanan. Saya menahan napas dan berjalan mengikuti dia beberapa langkah di belakang, karena saya tidak kenal dengan teknisi yang satu ini.

[Gambas:Youtube]

Saya berjalan sangat perlahan dan mencoba agar dia tidak sadar diikuti. Kalau sadar, bisa saja dia belok arah dan sengaja membuat saya tersasar. Satu demi satu gate dilewati, hingga menuju gate paling akhir.

Di situ saya berpikir: sial, sepertinya dia sadar dan mengerjai saya.

Tapi saya tetap fokus dan tenang. Hingga akhirnya, saya melihat Russel dan Tim sedang check-in. Di situ semangat mencuat kembali. Kaki yang pegal mondar-mandir selama berjam-jam berasa kembali terisi energi.

Belum sampai ubun-ubun, saya melihat Noel berjalan masuk ke arah lounge bersama bodyguard-nya setelah check-in. Saya langsung menghampiri dan menyapanya dari jarak kurang lebih 10 meter.

Noel sadar ada satu penggemarnya di sana. Saya.

Foto bersama Noel Gallagher di bandara di London.Foto bersama Noel Gallagher di bandara di London. (Dok. Ilham Priananda)
Karena tidak punya waktu lama, saya hanya mengatakan selamat jalan dan mengucapkan terima kasih karena memberikan saya kesempatan datang di private gig pada hari sebelumnya bersama kurang lebih 100 penggemar lainnya.

Tak dinyana, dia bertanya barang apalagi yang saya bawa untuk ditandatangani.

Tak menyia-nyiakan kesempatan, saya menyodorkan sisi kanan sepatu Adidas Noel. Kenapa sisi kanan? Di hari sebelumnya saya sudah dapat tanda tangan di sepatu kiri. Selain itu, saya juga membawa kaset single Morning Glory dan piringan hitam 10 Years of Noise and Confusion.

Noel bilang barang-barang tersebut langka. Ya tentu saja saya akan memilih membawa sesuatu yang langka untuk ditandatangani. Pengalaman saya belasan tahun sebagai kolektor Oasis memberi saya banyak pengetahuan tentang barang koleksi. Saya tahu mana yang berharga.


Setelah pertemuan dengan Noel, saya pulang dengan perasaan sangat gembira. Saya berhasil menjumpai dia di tempat yang sangat luas dengan peluang bertemu sangat kecil, apalagi tanpa ada informasi keberadaan pasti.

Pertemuan itu takkan saya lupakan seumur hidup.

Begitu juga dengan pertemuan saya dengan Liam Gallagher.

Pernah suatu malam, usai berbelanja rekaman, saya dan teman-teman penggemar Oasis minum-minum di sebuah bar di London utara. Baru beberapa saat kemudian kami sadar di sana juga ada Liam. Beruntung, saya punya CD What’s the Story Morning Glory di dalam tas.

[Gambas:Instagram]

Saya minta Liam tanda tangan di CD itu.

Kali lain, saya juga pernah bertemu Liam yang sedang olahraga. Tempat tinggal kami memang satu area.

Hari ini saya akan kembali bertemu Liam di konsernya di Jakarta. Saya sudah membeli tiket, meski beberapa koleksi saya disewa penyelenggara konser itu. Saya memang lebih ingin fokus pada menonton konser kali ini. Tidak mau terlalu ngoyo mengejar Liam.

Bagaimana tidak, ini konser pertama yang saya tonton di Indonesia. Saya memang pernah punya janji konyol ke diri sendiri: tidak bakal menonton konser di Indonesia kalau belum menonton Oasis, Liam atau Noel menyanyi di panggung kampung halaman saya.

Ternyata janji ngasal saya kesampaian. Liam datang. Pengalaman saya menonton konser di Indonesia pun pecah telur. (rsa/stu)
LEBIH BANYAK DARI KOLUMNIS