Aksi Porno Joged Bumbung Dikhawatirkan 'Menggelitik' UNESCO

Rizky Sekar Afrisia, CNN Indonesia | Jumat, 16/02/2018 02:21 WIB
Budayawan dan akademisi Bali khawatir jika praktik erotis Joged Bumbung terus marak, UNESCO akan mencabut status budaya tarian-tarian Bali lainnya. Status tarian Bali sebagai Warisan Budaya Tak Benda UNESCO bisa dicabut jika Joged Bumbung yang erotis terus marak. (Ilustrasi/CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tarian yang belakangan marak di pura-pura di Kabupaten Gianyar, Bali dianggap merusak tradisi. Budayawan Profesor Dr Wayan Dibia bahkan khawatir tarian itu bakal membuat UNESCO 'tergelitik' lalu mencabut status Tari Joged Bumbung Bali sebagai Warisan Budaya Tak Benda.

Pasalnya, tarian yang banyak diliukkan sekarang pembawaannya jauh lebih tak senonoh.

"Joged jaruh [tarian yang dibawakan dengan cara porno] ini jika dibiarkan begitu saja, kami khawatirkan, status sembilan tarian Bali yang ditetapkan badan organisasi UNESCO, khususnya Joged, bisa dicabut," kata Dibia di Denpasar, Kamis (15/2), dikutip Antara.



Ia pun mengimbau agar ruang joget tradisional lebih diperbanyak. Apalagi Kabupaten Gianyar dikenal sebagai daerah seni. Seharusnya tari tradisional lebih menonjol di sana.

"Gianyar itu basis joget tradisi. Joged di sana jangan melayani joged jaruh. Penari juga jangan lagi melayani joged jaruh. Joged itu ditampilkan, di ruang yang tepat, jangan tampilkan joged saat odalan [ritual di pura]," ujar Guru Besar ISI Denpasar itu.

Budayawan Profesor Dr I Made Bandem bahkan mengaku siap memprotes YouTube.

"Caranya melibatkan mahasiswa, pelajar, untuk mengikuti peretasan upaya legal reporting (pelaporan) dan flagging (penandaan) secara serentak," ucapnya.


Menurutnya, jika banyak yang memprotes, YouTube bisa langsung menghapusnya.

Tari Joged Bumbung yang marak di YouTube belakangan memang berbeda dari akar tradisionalnya. Penari tunggal yang selalu berjenis kelamin perempuan, mengajak salah satu penonton laki-laki untuk berjoget di hadapan publik. Namun joget mereka mengarah ke porno.

Penari perempuan meliukkan tubuhnya terlalu dekat dengan lawannya. Mereka juga mempraktikkan gerakan-gerakan tak senonoh yang bahkan mengarah ke seksual.


Atas fenomena itu, Ketua Majelis Utama Desa Pakraman Provinsi Bali Jero Gede Putus Suwena Upadesha mengatakan untuk menghentikan Joged jaruh diperlukan aksi atau tindakan nyata.

"Kami mengajak pemimpin desa pakraman [desa adat] berkoordinasi dengan aparat kepolisian, TNI tingkat desa, agar berbuat lebih serius mengawasi joget ini agar tidak menyalahi etika karena joged jaruh ini sejatinya adalah penistaan budaya. Kami mendorong untuk membuat perarem [aturan adat tertulis], buatkan sanksi. Jangan dibiarkan," ujar Suwena.

Dewa Megawasa dari Polda Bali menambahkan, untuk menuntaskan joged jaruh perlu sosialisasi hukum. Sebab menurutnya pembinaan saja tidak akan mempan. Joget itu melanggar batas kesopanan, sehingga harus harus berhadapan dengan hukum secara formal.


"Baik UU yang diatur dalam KUHP, ITE bahkan UU Kebudayaan dengan ancaman hukuman penjara hingga denda miliaran rupiah, " kata Dewa Megawasa. Saat ini, katanya, sudah ada kasus tarian porno yang ditangani kepolisian. Kini tugas ada di Dinas Kebudayaan Provinsi Bali.

Mereka diimbaunya membina dan memantau seluruh komponen masyarakat di Bali.

Joged Bumbung sendiri aslinya merupakan tari pergaulan masyarakat Bali. Konon, tarian itu sudah ada sejak 1940-an. Awalnya tari itu dibawakan di pedesaan-pedesaan saat para petani melepas lelah. Namun belakangan terjadi pergeseran dalam gerakannya.


"Yang harusnya ngegolnya [bergoyangnya] hanya ke kiri dan ke kanan, kini malah maju ke depan dan ke belakang. Nah, hal inilah yang sangat kami sayangkan," ujar Koordinator Tim Kesenian Joged Banjar Antap yang kerap membawakan Joged Bumbung, Putu Juniarta.

Penari Joged Bumbung memang biasanya perempuan berparas cantik. Tak jarang pula, penonton pria tertarik ikut menari. Mereka juga akan mempraktikkan gerakan menggoda. Namun sebenarnya di sanalah profesionalisme penari diuji. Jangan sampai ia tergoda.

Ia harus bisa mengatasi pengibing (penonton yang diajak menari) yang nakal dengan menjaga suasana tetap santun, tanpa menghilangkan unsur menghibur dari tarian itu.

Joged Bumbung bisa dibuat tak sensual.Joged Bumbung bisa dibuat tak sensual. (CNN Indonesia/Edo Hary Purnomo)
Dari akarnya, Joged Bumbung memang tarian yang bersifat partisipatif. Penarinya memang mengajak penonton menari bersama. Namun unsur hiburan dan kesopanan seharusnya dipertahankan, alih-alih unsur erotis yang mengarah ke pornoaksi. (Antara/rsa)